KlikMojok – Dinginnya air Sungai Sekayu memeluk erat tubuh Arif Effendi, menelan cahaya dan suara di permukaan, menggantinya dengan keheningan pekat dasar sungai. Tanpa peralatan selam memadai, hanya berbekal naluri dan keberanian, pria warga setempat itu memberanikan diri menyusuri kegelapan sedalam lima meter. Misinya: menemukan sesosok bocah berusia lima tahun yang terseret arus dan menghilang di kedalaman pada Jumat, 9 Oktober 2026, di Desa Nambangrejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo.
Pencarian itu bukanlah perkara mudah. Setiap sentimeter dasar sungai adalah labirin batu dan lumpur, menyembunyikan harapan sekaligus ancaman. Setelah beberapa saat berjuang melawan tekanan air dan keterbatasan pandangan, jemari Arif menyentuh sesuatu yang asing, namun terasa familier—sebuah bagian tubuh yang kecil, terjepit di sela-sela batu padasan. Itu adalah tubuh sang bocah. Namun, tantangan belum usai. Tubuh korban tersangkut erat, memerlukan upaya ekstra untuk melepaskannya sebelum bisa diangkat ke permukaan.
Arif bercerita, ia baru mengetahui insiden tragis ini setelah pulang kerja. Kabar tentang seorang bocah yang tenggelam di sungai dengan cepat menyebar dan sampai di telinganya. Tanpa menunggu lebih lama, ia bergegas menuju lokasi. Setibanya di sana, suasana tegang menyelimuti tepian sungai. Sejumlah warga telah berkumpul, beberapa di antaranya bahkan sudah mencoba menyelam namun belum membuahkan hasil. Keadaan genting itu mendorong Arif untuk ikut serta, terjun ke dalam air yang dingin dan keruh.
Di tengah pencarian yang penuh harap-harap cemas, saat menyusuri dasar perairan, Arif akhirnya merasakan keberadaan korban. “Saya tadi nyelam, terus kerasa ada tangannya, tetapi saya coba tarik tidak bisa,” ungkap Arif, menggambarkan detik-detik menegangkan penemuan itu. Ia menjelaskan, kesulitan menarik tubuh korban bukan tanpa sebab. Bagian kaki bocah itu, ternyata sedang terjepit kuat di padasan, semacam bebatuan dasar sungai. Kondisi ini menuntut Arif untuk melakukan manuver rumit di bawah air.
Dengan segala upaya, Arif berusaha membebaskan kaki korban dari jepitan maut tersebut. “Saya keluarkan dulu kaki yang terjepit, baru saya angkat ke atas. Tadi nyepit di padasan itu,” katanya, menceritakan proses evakuasi yang penuh perjuangan. Setelah berhasil melepaskan jepitan itu, Arif kemudian dengan perlahan membawa tubuh kecil itu kembali ke permukaan air, mengakhiri pencarian yang berlangsung sekitar satu jam sejak pukul 09.30 WIB.
Meski tanpa peralatan selam yang memadai, keberanian Arif telah menjadi kunci keberhasilan evakuasi. Sebuah tindakan heroik yang lahir dari rasa kemanusiaan mendalam. Ironisnya, Arif mengaku tak tahu persis bagaimana korban bisa tenggelam. Informasi yang ia terima hanya menyebutkan bahwa bocah tersebut diduga sedang mandi di sungai. Padahal, menurutnya, lokasi itu lebih dikenal warga sebagai tempat memancing, bukan tempat yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain air.
Kapolsek Sukorejo, Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono, kemudian mengonfirmasi detail tragis ini. Bocah yang akrab disapa Sabil itu ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di aliran Sungai Sekayu, Dukuh Tengah, Desa Nambangrejo. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa Sabil bermain bersama dua temannya tanpa pengawasan orang dewasa. Diduga, korban tenggelam karena tidak bisa berenang, sementara kedalaman sungai mencapai sekitar lima meter. Kejadian ini menjadi pengingat pahit tentang risiko di sekitar kita.
Kisah Arif adalah potret keberanian yang menyentuh, namun di baliknya tersimpan luka mendalam dan peringatan keras bagi kita semua tentang pentingnya pengawasan terhadap anak-anak. Kepolisian pun mengimbau agar para orang tua meningkatkan pengawasan demi mencegah terulangnya kejadian serupa. Tragedi di Sungai Sekayu ini bukan hanya cerita tentang penyelamatan heroik, tetapi juga sebuah pelajaran berharga tentang keselamatan dan tanggung jawab kolektif dalam melindungi generasi penerus kita.












