KlikMojok – Siang itu, Kamis (8/10/2026), di bawah terik matahari yang menyengat, kepulan asap mulai membumbung dari kawasan Jalan Jembatan Widuri, Desa Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan, Kabupaten Bondowoso. Apa yang bermula sebagai titik kecil, segera membesar menjadi kobaran api yang melahap lahan dan rumpun bambu di bantaran sungai, menciptakan adegan dramatis yang akan menguji ketangguhan para petugas selama hampir lima jam. Peristiwa kebakaran lahan Bondowoso ini menjadi pengingat akan kerentanan alam di musim kemarau.
Musim kemarau seringkali membawa serta ancaman laten: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Bondowoso, ancaman ini menjadi kenyataan ketika api mulai menjalar sekitar pukul 13.00 WIB, dengan cepat meluas hingga area sekitar 30 meter persegi. Bukan sekadar lahan kosong yang terbakar, tetapi juga rumpun bambu yang rapat di tepi sungai, menciptakan bahan bakar alami yang mempercepat penyebaran api.
Respons tanggap darurat segera diaktifkan. Kristanto Putro Prasojo, Kalaksa BPBD Kabupaten Bondowoso, menjelaskan bahwa laporan dari masyarakat diterima via WhatsApp pada pukul 15.28 WIB. “Setelah menerima laporan, tim BPBD Bondowoso yang terdiri dari TRC dan Pusdalops langsung bergerak menuju lokasi untuk melakukan asesmen dan penanganan,” kata Kristanto, Kamis malam. Namun, perjalanan menuju lokasi bukanlah tanpa hambatan. Sesampainya di sana, petugas dihadapkan pada medan yang sulit: kobaran api berada di bantaran sungai dengan akses yang licin dan cukup curam. Ini menjadi tantangan besar bagi tim TRC-PB BPBD Bondowoso dan aparat terkait yang berupaya memadamkan api secara langsung menggunakan mesin penyedot air.
Di tengah kesulitan akses dan ancaman api yang terus menjalar, tim gabungan tak menyerah. Mereka berjibaku, menyemprotkan air, dan berjuang mengendalikan situasi. Setiap tetes air yang disemprotkan adalah simbol harapan, setiap langkah di medan licin adalah bukti dedikasi. Setelah berjam-jam penanganan yang intens, perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 18.47 WIB. “Pada pukul 18.47 WIB, api telah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut,” jelas Kristanto, menghela napas lega setelah upaya yang melelahkan.
Keberhasilan pemadaman ini adalah buah kerja sama lintas sektor. Selain BPBD Bondowoso, upaya penanganan kebakaran ini juga melibatkan Polsek Prajekan, Koramil Prajekan, Pemerintah Kecamatan Prajekan, Pemerintah Desa Prajekan Lor, serta masyarakat sekitar yang turut bahu-membahu. Pusdalops dan Agen Bencana Jatim juga melakukan asesmen mendalam di lokasi untuk memahami kondisi dan dampak kebakaran, yang kemudian dilaporkan kepada pimpinan sebagai dasar rencana tindak lanjut. “Untuk luas lahan yang terbakar berdasarkan hasil asesmen sekitar 30 meter persegi, berada di bantaran sungai dan terdapat rumpun bambu yang ikut terbakar,” ungkapnya, menegaskan skala kejadian.
Meskipun situasi di wilayah Bondowoso, khususnya Kecamatan Prajekan, terpantau aman dan terkendali dengan cuaca cerah berawan setelah insiden ini, peristiwa kebakaran lahan ini meninggalkan jejak peringatan. Tim BPBD Bondowoso menyelesaikan seluruh proses asesmen dan penanganan di lokasi sekitar pukul 18.50 WIB, namun pekerjaan mereka tak berhenti di situ. BPBD secara konsisten mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama saat kondisi vegetasi mengering seperti saat ini. Kesadaran kolektif dan respons cepat adalah kunci. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila melihat adanya titik api agar dapat segera dilakukan penanganan, sebelum api kecil berubah menjadi bencana yang lebih besar. Dari Jembatan Widuri Prajekan, sebuah pelajaran berharga dipetik: kewaspadaan adalah perisai terbaik menghadapi ancaman yang tak terduga.












