Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Lentera Welas Asih di Mbalong Kawok: Siswa Sekolah Minggu Buddhis Tulungagung Menebar Kebajikan Melalui Ritual Fang Sheng

badge-check

Lentera Welas Asih di Mbalong Kawok: Siswa Sekolah Minggu Buddhis Tulungagung Menebar Kebajikan Melalui Ritual Fang Sheng Perbesar

KlikMojok – Di tepi sungai yang membelah kawasan wisata Mbalong Kawok, Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, Minggu (4/10/2026) pagi itu, suasana khidmat menyelimuti puluhan siswa Sekolah Minggu Buddhis (SMB) Vihara Buddha Loka. Dengan mata berbinar dan tangan-tangan mungil penuh harap, mereka bersiap melangsungkan sebuah tradisi kuno yang sarat makna: ritual Fang Sheng. Bukan sekadar pelepasan hewan, namun sebuah pelajaran tentang welas asih, kebebasan, dan siklus kebajikan yang tak terputus.

Ritual Fang Sheng, yang secara harfiah berarti “membebaskan makhluk hidup”, adalah salah satu praktik fundamental dalam ajaran Buddhisme yang menekankan pada prinsip ahimsa atau tanpa kekerasan, serta pengembangan karuna (kasih sayang) dan metta (cinta kasih) universal terhadap semua makhluk. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menghargai setiap bentuk kehidupan dan membebaskannya dari belenggu penderitaan. Bagi umat Buddha, tindakan membebaskan adalah cerminan dari keinginan untuk membebaskan diri sendiri dan semua makhluk dari dukkha, atau ketidakpuasan eksistensial.

Pandita Sugianto, Pembina Rohaniawan Vihara Buddha Loka Theravada Tulungagung, menjelaskan esensi di balik ritual yang diperankan para siswa SMB ini. “Ritual ini memiliki makna membebaskan makhluk hidup dari kesengsaraan di dunia,” ujarnya. Lebih dari sekadar tindakan fisik, Fang Sheng adalah wujud nyata dari kewelasasihan umat Buddha kepada semua makhluk hidup, yang disimbolkan dengan pelepasan ikan dan belut kembali ke habitat alami mereka.

Pagi itu, sekitar lima kilogram bibit ikan lele dan belut telah disiapkan dalam wadah. Sebelum dilepaskan, para siswa dan umat melantunkan doa-doa, memohon berkah dan menyalurkan niat baik mereka. Kemudian, dengan hati-hati, mereka menumpahkan makhluk-makhluk air itu ke aliran sungai yang jernih, menyaksikan ikan dan belut melesat bebas menuju kedalaman, menghilang di antara bebatuan dan arus.

Ada sebuah pertimbangan khusus mengapa yang dilepaskan adalah ikan dan belut, bukan burung seperti yang kadang dilakukan dalam tradisi Fang Sheng di tempat lain. “Biasanya kami juga melepaskan burung namun karena lokasi dekat sawah kami khawatir burung akan menjadi hama petani, untuk itu kami melepaskan ikan dan belut,” tutur Pandita Sugianto, menunjukkan kehati-hatian dan kepedulian yang meluas, tidak hanya terhadap makhluk yang dilepaskan tetapi juga terhadap lingkungan dan mata pencarian masyarakat sekitar. Ini adalah contoh konkret dari kebijaksanaan dalam praktik welas asih.

Tujuan utama ritual ini, menurut Pandita Sugianto, adalah “sesuai niat kita membebaskan makhluk hidup ke alam dan tidak lagi terjerat serta bisa berkembang biak dengan baik.” Harapan yang terkandung tidak berhenti pada kebebasan makhluk semata, melainkan juga memancar kembali kepada para pelaksana ritual. Mereka berharap, melalui tindakan kebajikan ini, umat akan terbebas dari segala bencana dan marabahaya, layaknya makhluk yang baru saja dilepaskan dari penangkaran.

Sugianto menerangkan, bahwa dalam kehidupan ini selalu ada suka dan duka. Dengan melepaskan makhluk hidup ke alam, umat Buddha berharap nilai kebajikan yang mereka tanam akan kembali berbuah kebaikan. “Kebajikan menghasilkan kebahagiaan, kejahatan menghasilkan penderitaan. Bila semua diawali kebaikan, maka akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan,” pungkasnya. Filosofi ini menjadi inti dari ajaran karma, di mana setiap tindakan, baik maupun buruk, akan menghasilkan konsekuensinya sendiri.

Maka, ketika gemericik air kembali tenang setelah pelepasan terakhir, yang tertinggal bukanlah sekadar kenangan akan seekor ikan atau belut yang bebas. Lebih dari itu, tertanamlah benih-benih welas asih dan pengertian mendalam tentang interkoneksi kehidupan dalam sanubari para siswa Sekolah Minggu Buddhis. Di Mbalong Kawok, Tulungagung, ritual Fang Sheng bukan hanya tradisi, melainkan sebuah sekolah kehidupan yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bermula dari kemampuan untuk membebaskan, memberi, dan menabur kebajikan bagi semua makhluk di semesta. Sebuah pelajaran berharga yang akan terus mengalir, seiring dengan arus sungai dan denyut kehidupan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Aspal Membara di Kota Pahlawan: Kisah Penghentian Surabaya Isoplus Marathon 2026 Akibat Panas Ekstrem

4 Okt 2026 - 15:18 WIB

Ketika Aspal Membara di Kota Pahlawan: Kisah Penghentian Surabaya Isoplus Marathon 2026 Akibat Panas Ekstrem

Merayakan Pengabdian: K3S SD Benjeng Lepas ASN Purnatugas 2026 dengan Sentuhan Budaya di Malang

4 Okt 2026 - 15:17 WIB

Merayakan Pengabdian: K3S SD Benjeng Lepas ASN Purnatugas 2026 dengan Sentuhan Budaya di Malang

Berkat Pembinaan Intensif, Dua Siswa SD Almadany Siap Bersaing di Final KSNR 2026 Bogor

4 Okt 2026 - 15:16 WIB

Berkat Pembinaan Intensif, Dua Siswa SD Almadany Siap Bersaing di Final KSNR 2026 Bogor

Melampaui Senja: Gandrung Sewu 2026, Ketika Tradisi Berpendar di Bawah Cahaya Rembulan Banyuwangi

4 Okt 2026 - 12:40 WIB

Melampaui Senja: Gandrung Sewu 2026, Ketika Tradisi Berpendar di Bawah Cahaya Rembulan Banyuwangi

Mimpi yang Tenggelam di Hulu Grindulu: Calon Pengantin di Pacitan Berpulang Jelang Hari Bahagia

4 Okt 2026 - 12:39 WIB

Mimpi yang Tenggelam di Hulu Grindulu: Calon Pengantin di Pacitan Berpulang Jelang Hari Bahagia
Trending di Pendidikan