Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Terjebak dalam Limbo: Kisah 40 Calon Jemaah Haji Ngawi dengan ‘Porsi Batu’ yang Tak Kunjung Berangkat

badge-check

Terjebak dalam Limbo: Kisah 40 Calon Jemaah Haji Ngawi dengan ‘Porsi Batu’ yang Tak Kunjung Berangkat Perbesar

KlikMojok – Di tengah riuhnya persiapan ibadah haji, sebuah perjalanan spiritual yang diidamkan jutaan umat, terselip kisah-kisah yang menyiratkan ironi. Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ada sekitar 40 nama calon jemaah haji (CJH) yang terdaftar dalam kategori yang unik, sekaligus problematis: ‘porsi batu’. Mereka adalah jemaah yang porsinya terus muncul setiap tahun, namun seolah hilang ditelan bumi, tak bisa dihubungi, telah pindah alamat, atau bahkan meninggal dunia tanpa ada laporan resmi dari pihak keluarga.

Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Ngawi mencatat fenomena ‘porsi batu’ ini sebagai salah satu tantangan dalam pengelolaan daftar keberangkatan. Dari total 324 porsi jemaah haji asal Kabupaten Ngawi, 40 di antaranya masuk dalam kategori tersebut. Kondisi ini secara otomatis mengurangi jumlah jemaah aktif yang dapat diproses pemberkasannya, menyisakan sekitar 250 orang yang siap melanjutkan tahapan administratif.

Mas’un Azali Amrullah, Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Ngawi, menyoroti kompleksitas di balik angka tersebut. “Porsi batu itu jemaah yang tidak bisa dihubungi, atau mungkin meninggal tapi tidak lapor. Ada sekitar 40 jemaah. Sehingga tinggal sekitar 250-an jemaah yang aktif,” ujarnya usai penyerahan simbolis paspor dari Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Madiun, dalam sebuah kegiatan pelayanan paspor haji yang digelar di Madiun pada Kamis (24/9/2026).

Kemenhaj Ngawi, meskipun menghadapi kendala ini, tidak tinggal diam. Mereka terus melakukan upaya penelusuran lapangan, bahkan sampai ke alamat jemaah dengan bantuan pihak kelurahan atau desa setempat. Namun, ada batasan yang harus dipatuhi. Selama belum ada permohonan pembatalan resmi dari pihak ahli waris, Kemenhaj tidak memiliki wewenang untuk mencoret nama jemaah dari sistem. Ini menciptakan sebuah lingkaran administrasi yang sulit diputus.

“Selama tidak ada pembatalan dari ahli waris, ya tetap kita masukkan. Masih aktif porsinya, berturut-turut muncul tiap tahun. Namun jika sampai 4 kali berturut-turut tidak ada kejelasan, baru akan kita laporkan ke pusat untuk langkah lebih lanjut,” terang Amrullah, menggarisbawahi prosedur yang harus mereka ikuti.

Meski porsinya terus muncul dalam daftar, jemaah yang masuk kategori ‘porsi batu’ ini dipastikan tidak bisa diproses untuk keberangkatan. Alasannya jelas: mereka tidak mengikuti rangkaian tahapan wajib, termasuk pemberkasan paspor maupun pemeriksaan kesehatan atau Medical Check-Up (MCU). Tanpa tahapan krusial ini, impian ke Tanah Suci hanyalah sebatas nama dalam daftar.

“Porsi batu sudah dipastikan tidak bisa berangkat karena tidak mengurus apa-apa, baik paspor maupun cek kesehatan. Tanpa cek kesehatan, otomatis tidak bisa mendapatkan status istitha’ah kesehatan dan tidak bisa melakukan pelunasan,” tegas Amrullah, menjelaskan konsekuensi dari ketidakaktifan ini.

Di sisi lain, Kemenhaj Ngawi juga menghadapi realitas lain yang tak kalah menantang: dominasi jemaah lansia. Pada keberangkatan mendatang, sekitar 80 persen jemaah merupakan mereka yang berusia di atas 65 tahun. Tingginya jumlah jemaah lansia ini tidak lepas dari masa tunggu pendaftaran atau waiting list di wilayah Ngawi yang rata-rata mencapai 15 tahun. Masa tunggu yang panjang ini turut berkontribusi pada fenomena ‘porsi batu’, di mana kondisi kesehatan atau keberadaan jemaah bisa berubah drastis seiring waktu.

Guna memudahkan para jemaah lansia yang gigih mengejar panggilan haji mereka, Kemenhaj Ngawi bekerja sama dengan Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Madiun. Mereka memberikan pelonggaran dan pendampingan khusus dalam proses pembuatan paspor. Pelayanan ini mencakup toleransi terhadap kelengkapan berkas yang mungkin kurang, hingga arahan personal saat proses foto dan perbaikan data. “Petugas imigrasi mau menunggu dan mengarahkan jika ada kekurangan berkas atau perbedaan data. Foto juga dituntun. Kerjasama jemput bola seperti ini sangat membantu jemaah, khususnya yang sudah lanjut usia,” pungkas Amrullah, menyoroti pentingnya empati dan adaptasi dalam pelayanan publik.

Kisah ‘porsi batu’ ini menjadi pengingat akan kompleksitas perjalanan haji, yang tak hanya menuntut kesiapan fisik dan finansial, tetapi juga administratif. Di balik setiap angka porsi, ada harapan, doa, dan cerita hidup yang menunggu untuk ditunaikan. Menjaga komunikasi yang efektif dan prosedur yang responsif menjadi kunci agar setiap impian menuju Baitullah dapat terwujud, tanpa ada yang terhenti dalam limbo administrasi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Lambaian Terakhir Sang Guru: Kepulangan Taruno Hidayat dan Luka Menganga di Kare Madiun

26 Sep 2026 - 15:20 WIB

Lambaian Terakhir Sang Guru: Kepulangan Taruno Hidayat dan Luka Menganga di Kare Madiun

Ketika Aliran Air Bercerita: PT SIER dan Komitmen Lingkungan di Tengah Dugaan Limbah Industri

26 Sep 2026 - 15:20 WIB

Ketika Aliran Air Bercerita: PT SIER dan Komitmen Lingkungan di Tengah Dugaan Limbah Industri

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Warisan Budaya dan Gagasan Identitas Bangsa Tetap Relevan

26 Sep 2026 - 15:18 WIB

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Warisan Budaya dan Gagasan Identitas Bangsa Tetap Relevan

Salim A. Fillah Ungkap Kunci Bahagia Sejati: Istiqomah di Tengah Dinamika Perubahan Zaman

26 Sep 2026 - 15:18 WIB

Salim A. Fillah Ungkap Kunci Bahagia Sejati: Istiqomah di Tengah Dinamika Perubahan Zaman

Jalur Aman, Petugas Terdidik: Kisah KAI Daop 7 Membangun Fondasi Keselamatan Perjalanan Kereta Api

25 Sep 2026 - 09:45 WIB

Jalur Aman, Petugas Terdidik: Kisah KAI Daop 7 Membangun Fondasi Keselamatan Perjalanan Kereta Api
Trending di Pendidikan