Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Nisan Tua dan Narasi yang Hilang: Jejak Pencurian Batu Yoni di Situs Cagar Budaya Jember

badge-check

Nisan Tua dan Narasi yang Hilang: Jejak Pencurian Batu Yoni di Situs Cagar Budaya Jember Perbesar

KlikMojok – Imagine the quiet solitude of Asta Pocangsari, sebuah situs pemakaman kuno di Desa Pocangan, Kecamatan Sukowono, Jember. Di perbatasan antara Jember dan Bondowoso itu, semestinya berdiri tegak dua batu yoni purbakala, saksi bisu peradaban masa lalu. Namun, kini, hanya ada kehampaan. Dua artefak berharga itu telah raib, dicuri, meninggalkan lubang menganga dalam narasi sejarah Jember yang belum tuntas terangkai.

Kabar hilangnya dua benda purbakala ini mencuat saat RZ Hakim, seorang pegiat sejarah dan budaya, bersama dua rekannya melakukan ekspedisi gumuk pada Rabu, 23 September 2026. Hakim sendiri mengetahui keberadaan batu yoni tersebut dari informasi yang diberikan oleh arkeolog lokal, Imam Jazuli. “Ma Imam bilang, ada batu yoni di sana, beserta pasangannya. Setelah jumpa dengan warga setempat, kami bertiga baru tahu jika batu bersejarah itu telah raib dicuri orang sekitar dua bulan lalu,” ungkap RZ Hakim kepada beritajatim.com pada Kamis, 24 September 2026.

Dugaan awal mengarah pada pencurian yang terjadi sekitar dua bulan sebelum penemuan, bertepatan dengan acara selapanan di kampung terdekat, sekitar pukul setengah lima sore. Batu yoni tersebut diduga berasal dari era klasik zaman Medang atau sebelum Majapahit. Sebelum kedua yoni ini lenyap, sebuah batu lingga yang menjadi pasangannya juga telah lebih dulu menghilang. Batu yoni yang berbentuk cekung itu mulanya berada di area pemakaman kuno yang oleh warga setempat dikenal dengan nama Asta Pocangsari atau Mocangsari. Kedua lokasi ini, menurut Hakim, “sudah tercatat sebagai Obyek Cagar Budaya (OCB).”

Kehilangan ini bukan yang pertama kali. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, dua nisan tua yang menjadi penanda makam di Asta Pocangsari juga telah lebih dulu raib. Tak ada yang tahu persis siapa pemilik nisan-nisan itu, namun sebuah folklor unik mengiringinya: konon, jika lumut di batu nisan itu digosok dengan ujung celurit, akan terdengar suara nyaring, seperti logam beradu. Sebuah detail kecil yang kini hanya tinggal cerita, bersamaan dengan hilangnya fisik nisan itu sendiri.

Hakim menyayangkan betul hilangnya artefak-artefak ini. Baginya, ini bukan sekadar kehilangan benda mati. “Kehilangan tinggalan arkeologi tersebut sama dengan kehilangan narasi Jember yang belum selesai,” tegasnya, menyoroti betapa setiap artefak adalah potongan puzzle penting dalam memahami identitas dan perjalanan sejarah suatu wilayah.

Peristiwa pencurian dua batu yoni ini menambah panjang daftar “kehilangan” benda bersejarah Jember. Sebelumnya, publik Jember masih menanti proses pemulangan kembali Prasasti Pucangan yang hingga kini tak kunjung usai. “Prasasti yang berasal dari tahun 963 Saka atau 1041 Masehi tersebut hingga kini masih berada di Kolkata, India, sejak 1812, di masa ketika Indonesia dijajah kolonial Inggris,” jelas Hakim.

Prasasti yang mencatat masa pemerintahan Raja Airlangga (sekitar 1019–1043 Masehi) itu diserahkan oleh Thomas Stamford Raffles kepada atasannya, Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto. Meskipun belum ada penelitian mendalam yang menghubungkan Desa Pocangan di Jember dengan Prasasti Pucangan secara langsung, Hakim melihat sebuah benang merah yang menarik. “Namun setiap kali mendengar informasi tentang Prasasti Pucangan, ingatan selalu tertuju pada keberadaan Desa Pocangan. Boleh jadi ia mula-mula bernama Pucangan, lalu bergeser menjadi Pocangan,” ujarnya.

Hakim juga mencermati folklor yang masih hidup di Desa Pocangan hari ini, yang terbilang berbeda dan tidak memiliki sangkut paut dengan era Airlangga. Hal ini, menurutnya, membuka kemungkinan bahwa daerah Pocangan telah mengalami “kocok ulang sejarah.” “Entah karena telah terjadi bencana alam, entah karena dampak perang, entah karena keputusan politik di masa lalu,” pungkasnya, mengisyaratkan betapa kompleksnya lapisan sejarah yang mungkin tersembunyi di balik nama dan tanah Pocangan.

Hilangnya batu yoni dan nisan-nisan tua di Pocangan, serta jauhnya Prasasti Pucangan dari tanah kelahirannya, adalah pengingat pahit akan kerapuhan warisan sejarah kita. Setiap benda purbakala adalah penanda zaman, narator bisu yang tak ternilai harganya. Ketika mereka raib, bukan hanya artefak yang hilang, melainkan juga sepotong jiwa dan ingatan kolektif, meninggalkan kita dengan narasi yang terputus, menanti untuk disatukan kembali.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rentetan Kontroversi dan Tekanan yang Mengakhiri Jabatan Rektor UINSA Akh. Muzakki dalam Delapan Hari

24 Sep 2026 - 12:39 WIB

Rentetan Kontroversi dan Tekanan yang Mengakhiri Jabatan Rektor UINSA Akh. Muzakki dalam Delapan Hari

Siswa Miosi Aktif Verifikasi Teori Perubahan Zat Fisika dan Kimia dalam Praktikum IPA

24 Sep 2026 - 12:36 WIB

Siswa Miosi Aktif Verifikasi Teori Perubahan Zat Fisika dan Kimia dalam Praktikum IPA

Murid Spemdalas GKB Berimajinasi Gambar Gresik Masa Depan Asri dalam Science Camp

24 Sep 2026 - 09:45 WIB

Murid Spemdalas GKB Berimajinasi Gambar Gresik Masa Depan Asri dalam Science Camp

Bekal Kepemimpinan Kader IPM Smamsatu: Mengenal Peran Organisasi dan Karakter Kemuhammadiyahan

24 Sep 2026 - 09:43 WIB

Bekal Kepemimpinan Kader IPM Smamsatu: Mengenal Peran Organisasi dan Karakter Kemuhammadiyahan

Di Balik Selat Sunda yang Membeku: Jejak Surakman dan Asa yang Tak Padam untuk Jurnalis Arupadhatu I

24 Sep 2026 - 06:13 WIB

Di Balik Selat Sunda yang Membeku: Jejak Surakman dan Asa yang Tak Padam untuk Jurnalis Arupadhatu I
Trending di Pendidikan