KlikMojok – Di tengah gemerlapnya kota marmer, Pameran Temporer Museum Daerah Tulungagung 2026 sukses menyuguhkan kekayaan sejarah kepada masyarakat. Acara ini menampilkan ratusan koleksi bersejarah yang memukau, mulai dari arca kuno, wayang tradisional, hingga beragam benda peninggalan masa klasik yang memiliki nilai tinggi.
Penyelenggaraan kegiatan ini memiliki tujuan mulia, yakni untuk memberikan edukasi mendalam kepada masyarakat sekaligus menumbuhkan karakter bangsa yang kuat. Pada awalnya disebutkan enam museum, namun kemudian terungkap bahwa tujuh museum turut berpartisipasi aktif dalam pameran ini. Setiap museum memamerkan ragam koleksi unggulan yang menjadi kebanggaan masing-masing institusi.
Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, mengungkapkan bahwa Pameran Temporer Museum Daerah Tulungagung 2026 kali ini mengusung tema yang sarat makna, yaitu “Ekspresi Seni dan Budaya: Jejak Sejarah, Identitas, dan Mahakarya”.
“Museum memiliki peran strategis dalam melestarikan, merawat dan memperkenalkan sejarah serta budaya kepada masyarakat,” ujar Ahmad Baharudin pada Rabu, 23 September 2026.
Beliau menambahkan bahwa setiap koleksi yang dipamerkan oleh museum tidak hanya sekadar benda mati, melainkan menyimpan nilai sejarah yang mendalam. Koleksi-koleksi tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan berharga mengenai gagasan, kreativitas, serta identitas masyarakat yang telah berkembang dari masa ke masa.
“Pameran ini menampilkan koleksi unggulan Museum Daerah Tulungagung dan kontribusi dari museum, lembaga kebudayaan dan komunitas daerah lainya,” jelas Plt Bupati, menyoroti aspek kolaborasi yang memperkaya pameran.
Rangkaian benda koleksi yang ditampilkan dalam Pameran Temporer Museum Daerah Tulungagung ini sangat beragam. Pengunjung dapat menyaksikan arca, wayang, reog kendang dari masa lalu, berbagai artefak, dan benda bersejarah lainnya. Uniknya, setiap koleksi ini tidak hanya dipamerkan, melainkan juga menyimpan cerita dan makna yang erat kaitannya dengan perjalanan sejarah, identitas, serta kreativitas manusia pada zamannya.
“Kami akan terus mendorong untuk penguatan peran museum sebagai tempat edukasi dan apresiasi budaya. Selain itu, juga sebagai upaya pelestarian benda bersejarah di Tulungagung,” tegas Ahmad Baharudin, menunjukkan komitmen pemerintah daerah.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Ardian Chandra, mengonfirmasi bahwa pameran tahun ini menghadirkan kolaborasi yang lebih luas dengan melibatkan sejumlah museum dari luar daerah. Beliau merinci, setidaknya terdapat tujuh museum yang berpartisipasi aktif. Beberapa di antaranya adalah Museum Wayang Sukoharjo, Museum Anjuk Ladang Nganjuk, Museum FIB Universitas Airlangga (Unair), Museum Surabaya, Museum Pendidikan Surabaya, serta Museum Pulotondo.
Tidak hanya itu, pameran ini juga dilengkapi dengan beberapa stan yang secara khusus menampilkan benda-benda bersejarah dari berbagai wilayah di Kabupaten Tulungagung itu sendiri. Menurut Ardian Chandra, keberadaan museum tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Lebih dari itu, museum memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang menarik bagi masyarakat luas.
“Tujuannya mengenalkan kepada masyarakat sarana edukasi dan rekreasi. Harapannya, utamanya karakter bangsa bisa tetap terjaga dan budaya juga tetap terjaga sehingga tidak punah,” jelas Ardian Chandra, menekankan pentingnya pelestarian budaya dan pembentukan karakter.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Museum Gayatri. Namun, Ardian Chandra menambahkan bahwa pengembangan tersebut akan senantiasa diselaraskan dengan arah dan perencanaan pembangunan daerah secara keseluruhan.
“Kita dukung museum sebagai lokasi wisata, tapi kita sesuaikan dengan perencanaan pembangunan daerah,” pungkasnya.












