KlikMojok – Perayaan 36 tahun berdirinya Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA) pada Jumat, 18 September 2026, di Jakarta Selatan, menjadi sorotan utama setelah penulis sekaligus aktivis kenamaan, Hamid Basyaib, membongkar dua sosok kunci yang selama ini berada di balik layar organisasi pergerakan tersebut. Dalam momen bersejarah yang mempertemukan lebih dari seribu tokoh lintas profesi dan latar belakang politik itu, Hamid Basyaib melalui unggahan media sosialnya secara gamblang menyebut nama Bursah Zarnubi dan istrinya, Sri Meliyana atau Melly Zarnubi, sebagai figur sentral yang menggerakkan HUMANIKA sejak awal. Pengungkapan ini menarik perhatian publik luas, mengingat posisi HUMANIKA sebagai salah satu organisasi masyarakat yang sangat legendaris dan berpengaruh di panggung pergerakan Indonesia.
Kejutan dari Hamid Basyaib ini semakin menegaskan betapa HUMANIKA telah melahirkan banyak tokoh penting yang kini menduduki posisi strategis nasional. Tidak main-main, jejak alumni HUMANIKA tersebar mulai dari jajaran menteri dan wakil menteri, anggota parlemen dari beragam partai politik, kepala daerah, hingga jajaran komisaris BUMN. Refleksi mendalam mengenai perjalanan panji pergerakan ini disampaikan Hamid Basyaib, menyoroti dampak dan jangkauan organisasi yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade.
Latar Belakang Pendirian dan Kiprah Pergerakan yang Mengguncang Orde Baru
Didirikan pada dekade 1990-an, kehadiran HUMANIKA merupakan respons terhadap kejenuhan dinamika politik masa Orde Baru yang represif. Kala itu, iklim pergerakan mahasiswa di dalam kampus mengalami keterbatasan parah akibat diterapkannya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), sebuah kebijakan yang membatasi ruang gerak dan ekspresi mahasiswa.
Momentum pendirian organisasi ini dipicu oleh pembebasan aktivis mahasiswa Universitas Jayabaya, Erlangga, dari tahanan politik. Peristiwa ini menjadi percikan yang memicu semangat perlawanan dan konsolidasi. Dalam perkembangannya, HUMANIKA dengan cepat menyerap aspirasi lintas ideologi, terutama dari wadah pemuda yang terhimpun dalam Kelompok Cipayung, yang meliputi HMI, PMKRI, GMNI, PMII, dan GMKI. Hal ini menunjukkan kemampuan HUMANIKA untuk menyatukan berbagai elemen kekuatan mahasiswa dalam satu visi pergerakan.
Menurut Bursah Zarnubi sendiri, gagasan pembentukan organisasi ini diusung olehnya bersama deretan tokoh senior lainnya. Bursah secara terbuka mengakui bahwa pendirian HUMANIKA terinspirasi langsung oleh Hariman Siregar, tokoh utama peristiwa Malari 1974 yang legendaris, di samping dukungan kuat dari aktivis kawakan seperti Ekky Syahrudin. Inspirasi dari Hariman Siregar ini menunjukkan akar perlawanan HUMANIKA yang mendalam terhadap kekuasaan otoriter.
Bursah Zarnubi sendiri mencatatkan rekam jejak panjang yang impresif dalam dunia politik dan pemerintahan. Selain pernah menjabat sebagai anggota DPR RI dan memimpin Partai Bintang Reformasi, ia juga dipercaya memimpin Kabupaten Lahat sebagai bupati serta menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Peran dan pengaruhnya yang luas ini semakin menguatkan signifikansi pengungkapan Hamid Basyaib mengenai keterlibatannya dalam fondasi HUMANIKA.












