KlikMojok – Siang itu, di SDN Kapasan III Surabaya, sejumlah murid mendapatkan pengalaman berharga yang memantik kreativitas mereka. Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Fakultas Pendidikan, Komunikasi, dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) memperkenalkan konsep coding dan kecerdasan buatan (AI) secara langsung kepada para siswa. Melalui praktik pembuatan gim berbasis AI Gemini, tujuan kegiatan ini adalah memicu daya kreasi anak-anak sejak usia dini.
Dengan mata fokus tertuju pada layar monitor, jemari Nayla, seorang murid SDN Kapasan III Surabaya, tampak cekatan mengetikkan serangkaian instruksi sederhana. Bukan untuk bermain gim, melainkan ia tengah asyik merancang kreasi digitalnya sendiri. Ekspresi penasaran yang awalnya terpancar di wajahnya berangsur-angsur berubah menjadi senyum lebar saat ia menyaksikan instruksi yang diketiknya berhasil menghasilkan tampilan interaktif di layar.
Nayla tidak sendirian dalam kegiatan tersebut. Ia bergabung dengan enam teman sekelasnya: Putra, Syauqi, Raffa, Nindi, Aqila, dan Akifa, dalam sebuah Program Non-Mengajar yang diberi nama “Coding AI with Gemini”. Inisiatif program inovatif ini datang dari lima mahasiswa PPG FPKS Umsura, yaitu Ganesha Gistha A., Nurul Aini, Isnaeni Nurdiana A., Martika Elsa W., dan Natasya Zamzam.
Di bawah arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Shoffan Shoffa, M.Pd., dan Guru Pamong Nining Haerunnisa, M.Pd., para mahasiswa ini berhasil menunjukkan bahwa pengenalan teknologi canggih kepada siswa sekolah dasar bisa dilakukan tanpa kerumitan. Mereka menghindari metode ceramah teori yang monoton, justru mengarahkan para siswa untuk terlibat langsung dalam pendekatan “learning by doing”. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya pasif mendengarkan penjelasan mengenai coding dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), tetapi juga aktif dalam merumuskan ide, merancang logika, melakukan eksperimen, hingga berhasil menciptakan produk digital hasil kreasi mereka sendiri.
Ketakutan untuk berbuat salah seketika sirna begitu proses eksplorasi dimulai. Dengan memanfaatkan Gemini sebagai platform pendukung, anak-anak diajak untuk menyusun program-program sederhana. Mereka menguji berbagai instruksi, mengamati hasilnya secara langsung, mengidentifikasi hambatan yang muncul, dan kemudian mencari solusi untuk memperbaikinya. Dari proses inilah, tangan-tangan mungil mereka berhasil melahirkan berbagai proyek digital yang unik, mulai dari gim petualangan interaktif hingga kuis edukatif yang menarik.
Pendekatan interaktif semacam ini secara bertahap melatih kemampuan penalaran anak-anak. Selain meningkatkan kecerdasan digital, kegiatan kreatif ini juga merangsang logika berpikir, mengembangkan kemampuan berpikir komputasional (computational thinking), serta menajamkan keterampilan dalam memecahkan masalah.
Ganesha Gistha A., salah satu mahasiswa PPG FPKS Umsura, menggarisbawahi urgensi untuk mengubah cara pandang anak-anak terhadap teknologi. Ia menyatakan bahwa para siswa tidak seharusnya hanya menjadi konsumen pasif di tengah derasnya arus era digital.
“Kami ingin siswa mengenal AI bukan hanya sebagai alat untuk mencari jawaban, tetapi juga sebagai alat bantu untuk mengembangkan ide dan membuat karya. Karena itu, siswa kami berikan kesempatan untuk mencoba sendiri, mengeksplorasi ide, kemudian memperbaiki hasilnya jika belum sesuai,” terang Ganesha.
Bagi Ganesha dan rekan-rekannya, fokus utama dari kegiatan ini adalah pada proses mencoba dan mengevaluasi. Apabila sebuah program tidak berfungsi sebagaimana mestinya, siswa didorong untuk mengidentifikasi kekurangan secara mandiri. Pengalaman menghadapi kesalahan atau eror justru dianggap sebagai sarana pembelajaran yang paling efektif.
“Yang kami tekankan bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana siswa berani mencoba, menemukan kesalahan, kemudian mencari cara untuk memperbaikinya. Dari situ mereka belajar berpikir dan menyelesaikan masalah,” imbuh Ganesha.
Pendekatan pembelajaran ini berhasil membangkitkan antusiasme yang luar biasa dari seluruh peserta. Nayla, yang sebelumnya memandang coding sebagai sesuatu yang rumit dan menakutkan, kini berubah pikiran drastis setelah menyaksikan hasil karyanya sendiri bergerak di layar.
“Saya senang karena bisa mencoba membuat sesuatu sendiri. Awalnya saya pikir coding itu sulit, tetapi setelah dicoba ternyata bisa dan menyenangkan,” tutur Nayla dengan penuh semangat.
Bagi Nayla, momen kepuasan terbesar dirasakan ketika instruksi teks yang ia susun berhasil mengeksekusi perintah secara instan di layar monitor.
“Saya paling suka ketika hasilnya sudah jadi dan bisa dicoba. Kalau masih ada yang kurang, bisa diperbaiki lagi,” ujarnya.
Pengalaman yang sama juga dirasakan oleh Syauqi. Baginya, kegiatan ini telah membuka wawasan baru mengenai pemanfaatan gawai dalam keseharian.
“Biasanya saya menggunakan teknologi untuk bermain atau mencari sesuatu. Di kegiatan ini saya belajar bahwa teknologi dan AI juga bisa digunakan untuk membuat gim atau karya sendiri,” kata Syauqi.
Keberhasilannya dalam menciptakan gim sederhana telah memicu rasa ingin tahu Syauqi untuk mengeksplorasi lebih dalam dunia pemrograman di masa depan.
“Kalau ada kegiatan seperti ini lagi, saya ingin mencoba membuat gim yang lebih bagus dan lebih banyak tantangannya,” ungkapnya.
Platform Gemini dalam kegiatan ini diperkenalkan secara tegas sebagai mitra berpikir, bukan sebagai entitas pemikir utama. Mahasiswa PPG FPKS Umsura secara cermat membimbing para siswa untuk tetap mempertahankan kendali penuh atas arah dan ide karya yang ingin mereka kembangkan. Siswa bertugas untuk mencetuskan gagasan, menyusun instruksi (prompt), mengamati respons dari AI, kemudian menguji apakah hasil yang diberikan sesuai dengan imajinasi awal mereka.
Metode pendampingan seperti ini menjadi dasar krusial dalam menanamkan literasi AI sejak usia dini. Anak-anak diajari untuk memahami bahwa meskipun AI memiliki kemampuan memproses data dengan sangat cepat, sentuhan kreativitas, pemikiran kritis, dan kontrol manusia tetap menjadi faktor penentu utama kualitas sebuah karya.
Ganesha menekankan betapa pentingnya peran pendampingan ketika anak-anak berinteraksi langsung dengan teknologi cerdas ini.
“Kami tetap mendampingi siswa selama prosesnya. Jadi mereka tidak hanya menerima hasil dari AI, tetapi memahami apa yang mereka minta, mengapa hasilnya seperti itu, dan apa yang perlu diperbaiki,” jelasnya.
Prinsip kebebasan untuk bereksplorasi ini menghasilkan keragaman karya dari ketujuh peserta. Meskipun mereka semua mendapatkan bimbingan dari tim yang sama, tidak ada satu pun karya murid SDN Kapasan III yang memiliki keseragaman. Putra, Syauqi, Raffa, Nindi, Aqila, Akifa, dan Nayla berhasil menampilkan karya-karya yang secara jelas merefleksikan karakter serta minat pribadi mereka masing-masing.
Pengalaman berharga ini tidak hanya memberikan manfaat bagi para murid SDN Kapasan III. Bagi kelima mahasiswa PPG FPKS Umsura, program ini juga menjadi ajang pembuktian dan penempaan diri yang sesungguhnya untuk menjadi pendidik yang adaptif. Mereka dituntut untuk berpikir keras guna menerjemahkan konsep-konsep coding dan AI yang kompleks menjadi materi yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak-anak usia sekolah dasar.
“Kami juga mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan ini. Kami belajar bagaimana menjelaskan teknologi yang cukup baru kepada anak-anak dengan bahasa yang sederhana dan bagaimana mendampingi mereka ketika menemukan kesulitan,” ungkap Ganesha.
Melalui rancangan kegiatan “Coding AI with Gemini” ini, mahasiswa PPG FPKS Umsura sukses membuktikan bahwa teknologi tingkat tinggi dapat diintegrasikan ke dalam lingkungan belajar sekolah dasar secara harmonis dan menyenangkan.
Keberhasilan ketujuh murid SDN Kapasan III dalam menciptakan karya digital menjadi bukti konkret bahwa anak-anak memiliki potensi luar biasa untuk berkembang menjadi kreator, bukan hanya sekadar penikmat teknologi. Keberanian untuk mencoba, ketekunan dalam memperbaiki kesalahan, serta kesadaran akan pentingnya memanfaatkan teknologi secara bijak akan menjadi bekal berharga yang akan terus menyertai mereka.
Langkah kecil yang dilakukan di SDN Kapasan III Surabaya ini telah menanamkan benih penting bagi lahirnya generasi penerus yang kreatif, kritis, dan adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan. Bagi mahasiswa PPG FPKS Umsura, jejak rekam ini semakin mengukuhkan komitmen mereka untuk terus berinovasi di bidang pendidikan, demi menginspirasi dan membentuk generasi mendatang.












