KlikMojok – Dalam momen bersejarah perayaan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, Pimpinan K.H. Hasan Abdullah Sahal secara lugas menyampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto bahwa Gontor tetap teguh pada pilihan utamanya: pendidikan. Pernyataan tersebut disampaikannya saat ia meminta izin kepada Presiden untuk menyampaikan sesuatu yang ia anggap “agak tidak enak”.
“Kami tetap memilih pendidikan. Bapak Presiden, saya… Saya tak (mau) ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry yee,” ucap Kiai Hasan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, mengutarakan komitmen tersebut.
Meskipun terdengar santai, pernyataan Kiai Hasan ini mengantarkan para hadirin pada esensi Gontor sejak didirikan: pendidikan sebagai instrumen vital untuk memerdekakan manusia. Ia menjelaskan bahwa sejak era penjajahan Belanda, Gontor telah memilih jalur pendidikan untuk membebaskan umat dari kekufuran dan kesesatan, sekaligus membebaskan bangsa dari belenggu ketergantungan.
Pesan fundamental mengenai pendidikan ini disampaikan oleh Kiai Hasan dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang digelar di Ponorogo, Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026. Acara agung tersebut dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, bersama sejumlah menteri, diplomat, berbagai tokoh penting, para alumni, guru, santri, serta ribuan tamu undangan lainnya.
Komitmen terhadap pendidikan ini tetap dipertahankan dengan teguh, meskipun para alumni Gontor kini tersebar dan berkarya di berbagai sektor kehidupan. Mereka ada yang berkiprah di lembaga pemerintahan, badan legislatif, ranah yudikatif, dunia pendidikan, bidang dakwah, sektor usaha, dan beragam profesi lainnya. Menurut Kiai Hasan, meski tempat pengabdiannya berlainan, tugas mulia untuk membina umat dan bangsa tidak boleh sedikit pun luntur.
“Anak-anak kita, alumni-alumni kita yang ada di pemerintahan eksekutif, ada yang di legislatif, ada yang di yudikatif, ada yang di titik-titik yang lain, insyaallah, insyaallah tetap sama-sama membina umat, membina bangsa kita,” jelasnya, penuh harap.
Untuk mengilustrasikan perjalanan panjang Gontor, Kiai Hasan mengajak seluruh hadirin untuk menengok kembali ke tahun 1926. Kala itu, ia menggambarkan Gontor di masa-masa awal pendiriannya sebagai sebuah wilayah yang masih bergumul dengan berbagai permasalahan sosial dan keagamaan yang kompleks.
“Gontor singkatan dari nggon (tempat) kotor. Karena banyak syirik, banyak kufur, banyak maksiat,” ungkap Kiai Hasan, menjelaskan kondisi masa lampau.
Namun, setelah satu abad berlalu, Kiai Hasan membalikkan makna istilah tersebut untuk menggambarkan transformasi signifikan yang dialami Gontor.
“Gontor nggon kotor, sekarang menjadi nggon inspirator,” tegasnya, disambut riuh hadirin.
Perubahan luar biasa ini tentu saja bukan hasil instan. Pendidikan telah menjadi jalan utama yang ditempuh secara konsisten dari satu generasi ke generasi berikutnya, memungkinkan Gontor bertransformasi dan berkembang menjadi sebuah jaringan pondok serta lembaga pendidikan yang skalanya jauh lebih besar dibandingkan titik awal berdirinya.
Lebih dari sekadar kemajuan fisik berupa bangunan megah atau peningkatan jumlah santri, Kiai Hasan melihat perubahan esensial terletak pada kemampuan pendidikan dalam membentuk dan mengubah manusia serta lingkungannya. Dari yang semula ia sebut sebagai “nggon kotor,” kini Gontor telah menjelma menjadi sebuah tempat yang menginspirasi banyak pihak.
Salah satu tonggak krusial dalam sejarah perjalanan Gontor adalah peristiwa pada tahun 1958, ketika tiga pendirinya—yakni K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannanie, dan K.H. Imam Zarkasyi—dengan tulus mewakafkan pondok tersebut sepenuhnya kepada umat Islam.
Kiai Hasan dengan tegas menekankan bahwa yang diwakafkan oleh para pendiri bukan semata-mata tanah dan bangunan fisik. Lebih dari itu, mereka juga menyerahkan seluruh ide, nilai-nilai luhur, sistem pendidikan yang telah terbangun, lembaga, serta segenap kecintaan mereka yang mendalam kepada Gontor.
Ia bahkan menyebut tindakan mulia ini sebagai “wakaf cinta”.
“Sehingga mudah-mudahan Bapak Presiden dan bangsa Indonesia termasuk yang menerima wakaf cinta pondok ini,” harapnya.
Ketika pertama kali diwakafkan, luas tanah Gontor tercatat sekitar 1,2 hektare. Kini, menjelang usia satu abad, Kiai Hasan mengungkapkan bahwa luas tanah yang dikelola telah meluas secara signifikan, mencapai sekitar 1.200 hektare.
Meskipun mengalami pertumbuhan lahan yang hampir seribu kali lipat, Kiai Hasan menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah alasan untuk berpuas diri hanya pada kebanggaan fisik semata. Sebaliknya, semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula amanah dan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga serta melestarikan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para pendiri.
“Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masanya. Setiap masa dan tokoh ada masalahnya, setiap masalah harus ada solusinya,” ujar Kiai Hasan, menyampaikan filosofi kepemimpinan dan zaman.
Beranjak dari pembahasan wakaf, Kiai Hasan kemudian mengalihkan perhatian audiens pada pentingnya sejarah. Ia mengingatkan akan Jasmerah—jangan sekali-kali melupakan sejarah—sebuah pesan berharga yang diwariskan oleh Presiden Sukarno, serta menekankan urgensi untuk senantiasa belajar dari sejarah.
Namun, menurut pandangannya, Gontor tidak boleh hanya berhenti pada tindakan mengingat dan mengambil pelajaran dari masa lalu saja.
“Gontor tidak puas. Cerdaslah menyikapi sejarah,” serunya.
Kiai Hasan menekankan bahwa generasi saat ini bukan sekadar pewaris sejarah yang telah ada, melainkan juga para pembuat sejarah baru yang nantinya akan dibaca oleh generasi-generasi mendatang. Oleh karena itu, perayaan satu abad Gontor tidak seharusnya hanya menjadi ajang untuk mengenang kejayaan masa lalu.
Sebaliknya, abad kedua Gontor harus diisi dengan berbagai pekerjaan dan inovasi baru yang relevan. Dalam konteks inilah, pendidikan kembali tampil sebagai jawaban utama untuk menghadapi tantangan masa depan.
Sejarah panjang Pondok Gontor juga mencatat persinggungan erat dengan para kepala negara. Sebelum kehadiran Prabowo Subianto, tercatat sudah tujuh Presiden Republik Indonesia yang pernah melakukan kunjungan ke pondok ini, meliputi Sukarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo.
Dengan kedatangan Presiden Prabowo pada puncak peringatan satu abad Gontor ini, jumlah Presiden RI yang berbeda yang pernah berkunjung ke Gontor kini genap menjadi delapan.
Kiai Hasan menyinggung sejarah kunjungan para pemimpin negara ini dengan gaya khasnya yang jenaka. Ia mengenang para presiden yang datang dari berbagai era, mulai dari zaman para pemimpin berbusana blangkon hingga yang mengenakan peci beludru.
Kisah-kisah tentang kunjungan kepala negara ini disampaikan bukan dengan maksud untuk mendekatkan Gontor pada rezim politik tertentu, melainkan sebagai bagian integral dari perjalanan panjang dan harmonis pondok ini bersama dengan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Melanjutkan dari topik sejarah dan peran negara, pembicaraan kemudian beralih pada posisi unik Gontor di tengah keberagaman organisasi Islam yang ada di Indonesia.
Santri-santri yang menimba ilmu di Gontor berasal dari berbagai latar belakang, termasuk yang tumbuh di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun kelompok Islam lainnya. Kiai Hasan menegaskan bahwa pondok ini tidak didirikan dengan tujuan untuk mengalihkan atau memindahkan santri dari satu organisasi ke organisasi Islam lainnya.
Ia mencontohkan, santri yang berasal dari lingkungan NU, setelah menempuh pendidikan di Gontor, tetap dapat kembali menjadi bagian dari NU. Demikian pula halnya dengan santri yang berlatar belakang Muhammadiyah.
“Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi,” imbuhnya, menegaskan prinsip tersebut.
Menurut Kiai Hasan, sistem pendidikan Gontor berfokus pada pengembangan wilayah iman, Islam, dan ihsan, yang selaras dengan ijtihad para pendirinya. Oleh karena itu, perbedaan afiliasi organisasi tidak perlu dihilangkan, justru agar para santri dapat belajar dan hidup berdampingan dalam harmoni.
Dengan humor khasnya, Kiai Hasan bahkan menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan guyonan. Ia menceritakan bahwa ada pihak yang menganggapnya cenderung Muhammadiyah, bahkan ada pula yang menilai agak Wahabi. Namun, fakta menariknya, seluruh menantunya justru berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Akhirnya saya mendapat titel baru, Hasan Abdullah Aswabi. Aswaja-Wahabi,” ujarnya, yang sontak mengundang tawa riuh dari para hadirin.
Di balik kelakar tentang “Aswabi” tersebut, tersimpan sebuah pesan yang lebih mendalam dan serius. Gontor bertekad agar pendidikan yang mereka berikan tidak lantas berubah menjadi proses penyeragaman identitas organisasi. Para santri memang dibentuk dalam satu sistem pendidikan yang terpadu, namun mereka tetap diberikan ruang dan kebebasan untuk kembali pada lingkungan serta pilihan organisasi mereka masing-masing.
Selanjutnya, Kiai Hasan mengalihkan perhatian audiens pada aspek kehidupan para pemimpin pondok.
Dengan nada bicara yang lebih tegas, Kiai Hasan menyatakan bahwa para santri memiliki hak untuk mengamati apa yang dikonsumsi oleh pemimpin mereka, pakaian yang dikenakan, kendaraan yang digunakan, tempat tinggal, hingga bagaimana gaya hidup sehari-hari para pimpinan pondok.
“Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes,” tegasnya, menantang.
Ia bahkan mempersilakan adanya kritik keras, bahkan demonstrasi, jika terbukti bahwa gaya hidup seorang pimpinan melampaui standar kehidupan seorang santri.
Pernyataan tersebut erat kaitannya dengan status Gontor sebagai pondok wakaf. Dalam pandangan Kiai Hasan, seorang pemimpin di Gontor tidak sedang mengelola harta pribadi atau warisan keluarga, melainkan menerima sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan dengan penuh integritas.
Oleh karena itu, pendidikan di Gontor tidak hanya ditujukan kepada para santri, melainkan juga menuntut para pemimpin untuk senantiasa mendidik dan memperbaiki diri mereka sendiri secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Kiai Hasan juga menguraikan tentang prioritas dan urutan dalam proses pendidikan. Ia secara jelas menempatkan pembentukan karakter dan pribadi yang baik sebagai hal yang utama, mendahului pencapaian hasil semata.
Filosofinya adalah, menjadi orang baik harus datang terlebih dahulu. Setelah itu, barulah seseorang dapat melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya, dan pada akhirnya, hasil terbaik akan mengikuti secara alami.
Urutan prioritas ini sangat penting, sebab pendidikan tidak boleh serta-merta melompat langsung pada pengukuran keberhasilan yang bersifat kasat mata. Karakter dan tindakan yang mulia harus dibangun dan dibentuk terlebih dahulu, sebelum seseorang mulai membicarakan atau mengharapkan hasil yang optimal.
Pandangan ini sangat selaras dengan pesan kesederhanaan yang telah ia sampaikan kepada para pimpinan pondok. Pendidikan, menurutnya, bukanlah sebuah perlombaan untuk mengejar hasil dengan segala cara, melainkan sebuah proses yang mendalam untuk membentuk manusia seutuhnya.
Meskipun banyak menyampaikan pesan-pesan yang sarat makna dan serius, Kiai Hasan dengan piawai berkali-kali berhasil membuat para hadirin tertawa dengan humor-humor cerdasnya.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto bahkan menjadi salah satu bahan guyonan favoritnya. Kiai Hasan mengaku, sejak Presiden menyampaikan rencana kunjungannya pada bulan September, ia terus-menerus memikirkan dan membayangkan momen kunjungan penting tersebut.
Ia bahkan sempat membayangkan skenario terburuk, bagaimana jika pada hari yang sudah dinanti-nantikan itu, Presiden Prabowo ternyata tidak dapat hadir.
“Kalau itu terjadi,” katanya, “saya tidak tahu harus menaruh muka di mana.”
“Akhirnya saya harus cari muka,” imbuhnya, memancing tawa.
Permainan kata yang cerdas itu terus berlanjut. Kiai Hasan menyindir bahwa ada orang yang mencari nama karena tidak punya nama, mencari uang karena tidak punya uang, mencari jabatan, bahkan sampai mencari ijazah.
Uniknya, ketika para hadirin bertepuk tangan merespons salah satu bagian pidatonya, Kiai Hasan justru menyela dengan mengatakan bahwa tepuk tangan tersebut datang pada waktu yang kurang tepat.
“Cara bertutur yang memadukan kelakar dan pesan-pesan serius ini berhasil membuat sambutannya mengalir dengan dinamis, menjaga perhatian penuh dari seluruh hadirin.”
Di balik guyonan tentang kedatangan Presiden, Kiai Hasan mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Prabowo Subianto telah terjalin melalui beberapa pertemuan sebelumnya.
Menurut perhitungannya, ia telah berbincang langsung dengan Prabowo sebanyak empat kali.
Kiai Hasan memilih kata “husnuzan” (berprasangka baik) untuk menggambarkan jenis hubungan yang ingin ia pertahankan. Ia menyatakan, selama Presiden berprasangka baik kepada dirinya dan Gontor, maka pondok ini pun akan senantiasa berprasangka baik kepada Presiden.
Ia kemudian berharap kehadiran Prabowo pada puncak perayaan satu abad Gontor ini akan membawa keberkahan bagi semua.
Presiden Prabowo Subianto sendiri kemudian memberikan pujian atas gaya penyampaian sambutan Kiai Hasan. Menurut Presiden, cara tersebut sangat modern dan efisien karena tidak menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menyebutkan satu per satu tamu kehormatan.
Di tengah alur cerita yang membahas pendidikan, wakaf, dan sejarah, Kiai Hasan secara mengejutkan menyentuh isu yang terbilang sangat administratif: masalah perpajakan.
Ia melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa beberapa pekan sebelumnya, Gontor telah menerima penghargaan atas kedisiplinan dalam hal perpajakan. Kiai Hasan menegaskan bahwa administrasi pajak pondok selalu dijaga agar tetap tertib dan patuh.
Guyonan kembali muncul saat Kiai Hasan berkata kepada para santri, “Kamu tidur, tapi saya yang bayar.”
Kelakar tersebut disampaikannya untuk menggarisbawahi bahwa sebagai sebuah lembaga pendidikan, Gontor juga memiliki kewajiban penting terhadap negara. Gontor tidak hanya mewujudkan pengabdian kepada bangsa melalui kegiatan di ruang kelas atau pidato, melainkan juga melalui kepatuhan yang tinggi terhadap kewajiban administratif, termasuk perpajakan.
Menjelang penutupan rangkaian acara kesyukuran tersebut, dua buah karya istimewa diserahkan kepada Presiden Prabowo.
Karya pertama adalah buku berjudul “Gontor untuk Indonesia”. Buku ini secara komprehensif mendokumentasikan perjalanan panjang serta kiprah gemilang para alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian untuk bangsa dan negara. Buku tersebut diserahkan langsung oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal kepada Presiden Prabowo.
Sementara itu, karya kedua yang diserahkan adalah Mushaf Al-Qur’an Gontor.
Mushaf Al-Qur’an ini diserahkan oleh Pimpinan PMDG K.H. M. Akrim Mariyat. Mushaf ini merupakan hasil karya tulis yang dikerjakan di lingkungan para ustaz dan santri Gontor, kemudian diterbitkan dan dicetak secara mandiri setelah melalui proses tashih (koreksi) yang ketat.
Presiden Prabowo menerima Mushaf Al-Qur’an tersebut dengan hormat, kemudian menciumnya.
Kedua karya ini menjadi simbol dan penanda penting lainnya dari perjalanan satu abad Gontor. Satu karya merekam jejak pengabdian pondok dan alumninya bagi Indonesia, sementara karya lainnya lahir dari tradisi menjaga dan mempelajari Al-Qur’an yang telah lama terpelihara di lingkungan pesantren.












