KlikMojok – Peluh membasahi dahi, namun bukan karena terik matahari yang membakar kulit. Di Dusun Bengle, Desa Sambong, Pacitan, kekeringan yang merayap selama delapan bulan terakhir telah mengubah lanskap kehidupan. Sumur-sumur mengering, sungai-sungai merana, meninggalkan dahaga panjang bagi ribuan jiwa. Tiga dusun – Bengle, Sawahan, dan Pager Gunung – kini terperangkap dalam lingkaran krisis air bersih yang semakin akut.
Sejatinya, Desa Sambong memiliki 12 dusun. Namun, ketika musim kemarau datang menyapa, tiga wilayah inilah yang paling rentan. Kepala Desa Sambong, Agus Rianto, tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang mendalam. “Dari 12 dusun, ada tiga dusun yang saat ini paling terdampak, yaitu Bengle, Sawahan, dan Pager Gunung. Tiga wilayah ini memang masih menjadi kendala kami dalam menangani krisis air bersih saat musim kemarau,” ujar Agus Rianto.
Sebelumnya, masyarakat desa masih bisa menghela napas lega. Sumber-sumber mata air yang tersebar di sekitar permukiman menjadi tumpuan utama. Namun, rentetan delapan bulan tanpa guyuran hujan telah mengeringkan harapan. “Warga sebelumnya mengandalkan sumber-sumber mata air. Tetapi karena hampir delapan bulan tidak ada hujan, sumber-sumber itu sekarang sudah mengering,” tuturnya.
Kondisi genting ini menarik perhatian Satlantas Polres Pacitan. Dalam rangka memperingati Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, sebuah aksi kemanusiaan digulirkan. Sejumlah personel kepolisian datang membawa bantuan, satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter, yang didistribusikan langsung ke Dusun Bengle. Air tersebut kemudian disalurkan ke wadah penampungan yang telah disiapkan, dan warga berbondong-bondong mengantre, memegang ember dan jeriken, demi seteguk air kehidupan.
Ipda Fendy Yud Priambodo, Kanit Turjawali Satlantas Polres Pacitan, menjelaskan bahwa aksi ini adalah wujud kepedulian institusinya. “Kami melihat wilayah ini memang membutuhkan bantuan air bersih karena sumber air warga sudah mulai mengering,” kata Fendy Yud Priambodo.
Bagi Sutini, seorang warga Dusun Bengle, bantuan tersebut datang bak oase di padang pasir. Ia bercerita, sebelum sumber air mengering, warga masih bisa berjalan sedikit lebih jauh untuk mengambil air. Kini, realitasnya jauh lebih pahit. Warga terpaksa mengumpulkan uang secara swadaya untuk membeli air bersih. Satu tangki berkapasitas sekitar 3.000 liter, yang hanya mampu bertahan tiga hari, harus ditebus dengan harga Rp170 ribu. “Biasanya kami patungan untuk membeli air. Satu tangki paling hanya cukup untuk tiga hari. Setelah itu kalau ada uang kami beli lagi, kalau tidak ya menunggu bantuan,” ujar Sutini dengan nada pasrah.
Kisah Sutini dan ribuan warga di tiga dusun Sambong adalah pengingat getir tentang kerentanan akses air bersih di tengah perubahan iklim. Ketergantungan pada alam yang kini tak lagi ramah, serta keterbatasan ekonomi yang memaksa mereka memilih antara membeli air atau kebutuhan pokok lainnya, menjadi potret nyata perjuangan hidup di tanah Pacitan yang kering kerontang.












