KlikMojok – Aroma rempah masakan dan tawa riang seharusnya memenuhi Dusun Temulawak, Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di salah satu sudut dusun, rumah milik Ali telah didandani, siap menyambut hari paling berbahagia bagi keluarganya: resepsi pernikahan sang anak. Ratusan kardus kue berwarna cokelat, simbol manisnya janji suci, telah tertata rapi, menunggu untuk dibagikan. Namun, pada Kamis siang yang terik, 10 September 2026, takdir berkehendak lain. Kebahagiaan yang hampir di genggaman itu mendadak luluh lantak oleh kobaran api yang tak terduga.
Sekitar pukul 13.40 WIB, kepulan asap hitam disusul jilatan api mulai terlihat dari bagian atap gudang rumah Ali. Dalam hitungan menit, nyala merah itu membesar, menari-nari di tengah embusan angin kencang, mengubah suasana gembira menjadi horor yang mencekam. Warga dan keluarga yang panik mencoba berjuang sendiri, berusaha menyelamatkan apa pun yang bisa diselamatkan. Kardus-kardus kue yang tadinya ditata apik kini dilemparkan keluar, menumpuk di halaman, menjadi saksi bisu perjuangan melawan amuk si jago merah yang begitu cepat merenggut harapan.
Namun, daya upaya mandiri tak cukup membendung keganasan api. Ia terus merayap, menjalar ke bangunan di sekitarnya, melahap dua rumah warga lainnya hingga total tiga rumah di Dusun Temulawak hangus tak bersisa. Rumah yang seharusnya menjadi panggung pesta kini berubah menjadi puing-puing hangus, menyisakan duka dan kepiluan mendalam bagi keluarga yang tengah berduka ganda.
Koordinator Pos Damkar Mojoagung, Riza Maulana, mengungkapkan bahwa laporan kebakaran permukiman di Desa Kebontemu diterima pihaknya sekitar pukul 13.50 WIB. “Kita mendapat laporan dari warga adanya laporan kebakaran permukiman di Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan. Kita langsung memberangkatkan dari Pos Jombang satu unit pumper dan satu unit suplai, dan dari Mojoagung satu unit pumper,” kata Riza, menjelaskan respons cepat tim pemadam kebakaran.
Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 14.14 WIB, segera melancarkan upaya pemadaman. Suara gemeretak kayu yang dilalap api beradu dengan deru mesin pompa air, sementara warga hanya bisa menyaksikan dengan cemas, sesekali membantu petugas mengamankan barang yang masih mungkin diselamatkan. Api berhasil dijinakkan sekitar pukul 15.30 WIB, setelah perjuangan gigih melibatkan dua unit fire pumper truck dan dua unit truk suplai dari Pos Damkar Jombang dan Mojoagung. Proses pembasahan dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang kembali menyala, menandai akhir dari penanganan darurat.
Meski api telah padam, duka dan kerugian yang ditinggalkan begitu besar. Riza merinci dampak kehancuran. “Tiga rumah yang terbakar memiliki ukuran sekitar 12 x 14 meter. Sejumlah barang di dalam rumah ikut hangus terbakar, mulai dari perabotan rumah tangga, televisi, perangkat elektronik, kulkas, lemari, sepeda motor, hingga sepeda. Di dalamnya ada perabotan, televisi, elektronik, kulkas, ada lemari, sepeda motor, ada sepeda,” ujar Riza, menggambarkan skala kerusakan. Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik di salah satu rumah, sebuah tragedi yang seringkali bermula dari kelalaian kecil namun berakibat fatal. “Dugaan sementara dari korsleting listrik di salah satu rumah. Karena yang terbakar ini ada tiga rumah,” imbuh Riza.
Total kerugian materiil diperkirakan mencapai angka fantastis, sekitar Rp500 juta. Tidak hanya bangunan dan isinya, sejumlah uang tunai milik penghuni rumah juga ikut terbakar. Beruntung, sebagian kecil, sekitar Rp2 juta, berhasil diselamatkan oleh warga. “Kurang lebih Rp 2 juta tadi yang bisa diselamatkan,” ujarnya. Di tengah musibah ini, tak ada korban jiwa, namun salah satu anggota keluarga pemilik rumah mengalami syok berat, sebuah dampak emosional yang tak kalah menyakitkan.
Bagi keluarga Ali, kebakaran ini adalah pukulan telak yang merenggut kebahagiaan di ambang pintu. Rumah yang semula menjadi saksi bisu persiapan hari bahagia kini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan rencana manusia di hadapan kekuatan tak terduga. Kisah ini menjadi cermin betapa pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bahaya di sekitar kita, sekaligus menguji ketabahan dan solidaritas dalam menghadapi cobaan hidup yang tak terduga.












