KlikMojok – Siang itu, Rabu, 9 September 2026, seharusnya menjadi momen istimewa bagi puluhan siswa kelas 1 hingga 6 SDN Kanigoro 2, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Mereka bersiap menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif mulia yang bertujuan menopang asupan nutrisi anak-anak sekolah. Namun, sekitar pukul 11.00 WIB, keceriaan itu perlahan berubah menjadi keluhan: sakit perut dan pusing mendera para siswa. Insiden ini sontak memicu kekhawatiran, mengubah ruang kelas menjadi area penanganan darurat dan membawa sejumlah anak ke fasilitas medis terdekat.
Beberapa siswa yang menunjukkan gejala lebih serius segera dilarikan ke Puskesmas Sukosari dan RSUD Sogaten Kota Madiun untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis yang lebih intensif. Pemandangan ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, khususnya para orang tua yang menitipkan harapan gizi terbaik bagi anak-anak mereka melalui program tersebut.
Salah satu orang tua yang merasakan kecemasan mendalam adalah Ela Fratiana, warga Mojopurno. Anaknya, yang merupakan salah satu penerima manfaat program MBG, turut mengeluhkan gejala serupa. Ela menjelaskan bahwa setelah mengonsumsi menu yang disuplai oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kanigoro 2, anaknya mulai merasa pusing dan sakit perut. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai makanan yang disantap, sebuah detail mencuat. “Keluhan awalnya pusing sama perutnya sakit. Pas ditanya, katanya tahu bulatnya basi,” ujar Ela, mengulang pengakuan anaknya.
Selain tahu bulat yang terasa tidak layak konsumsi, anaknya juga memakan sate udang yang menjadi bagian dari menu hari itu. Setelah menyantap hidangan tersebut, sang anak mengaku merasakan sensasi “geli” dan tidak nyaman di bagian perut, yang kemudian diikuti oleh rasa pusing yang mengganggu. Pengakuan ini, meski baru berdasarkan keterangan anak, sontak menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas dan keamanan pangan yang disajikan dalam program yang seharusnya menjamin kesehatan siswa.
Kondisi putranya yang tiba-tiba sakit membuat Ela diliputi kekhawatiran dan trauma. Ia merasa tidak tenang dan memutuskan untuk mengambil langkah pencegahan. Untuk sementara waktu, ia memilih untuk tidak lagi mengizinkan anaknya mengonsumsi makanan dari program MBG. “Sementara ya enggak (ikut makan MBG dulu), tak kasih izin dulu. Makan di rumah saja,” tegasnya, menunjukkan prioritas utama pada keselamatan dan kesehatan anaknya. Ela bahkan berencana untuk mengajukan izin kepada pihak sekolah agar anaknya dapat membawa bekal makanan dari rumah, terutama jika program MBG Madiun kembali dilanjutkan di kemudian hari.
Dalam lubuk hatinya, Ela hanya bisa berharap agar kondisi kesehatan anaknya segera pulih sepenuhnya dan tidak ada dampak jangka panjang yang merugikan. “Ya semoga anaknya enggak kenapa-napa, udah gitu saja. Yang penting anaknya sehat,” pungkasnya, menyuarakan doa tulus seorang ibu.
Hingga laporan ini ditulis, penyebab pasti di balik keluhan kesehatan massal yang dialami puluhan siswa ini masih menjadi misteri. Dugaan bahwa tahu bulat basi menjadi pemicu utama masih sebatas keterangan dari siswa dan belum mendapatkan konfirmasi resmi melalui pemeriksaan laboratorium atau hasil uji terhadap sampel makanan. Oleh karena itu, investigasi lebih lanjut dan mendalam sangat diperlukan untuk memastikan apakah keluhan ini memang berkaitan langsung dengan menu Makan Bergizi Gratis yang disuplai SPPG Kanigoro 2, ataukah ada faktor lain yang turut berperan dalam insiden yang memprihatinkan ini. Kasus ini menjadi pengingat penting akan tanggung jawab besar dalam penyediaan pangan bagi anak-anak sekolah, terutama dalam program yang mengusung janji “gizi gratis” bagi masa depan bangsa.












