Menu

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Transformasi Sekolah Swasta: Tirto Adi Ungkap Kunci Menuju Keunggulan Berkelanjutan

badge-check

Transformasi Sekolah Swasta: Tirto Adi Ungkap Kunci Menuju Keunggulan Berkelanjutan Perbesar

KlikMojok – Dr. Drs. Ng. Tirto Adi, M.Pd., mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo periode 2021-2026, menekankan pentingnya inovasi dan keunikan bagi sekolah swasta untuk bertransformasi menjadi sekolah unggul yang berkelanjutan atau “school of excellence”.

Pernyataan ini disampaikan Tirto Adi saat mengisi materi dalam Rapat Kerja 2026 Majelis Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kabupaten Sidoarjo yang diselenggarakan di Hotel Arayana, Trawas, Mojokerto, pada Rabu (9/9/2026).

Tirto Adi memulai paparannya dengan sebuah analogi tentang air sumur. Ia mengibaratkan air sumur yang tidak pernah diambil akan menjadi keruh dan basi. Sebaliknya, jika air sumur terus dimanfaatkan, maka airnya akan jernih dan bahkan dapat memunculkan sumber mata air baru. “Ketika air sumur tidak pernah diambil, airnya keruh dan basi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, analogi ini berlaku bagi para kepala sekolah. “Siapa pun kepala sekolah harus bersemangat berbagi, jika mendapatkan materi bisa berbagi di grup,” terangnya. Menurutnya, berbagi inovasi akan memicu tumbuhnya inovasi-inovasi lain.

Tirto Adi kemudian memaparkan tiga tipikal sekolah unggul. Tipe pertama adalah sekolah yang unggul dalam “raw input”, yaitu memiliki siswa dengan kualitas akademis yang baik sejak awal. Namun, proses pembelajaran di sekolah tipe ini belum tentu unggul dan bisa jadi masih standar.

Tipe kedua adalah sekolah yang unggul dalam sarana dan fasilitas. Sekolah tipe ini memiliki fasilitas yang lengkap dan mahal, seperti lapangan tenis, lapangan berkuda, kolam renang, asrama, serta ruang kelas ber-AC, didukung oleh media pembelajaran canggih.

Tirto Adi menjelaskan bahwa sekolah tipe kedua ini menyasar orang tua dari kalangan menengah ke atas. Namun, bagi sekolah yang tidak mampu unggul melalui input siswa atau fasilitas, ia menyarankan untuk menempuh jalur ketiga, yaitu keunggulan dalam proses pembelajaran.

“Kalau tidak mampu unggul di pertama atau kedua, kita harus mengusahakan unggul ketiga,” ujarnya. Keunggulan ketiga ini, menurut Tirto Adi, telah dicontohkan oleh para kiai hebat yang mampu memproses siswa dengan kualitas biasa, bahkan rendah, menjadi lulusan yang bermutu tinggi.

Selanjutnya, Tirto Adi menawarkan strategi konkret untuk membangun sekolah unggul. “Jadilah yang pertama, inovasi yang belum sekolah lain miliki,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sekolah harus berani menjadi yang terbaik dan tidak sekadar mengikuti tren atau aktivitas sekolah lain.

Contohnya, dalam penerapan Kurikulum Merdeka dan deep learning, sekolah tidak boleh hanya sekadar sama. “Tidak mau sama, dengan analisis konteks lingkungan sekolah,” ujarnya. Analisis konteks ini akan menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas sesuai dengan kebutuhan lingkungan.

Sekolah juga perlu berani menciptakan modul ajar sendiri melalui kreasi. “Kadang-kadang kita kurang adil pada diri kita sendiri. Usaha-usaha biasa berharap hasil luar biasa,” ujarnya, menyiratkan bahwa hasil luar biasa membutuhkan usaha yang luar biasa pula.

Tirto Adi juga mendorong sekolah untuk menjadi yang terunik dengan menemukan keunggulan spesifik yang belum dimiliki sekolah lain. Keunikan ini harus menjadi topik diskusi bersama yayasan dan guru, serta ditekuni secara konsisten setelah ada kesepakatan. “Sekolah harus menjadi pusat unggulan masing-masing,” ujarnya, sehingga sekolah swasta dapat menjadi “school of excellence” dengan ciri khasnya sendiri.

Untuk menguatkan optimisme para pengelola sekolah swasta, Tirto Adi berpesan agar tidak takut menghadapi persaingan. “Percayalah sekolah ibu bapak akan besar pada waktunya,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kesabaran dan keistiqomahan. “Jangan takut tersaingi, rezeki tidak tertukar,” terangnya.

Ia kemudian memaparkan inovasi yang pernah dilakukan untuk membangun sekolah unggul, namun sebelum itu, terdapat prasyarat penting yang harus dipenuhi, yaitu menciptakan kultur sekolah yang kondusif. Kultur ini membutuhkan kepemimpinan yang situasional.

Kepala sekolah juga diimbau untuk menghindari konflik internal, baik antara kepala sekolah dengan yayasan, kepala sekolah dengan guru, maupun antar guru. “Agar tidak terjadi konflik, kepala sekolah harus tahu karakternya guru dan tenaga kependidikan,” terangnya. Pemahaman karakter individu menjadi elemen krusial dalam kepemimpinan sekolah yang efektif.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dari Malang hingga Probolinggo, 362 Pelajar SIT Bertemu dalam Ajang 2nd Islamic Youth Festival Regional 7 Jatim

9 Sep 2026 - 13:48 WIB

Dari Malang hingga Probolinggo, 362 Pelajar SIT Bertemu dalam Ajang 2nd Islamic Youth Festival Regional 7 Jatim

Jerit Dawuhan di Musim Kemarau: Menguji Ketahanan Petani Madiun di Tengah Air yang Menyusut

9 Sep 2026 - 12:38 WIB

Jerit Dawuhan di Musim Kemarau: Menguji Ketahanan Petani Madiun di Tengah Air yang Menyusut

Senyap di Depan Karaoke: Tabir Kematian Misterius di Sidoarjo Menanti Visum

9 Sep 2026 - 12:37 WIB

Senyap di Depan Karaoke: Tabir Kematian Misterius di Sidoarjo Menanti Visum

SD Mugres & Dinas Perpussip Gresik Berkolaborasi Perkuat Literasi Sekolah

9 Sep 2026 - 12:37 WIB

SD Mugres & Dinas Perpussip Gresik Berkolaborasi Perkuat Literasi Sekolah

Eratkan Ukhuwah, Kuatkan Kebersamaan : Family Gathering Milad ke-21 SIT Permata Surabaya

9 Sep 2026 - 09:49 WIB

Eratkan Ukhuwah, Kuatkan Kebersamaan : Family Gathering Milad ke-21 SIT Permata Surabaya
Trending di Pendidikan