SURABAYA – Pembelajaran Al-Qur’an tidak boleh kehilangan ruh dalam penyelenggaraan pendidikan Sekolah Islam Terpadu (SIT). Sebab, Al-Qur’an bukan sekadar salah satu program pembelajaran, melainkan bagian penting dari identitas SIT.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Standar Mutu Al-Qur’an yang digelar Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jawa Timur, Senin (10/8/2026). Kegiatan yang menghadirkan Koordinator PMBQ BP2Q JSIT Indonesia, Anis Khaerunisa, S.Sos.I., tersebut diikuti lebih dari 250 peserta yang terdiri atas kepala sekolah dan koordinator Al-Qur’an SIT se-Jawa Timur.

Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Moch. Edris Effendi, menegaskan bahwa penguatan pembelajaran Al-Qur’an harus menjadi perhatian utama seluruh sekolah Islam terpadu.

“Al-Qur’an adalah kurikulum utama di SIT. Kalau pembelajaran Al-Qur’an kita kehilangan ruh, kita akan kehilangan jati diri sebagai SIT,” tegas Edris.
Menurutnya, pembelajaran Al-Qur’an juga menjadi salah satu alasan utama orang tua memilih sekolah Islam terpadu. Karena itu, semangat untuk menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang berkualitas tidak boleh mengendur.
Edris berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti pada pemahaman kepala sekolah dan koordinator Al-Qur’an yang hadir. Standar yang telah ditetapkan BP2Q JSIT Indonesia perlu diteruskan kepada seluruh guru sehingga peningkatan mutu dapat dirasakan secara lebih luas di masing-masing sekolah.
“Semoga dengan sosialisasi ini kita semakin bersemangat menghadirkan layanan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih baik dan bermutu, sesuai standar yang telah ditetapkan BP2Q JSIT Pusat,” ujarnya.
Dalam paparannya, Anis Khaerunisa mengingatkan bahwa keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an tidak cukup diukur dari kemampuan siswa membaca dengan lancar. Pendidikan Al-Qur’an harus mampu membentuk kedekatan anak dengan Al-Qur’an sekaligus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Ia mengajak seluruh peserta menyamakan persepsi mengenai tujuan pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan SIT. Setidaknya terdapat empat sasaran utama yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni mendekatkan anak dengan Al-Qur’an, memastikan kemampuan membaca yang baik dan benar, menumbuhkan akhlak Qurani, serta meningkatkan mutu proses pembelajaran Al-Qur’an.
“Kita ingin menghadirkan anak-anak yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga santun dengan nilai-nilai Al-Qur’an,” kata Anis.
Menurut dia, guru yang diberi amanah mengelola pembelajaran Al-Qur’an perlu serius mendesain proses pembelajaran. Setiap metode, pendekatan, dan pembiasaan harus diarahkan agar menghasilkan perubahan yang nyata pada diri peserta didik.
“Kita sudah Allah pilih untuk mengemban amanah ini. Maka, kita harus serius mendesain pembelajaran Al-Qur’an supaya hasilnya sesuai dengan yang Allah kehendaki,” ujarnya.
Tidak kalah penting, Anis menekankan aspek keteladanan guru. Pembelajaran Al-Qur’an akan sulit memberikan dampak maksimal jika hanya berhenti pada aktivitas di dalam kelas. Sikap dan kebiasaan guru dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an menjadi bagian dari pendidikan yang dilihat langsung oleh peserta didik.
Karena itu, kondisi ruhiyah pendidik juga perlu terus dijaga. Guru tidak hanya dituntut mampu mengajarkan Al-Qur’an, tetapi juga menunjukkan kecintaan dan kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pembelajaran Al-Qur’an membutuhkan lebih dari sekadar standar administrasi dan metode pembelajaran. Dibutuhkan guru yang memahami tujuan pendidikan Al-Qur’an, memiliki kompetensi yang memadai, sekaligus mampu menjadi teladan bagi peserta didik.
Melalui sosialisasi ini, JSIT Jawa Timur mendorong seluruh SIT untuk bergerak bersama meningkatkan kualitas layanan Al-Qur’an. Harapannya, standar yang telah disusun tidak hanya menjadi dokumen acuan, tetapi benar-benar hadir dalam praktik pembelajaran di sekolah.
Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar melahirkan siswa yang mampu membaca dengan baik dan benar. Lebih jauh, pendidikan tersebut diharapkan mampu mendekatkan anak kepada Al-Qur’an dan menumbuhkan akhlak Qurani dalam kehidupan mereka.
Bagi sekolah Islam terpadu, penguatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri sekaligus memenuhi harapan orang tua yang menitipkan pendidikan putra-putrinya di SIT.












