YOGYAKARTA – Kabar wafatnya Ustadz Jazir, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokaryan Yogyakarta, meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam dan para aktivis dakwah di Tanah Air. Salah satu yang merasakan kehilangan besar adalah dai dan penulis nasional, Ustadz Salim A Fillah, yang telah lama membersamai almarhum dalam perjalanan dakwah.
Dalam ungkapan kesannya, Ustadz Salim A Fillah menyampaikan bahwa kepergian Ustadz Jazir merupakan kehilangan yang sangat besar, khususnya bagi mereka yang merasakan langsung asuhan dan tempaan dakwah beliau sejak awal tahun 2000-an. Sejak 2001, Ustadz Salim mengaku banyak menemani almarhum dalam berbagai perjalanan dakwah, baik di darat, udara, maupun perairan.

“Waktu-waktu bersama beliau adalah bagian paling berharga dalam hidup kami, saat keteladanan, ilmu, dan pengalaman penuh hikmah tumpah ruah disiramkan kepada jiwa yang dahaga,” ungkap Ustadz Salim.
Menurutnya, Ustadz Jazir dikenal publik sebagai sosok yang kritis dan vokal dalam menyuarakan kebenaran. Namun di balik itu, kecintaan beliau terhadap Indonesia tidak perlu diragukan. Almarhum dikenal memiliki wawasan kebangsaan yang luas, menguasai sejarah nasional, memahami dinamika Kebangkitan Nasional, pidato-pidato Bung Karno, hingga kebijakan pemerintahan di berbagai era.
“Beliau adalah pengasuh kajian kebangsaan, perpustakaan berjalan yang menyimpan begitu banyak referensi sejarah dan pemikiran,” lanjutnya.
Ustadz Jazir juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam penguatan dakwah berbasis masjid. Gagasan metode cepat belajar membaca Al-Qur’an, Iqra’, disebut Ustadz Salim sebagai salah satu buah pemikiran Ustadz Jazir yang kemudian disusun dan dikembangkan oleh KH As’ad Humam. Metode tersebut menjadi ikhtiar besar dalam membentengi akidah umat, khususnya di wilayah pedesaan.
Selain itu, konsep Manajemen Masjid yang selama ini dikenal luas dan diterapkan di berbagai daerah juga tidak lepas dari peran dan pemikiran Ustadz Jazir. Masjid Jogokaryan di Yogyakarta kemudian menjadi model atau rintisan peradaban masjid modern yang aktif, mandiri, dan berorientasi pada pelayanan umat.
Masjid Jogokaryan sendiri dikenal sebagai salah satu masjid percontohan di Indonesia. Berlokasi di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat, dakwah, pendidikan, sosial, dan kebangsaan. Program-programnya kerap menjadi inspirasi bagi pengelolaan masjid di berbagai daerah, mulai dari transparansi keuangan, pelayanan jamaah, hingga penguatan peran masjid di tengah masyarakat.
Di bawah bimbingan Ustadz Jazir, Masjid Jogokaryan berkembang menjadi simbol masjid yang hidup, dekat dengan umat, dan responsif terhadap persoalan sosial. Kepemimpinan beliau dikenal tegas, visioner, dan penuh keberanian dalam menyuarakan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
Bagi Ustadz Salim A Fillah, Ustadz Jazir bukan sekadar tokoh atau aktivis dakwah, melainkan seorang guru dalam makna yang utuh. Sosok pendidik yang mengajarkan keteladanan melalui laku hidup, keberanian berpikir, dan kesungguhan mengabdi untuk umat dan bangsa.
“Takkan cukup kata untuk menggambarkan beliau. Ustadz Jazir adalah guru, dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu,” tuturnya.
Ustadz Salim menutup kesannya dengan doa dan salam perpisahan penuh haru, “Sugeng tindak, Ustadz,” sebagai ungkapan hormat dan cinta atas jasa besar almarhum dalam perjalanan dakwah Islam di Indonesia.
Kepergian Ustadz Jazir menjadi pengingat bahwa estafet dakwah dan pengabdian umat harus terus dilanjutkan, dengan semangat keteladanan, keberanian, dan kecintaan kepada Islam serta Indonesia, sebagaimana yang telah dicontohkan almarhum semasa hidupnya.













