Menu

Mode Gelap
Tata Cara Pembagian Daging Kurban Idul Adha Sesuai Syariat Islam 2026 Bullying di Sekolah Masih Marak, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama PDIP Jatim Bagikan 468 Sapi Kurban ke Ponpes dan Kampung di Jawa Timur Pemkab Sidoarjo Perkuat Pengelolaan Keuangan untuk Pertahankan WTP Lowongan Kerja Surabaya: Driver dan Staff Accounting Dibuka Eksplorasi Tempat Wisata di Surabaya yang Instagramable dan Menarik

Pendidikan

Lindungi Murid Kelasnya, Guru di Cianjur Muntah-muntah Usai Cicipi MBG

badge-check


					Lindungi Murid Kelasnya, Guru di Cianjur Muntah-muntah Usai Cicipi MBG Perbesar

SEORANG guru SDN Taruna Bakti di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami muntah-muntah usai mencicipi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis 25 September 2025. Guru bernama Yayuk Wahyuni itu menjalani imbauan lisan sebelumnya dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi agar guru mencicipi dahulu setiap menu MBG sebelum dibagikan kepada siswa.

Yayuk mengungkapkan, awalnya menerima keluhan dari anak didiknya murid Kelas 1 kalau makanan berbau tak enak. “Saya langsung melarang agar tidak memakannya,” katanya saat ditemui wartawan usai kejadian.

Untuk memastikan, lanjut Yayuk, dia mencoba mencicipi tempe yang terdapat dalam wadah MBG. Tak lama kemudian dia langsung mengalami mual dan mulas.

“Sempat muntah beberapa kali, tapi saya langsung melakukan penangan secara mandiri, dengan cara meminum susu steril. Alhamdullilah sudah membaik. Meski masih merasa pusing sedikit,” tutur ibu guru kelas 1 ini.

Mengetahui apa yang dialami Yayuk, pembagian MBG untuk para murid kelas satu itu pun langsung dibatalkan. Tapi, pembagian tak terhindarkan di kelas yang lain. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, jumlah korban keracunan menu MBG di SDN Taruna Bakti sebanyak 35 orang.

“Laporan masih bersifat sementara, jumlah korban ada sebanyak 35 orang, terdiri dari 34 murid dan satu orang guru,” ujar Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur I Made Setiawan saat dihubungi terpisah.

Dari jumlah itu, seorang siswa harus menjalani perawatan di Puskesmas Cugenang. Sedangkan terhadap yang lainnya, Made mengaku, tim tenaga kesehatan dari Puskesmas Cugenang dan Dinas Kesehatan masih memantau kondisi kesehatannya.

Selain itu, Made mengungkapkan, pihaknya telah mengambil sampel dari dapur penyedia MBG maupun dari sekolah. Beberapa sampel disebutnya berupa tempe, ayam goreng, kentang, dan buncis. Selain juga sampel muntahan dari korban untuk dikirim ke laboratorium. “Pemeriksaan sampel akan ke luar paling cepat 10 hari, maksimalnya dua pekan,” kata dia.

Pilihan Editor: Setelah Super-Topan Ragasa, Bualoi Jadi Ancaman Berikutnya untuk Filipina. Datang Besok

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bullying di Sekolah Masih Marak, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

27 Mei 2026 - 04:41 WIB

SMP PGRI 6 Surabaya Ubah Kelas Jadi Petualangan Digital Lewat Papan Interaktif IFP

14 Mei 2026 - 09:56 WIB

Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan

27 April 2026 - 19:45 WIB

Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya

21 April 2026 - 14:31 WIB

Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai

20 April 2026 - 10:54 WIB

Trending di Pendidikan