KlikMojok – Di bawah terik matahari Pacitan yang hangat, Sabtu, 3 Oktober 2026, seharusnya menjadi hari-hari penuh persiapan bahagia bagi Tredi Dafa Irfanda. Pemuda berusia 20 tahun asal Dusun Pager Gunung, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, ini tengah merajut mimpi pernikahannya. Bersama calon mertua, Jamilah, dan calon istrinya, Milla Febriani, Tredi bergegas menuju aliran Sungai Grindulu, yang membentang di perbatasan Kecamatan Arjosari dan Tegalombo, tepatnya di Dusun Trenggono, Desa Kebondalem, Kecamatan Tegalombo.
Misi mereka hari itu sederhana, namun krusial: mencuci tikar-tikar yang akan menjadi alas bagi para tamu di resepsi pernikahan Tredi. Suasana tepi sungai mungkin dipenuhi celotehan riang dan tawa kecil, membayangkan hari besar yang akan tiba. Namun, siapa sangka, di balik persiapan penuh harap itu, takdir telah mengukir alur yang jauh berbeda.
Setelah tikar-tikar bersih dan siap digunakan, Tredi memutuskan untuk menyegarkan diri. Ia berjalan sekitar sepuluh meter ke arah hulu dari lokasi awal mereka mencuci. Tanpa ragu, ia langsung menceburkan diri ke dalam aliran sungai yang tampak tenang. “Korban berniat mandi dan langsung menceburkan diri ke aliran sungai,” terang Kapolsek Tegalombo, AKP Rusminto, menjelaskan momen krusial itu.
Namun, beberapa saat berlalu, sosok Tredi tak kunjung muncul ke permukaan air. Senyum yang tadi merekah di wajah Jamilah dan Milla seketika sirna, digantikan oleh kepanikan yang mencengkeram. Teriakan minta tolong pecah di keheningan tepi sungai, memanggil warga sekitar yang segera berdatangan untuk membantu pencarian.
Detik-detik pencarian terasa bagai keabadian. Warga bersama pihak berwenang tak henti menyisir dasar sungai yang gelap. Akhirnya, harapan untuk menemukan Tredi dalam keadaan selamat pupus. Tubuhnya berhasil ditemukan dan dievakuasi dari dasar sungai, namun upaya pertolongan sudah terlambat. Tredi Dafa Irfanda dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, mengakhiri mimpi-mimpi yang baru saja akan ia bangun bersama sang kekasih.
Menurut keterangan dari kepolisian, penyebab utama tragedi ini diduga kuat adalah ketidakmampuan korban dalam berenang dan ketidaktahuannya akan kondisi kedalaman sungai yang cukup ekstrem. “Korban tidak bisa berenang dan tidak mengetahui bahwa sungai tersebut cukup dalam,” tambah Rusminto. Pemeriksaan medis lebih lanjut juga menguatkan dugaan ini, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada tubuh Tredi. Ia diduga meninggal dunia akibat gagal napas setelah air masuk ke dalam paru-parunya. Jenazah Tredi kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan, meninggalkan duka mendalam bagi mereka yang ditinggalkan.
Kisah Tredi adalah pengingat pahit tentang kerapuhan hidup dan pentingnya kewaspadaan, bahkan di tempat-tempat yang tampak akrab di sekitar kita. Tragedi ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kemampuan dasar berenang dan pemahaman akan potensi bahaya di perairan terbuka, terutama bagi generasi muda yang seringkali terlalu berani mengambil risiko. Sebuah pendidikan tak terucap dari kehilangan, bahwa di balik setiap keceriaan persiapan, keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama.












