SURABAYA, Klik Mojok – Tantangan yang dihadapi remaja semakin beragam. Mulai perundungan, tekanan dari teman sebaya, penggunaan media sosial secara berlebihan, hingga ancaman penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif. Karena itu, penguatan karakter dan kemampuan melindungi diri menjadi bekal penting bagi pelajar.
Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Dinamika Arek Suroboyo Hebat (DASH) yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya di SMP PGRI 6 Surabaya, Selasa (11/8).


Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Plato Foundation, Hasto, serta dihadiri Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kota Surabaya Muhammad Sufyan, S.Pd., M.Si. Para siswa diajak membahas berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja.
Materi disampaikan secara interaktif. Hasto mengajak siswa berdiskusi mengenai cara menggunakan gadget dan media sosial secara bijak, menghadapi tekanan teman sebaya, menjaga kesehatan mental, serta mengenali bahaya zat adiktif.
Salah satu perhatian utama adalah penggunaan teknologi. Siswa didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga memahami risiko yang dapat muncul, termasuk cyberbullying dan berbagai bentuk eksploitasi di ruang digital.
Selain itu, siswa dibekali kemampuan menghadapi tekanan sosial. Mereka diajak memahami pentingnya mengelola stres, berani menolak ajakan yang berisiko, serta membangun dukungan positif antarteman.
Pembahasan mengenai narkoba, rokok, dan zat adiktif lainnya juga menjadi bagian dari edukasi. Para siswa diberikan pemahaman mengenai dampak penggunaan zat tersebut terhadap kesehatan dan masa depan.
Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kota Surabaya Muhammad Sufyan mengatakan, pendidikan karakter perlu berjalan beriringan dengan pembelajaran akademik.
“Sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu akademis, tetapi juga tempat membentuk karakter dan mental yang tangguh. Melalui kegiatan DASH ini, kita ingin memastikan anak-anak Surabaya tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan terhindar dari pergaulan negatif,” tegasnya.
Menurut dia, upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Tidak hanya sekolah, tetapi juga pemerintah dan lembaga masyarakat.
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara, Banu Atmoko, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut dia, edukasi semacam ini penting karena persoalan yang dihadapi pelajar tidak selalu dapat diselesaikan melalui pembelajaran di kelas.
Melalui program DASH, kata Banu, siswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai perlindungan diri dan hak anak. Mereka juga diharapkan mampu menjadi pribadi yang toleran serta memberikan pengaruh positif di lingkungan masing-masing.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, mampu melindungi dirinya, dan menjadi bagian dari solusi di lingkungannya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Banu juga menyerahkan dua buku karyanya kepada Kepala Bidang Sekolah Menengah Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan narasumber kegiatan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap kegiatan literasi.
Kegiatan DASH di SMP PGRI 6 Surabaya menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk membicarakan persoalan yang mereka hadapi secara lebih terbuka. Edukasi mengenai perundungan, kesehatan mental, penggunaan teknologi, tekanan teman sebaya, hingga NAPZA diharapkan dapat membantu siswa mengambil keputusan yang lebih aman dalam kehidupan sehari-hari.
Program tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan lembaga masyarakat dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang pelajar Surabaya.












