SURABAYA – Kreativitas siswa SMP PGRI 6 Surabaya kembali ditunjukkan melalui kegiatan pembelajaran seni budaya dan prakarya. Memanfaatkan limbah tutup botol plastik dan logam, para siswa diajak mengubah barang yang kerap dianggap sampah menjadi gantungan kunci yang unik dan bernilai guna.
Kegiatan bertajuk Limbah Menjadi Karya ini dilaksanakan pada Kamis (15/1/2026) di Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya yang berlokasi di Jalan Bulak Rukem III No 7-9, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir. Kegiatan dipandu langsung oleh guru Seni Budaya dan Prakarya, Nidya Verawati, S.Sos.

Sejak awal kegiatan, siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan gantungan kunci dari tutup botol. Seluruh siswa membawa perlengkapan yang telah dipersiapkan dari rumah, mulai dari tutup botol bekas, ring gantungan kunci, lem, hingga bahan dekorasi seperti cat dan stiker.
Nidya Verawati menjelaskan, pemanfaatan tutup botol dipilih karena mudah ditemukan dan memiliki bentuk yang ideal untuk dijadikan media berkarya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga lingkungan melalui daur ulang.
Dalam prosesnya, siswa dikenalkan dengan berbagai teknik pengolahan tutup botol, mulai dari menghias bagian dalam dengan gambar atau foto, menyatukan dua tutup botol untuk membentuk karakter lucu, hingga memipihkan tutup botol logam dan melukisnya dengan motif kreatif. Setiap karya kemudian dipasangi ring gantungan kunci agar dapat digunakan secara fungsional.
Menurut Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya, H. Banu Atmoko, kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk mengasah kreativitas sekaligus membangun karakter peduli lingkungan pada siswa.
“Membuat gantungan kunci dari tutup botol adalah cara sederhana namun bermakna untuk mengasah kreativitas. Dari sebuah benda kecil yang terabaikan, siswa belajar menciptakan sesuatu yang fungsional sekaligus bergaya,” ujarnya.
Banu Atmoko yang juga Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara dan mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan UNESA menambahkan, kegiatan berbasis praktik seperti ini penting untuk menumbuhkan imajinasi, ketelitian, serta rasa percaya diri siswa dalam berkarya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual di sekolah. Melalui aktivitas kreatif, siswa tidak hanya belajar seni, tetapi juga nilai tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
“Kreativitas adalah kemampuan melihat permata di tengah tumpukan sampah. Sebuah tutup botol bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah karya seni,” pungkasnya.








