SURABAYA – Menulis artikel untuk jurnal internasional bereputasi seperti Scopus bukan perkara mudah. Dibutuhkan pemahaman standar akademik global, ketelitian, serta strategi yang tepat. Hal inilah yang menjadi fokus dalam Coaching Clinic Penulisan Artikel Scopus bertajuk “Strategi Jitu Menembus Jurnal Internasional Bereputasi”, yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Selasa (23/12/2025).
Kegiatan yang berlangsung pukul 12.00 hingga 15.00 WIB ini menghadirkan narasumber internasional, Ass. Prof. Ferry Jie, Ph.D., FCILT, FCES dari Edith Cowan University, Australia. Coaching clinic ini diikuti oleh akademisi dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah, termasuk Banu Atmoko, Kepala SMP PGRI 6 Surabaya sekaligus Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara.

Dalam pemaparannya, Ass. Prof. Ferry Jie menjelaskan bahwa banyak artikel gagal menembus jurnal Scopus bukan karena ide yang lemah, melainkan karena tidak memenuhi standar penulisan internasional. Ia menekankan pentingnya memahami anatomi artikel ilmiah global dengan format IMRaD, mulai dari pendahuluan yang menyoroti celah penelitian, metode yang detail dan replikatif, hingga hasil dan pembahasan yang analitis serta kontekstual.
Selain struktur artikel, peserta juga dibekali strategi memilih jurnal target sejak awal penulisan. Menurut Ferry, kesalahan umum penulis adalah menyelesaikan naskah terlebih dahulu baru mencari jurnal. Padahal, kesesuaian topik dengan aims and scope jurnal serta pemilihan peringkat jurnal berdasarkan SJR dan kuartil sangat menentukan peluang publikasi.
Aspek sitasi dan referensi juga menjadi perhatian utama. Editor jurnal internasional, kata Ferry, sangat menilai kebaruan dan kualitas rujukan. Referensi ideal didominasi artikel ilmiah lima hingga sepuluh tahun terakhir dari jurnal bereputasi, serta dikelola menggunakan reference manager seperti Mendeley atau Zotero agar konsisten.
Dalam sesi lainnya, Ferry Jie mengulas cara menghadapi editor dan reviewer. Peserta diajak memahami pentingnya cover letter yang kuat serta sikap profesional saat menanggapi revisi. “Revisi bukan penolakan, tapi peluang untuk memperkuat naskah,” ujarnya.
Kendala bahasa Inggris akademik juga menjadi sorotan. Ferry menegaskan bahwa menulis untuk jurnal internasional bukan sekadar menerjemahkan teks, tetapi memastikan alur bahasa akademik yang tepat dan alami, termasuk dengan bantuan layanan proofreading profesional.
Banu Atmoko mengaku kegiatan ini memberikan wawasan baru dan motivasi besar. “Menembus jurnal Scopus bukan soal kecepatan, tetapi ketekunan dan ketelitian. Artikel yang baik adalah yang menawarkan solusi bagi komunitas ilmiah internasional, bukan sekadar laporan kegiatan,” ujarnya.
Ia berharap, meski disibukkan dengan tugas sebagai kepala sekolah dan tengah menempuh studi magister Manajemen Pendidikan di UNESA, pengalaman mengikuti coaching clinic ini menjadi langkah awal untuk dapat menulis dan mempublikasikan artikel di jurnal internasional bereputasi.












