KlikMojok – Matahari mulai condong ke barat, memulas langit Ngawi dengan semburat jingga pada Sabtu sore, 7 November 2026. Di tepi Bengawan Solo, sungai purba yang membelah Jawa, tiga pemuda mencari kesejukan di tengah teriknya hari. Mereka tak menyadari, di balik riak air yang tampak tenang, bahaya mematikan tengah mengintai. Rokhim Maulana (24), bersama dua rekannya, Ronal (22) dan Rohmat Maulana (24), warga Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, terseret arus deras. Sebuah peristiwa nahas yang kembali mengingatkan kita akan kekuatan alam dan pentingnya kewaspadaan di aliran sungai.
Pencarian Rokhim Maulana berlangsung dramatis. Setelah upaya tak kenal lelah sejak Sabtu sore, jasad pemuda itu akhirnya ditemukan mengambang di permukaan air pada Minggu pagi, sekitar pukul 06.40 WIB. Lokasi penemuan tak jauh, sekitar 50 meter dari titik awal ia dilaporkan terseret arus di Desa Bangunrejo Kidul, Kecamatan Kedunggalar. Warga yang pertama kali menyaksikan tubuh tak bernyawa itu segera melaporkan kepada tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, kepolisian, dan relawan. Petugas Basarnas, Nanang Pujo Prasetiyo, mengonfirmasi, “Korban ditemukan pertama kali oleh warga dan kita langsung evakuasi jasad korban.” Dengan sigap, tim menggunakan perahu untuk mengevakuasi jasad Rokhim, mengakhiri penantian cemas keluarga dan upaya pencarian yang melelahkan.
Upaya pencarian Rokhim pada hari pertama, Sabtu sore, menghadapi tantangan berat. Tim gabungan telah mengerahkan segala daya, termasuk penyelaman dan penyisiran area sekitar lokasi kejadian. Namun, kondisi yang mulai gelap seiring pergantian hari dan medan di sekitar sungai yang dinilai membahayakan keselamatan petugas, memaksa pencarian dihentikan sementara. Harapan pun sempat meredup seiring malam yang datang, namun tekad untuk menemukan Rokhim tak pernah padam, dan pencarian kembali dilanjutkan keesokan paginya.
Kapolsek Kedunggalar AKP Karno menjelaskan kronologi insiden yang berawal dari niat baik yang berujung tragis. “Korban bertiga mandi tau temannya terseret arus ikut menolong korban hilang dua temannya berhasil di selamatkan warga,” terang AKP Karno. Kejadian bermula saat salah satu dari mereka terseret arus. Secara spontan, Rokhim dan satu rekannya yang lain, Ronal, mencoba memberikan pertolongan. Namun, justru niat mulia itu membuat mereka ikut terbawa derasnya aliran Bengawan Solo. Beruntung, Ronal dan Rohmat Maulana berhasil diselamatkan oleh warga yang kebetulan beraktivitas di kebun sekitar bantaran sungai. Mereka menyaksikan detik-detik menegangkan itu dan segera bertindak, menarik kedua pemuda yang berjuang melawan arus. Sayangnya, Rokhim Maulana tak seberuntung itu. Ia hilang ditelan pusaran air, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan sahabatnya.
Setelah dievakuasi, jenazah Rokhim Maulana langsung dibawa menuju rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Sebuah pemeriksaan atau visum juga dilakukan di tempat oleh petugas guna memastikan penyebab kematian. Hasil pemeriksaan tersebut mengonfirmasi bahwa Rokhim meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Bengawan Solo. Sebuah kepastian yang memilukan, namun juga mengakhiri ketidakpastian yang menyelimuti keluarga selama proses pencarian.
Peristiwa nahas ini kembali menjadi pengingat yang pilu, sekaligus pelajaran berharga bagi kita semua. Sungai Bengawan Solo, dengan segala keindahannya, menyimpan potensi bahaya yang tak boleh diremehkan. Permukaan air yang terlihat tenang seringkali menipu, menyembunyikan arus kuat dan kedalaman tak terduga di baliknya. Ini adalah bahaya nyata, terutama bagi mereka yang terbiasa beraktivitas di sungai tanpa memahami risiko sepenuhnya. Lebih jauh, insiden ini juga menyoroti risiko tinggi upaya penyelamatan tanpa peralatan dan kemampuan yang memadai. Niat tulus untuk menolong, seperti yang ditunjukkan oleh Rokhim dan rekan-rekannya, justru dapat menyeret orang lain ke dalam bahaya yang sama. Kisah Rokhim Maulana dan tragedi di Ngawi ini harus menjadi perhatian serius bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di sepanjang aliran Bengawan Solo. Keselamatan adalah prioritas utama. Menghindari aktivitas mandi di sungai yang berpotensi membahayakan, serta membekali diri dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di perairan, adalah langkah bijak untuk mencegah duka serupa terulang kembali. Semoga kepergian Rokhim menjadi pengingat kolektif akan pentingnya kewaspadaan dan penghormatan terhadap kekuatan alam.












