KlikMojok – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) baru-baru ini mengukuhkan tiga guru besar baru yang memiliki kepakaran di bidang pengolahan sinyal akustik, data mining, dan robot sosial. Pengukuhan ini berlangsung dalam Sidang Terbuka Senat di Auditorium PENS, Gedung Pascasarjana Lantai 6, Kampus Sukolilo, Surabaya, pada Jumat, 6 November 2026. Ketiga profesor tersebut diharapkan dapat memperkuat inovasi riset teknologi PENS melalui orasi ilmiah mereka yang relevan dengan tantangan masa depan.
Langkah pengukuhan guru besar di PENS ini secara signifikan menandai penguatan kontribusi keilmuan institusi tersebut, khususnya dalam memajukan berbagai bidang teknologi.
Secara lebih rinci, pengukuhan tiga profesor oleh Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) tersebut diselenggarakan dalam sebuah Sidang Terbuka Senat. Acara penting ini bertempat di Auditorium PENS, yang berlokasi di Gedung Pascasarjana Lantai 6, Kampus Sukolilo, Surabaya, pada hari Jumat, 6 November 2026.
Masing-masing dari ketiga profesor yang dikukuhkan ini membawa kepakaran yang beragam dan spesifik, meliputi pengolahan sinyal akustik, data mining, serta robot sosial dan aplikasi sistem pintar. Dengan bertambahnya tenaga ahli ini, PENS semakin memperluas jangkauan kontribusi dalam penelitian dan pengembangan teknologi. Hal ini bertujuan untuk secara efektif menjawab beragam kebutuhan yang ada di tengah masyarakat.
PENS secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Tri Budi Santoso, S.T., M.T., sebagai guru besar di bidang Pengolahan Sinyal Akustik. Beliau merupakan bagian dari Jurusan Teknologi Multimedia Kreatif.
Kemudian, Prof. Aliridho Barakbah, S.Kom., Ph.D., diangkat sebagai guru besar untuk bidang Data Mining. Sedangkan Prof. Dr. Bima Sena Bayu Dewantara, S.ST., M.T., mendapatkan pengukuhan sebagai guru besar dalam bidang Robot Sosial dan Aplikasi Sistem Pintar. Perlu diketahui bahwa kedua guru besar terakhir, Prof. Aliridho Barakbah dan Prof. Bima Sena Bayu Dewantara, bernaung di lingkungan Jurusan Teknik Informatika dan Komputer PENS.
Rangkaian acara sidang terbuka tersebut diawali dengan prosesi masuknya anggota senat PENS. Setelah itu, hadirin bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan “Himne PENS”, dilanjutkan dengan pembukaan sidang secara resmi oleh pimpinan senat.
Agenda selanjutnya adalah pembacaan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Surat keputusan ini menjadi landasan formal bagi pengangkatan ketiga akademisi tersebut sebagai guru besar. Setelah pembacaan, pimpinan senat kemudian melanjutkan dengan prosesi penyerahan surat keputusan dan pengukuhan secara simbolis.
Usai prosesi pengukuhan, ketiga profesor yang baru dilantik berkesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiah. Orasi ini memaparkan perjalanan panjang penelitian dan pengembangan teknologi yang telah mereka geluti, sesuai dengan bidang kepakaran masing-masing.
Dalam orasinya, Prof. Dr. Tri Budi Santoso secara khusus membahas pemanfaatan teknologi pengolahan sinyal akustik yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan. Tujuannya adalah untuk mengenali informasi emosional yang terkandung dalam suara manusia.
Salah satu area fokus utama dalam penelitian beliau adalah pengembangan dataset untuk Speech Emotion Recognition (Pengenalan Emosi Suara) khusus berbahasa Indonesia. Proses ini mencakup beberapa tahapan krusial, mulai dari pelabelan data, pengujian kesepakatan antar penilai, hingga penyaringan untuk memastikan kualitas data yang optimal.
Menurut Prof. Tri Budi, pengembangan teknologi yang mampu mengenali emosi melalui suara memerlukan pertimbangan cermat terhadap beberapa faktor penting. Faktor-faktor tersebut meliputi karakteristik penutur, adanya variasi dialek, serta kualitas rekaman suara yang digunakan.
“Teknologi kecerdasan buatan dalam mengenali emosi melalui suara perlu dibangun dengan mempertimbangkan karakteristik penutur, variasi dialek, dan kualitas rekaman. Karena itu, pengembangan dataset harus disertai pengujian dan validasi agar sistem yang dihasilkan dapat bekerja lebih andal dalam kondisi penggunaan nyata,” ujar Prof. Dr. Tri Budi Santoso, menekankan pentingnya akurasi dan keandalan.
Di sisi lain, Prof. Aliridho Barakbah menyampaikan presentasi mengenai penelitiannya yang berfokus pada pengembangan algoritma klasterisasi. Beliau menyebutkan beberapa algoritma yang telah dikembangkan, seperti Pillar Algorithm dan Clustro, yang dirancang untuk mengelompokkan data berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan.
Selain fokus pada pengembangan algoritma, penelitian Prof. Aliridho juga mencakup penerapan analisis data dalam berbagai persoalan praktis. Contoh penerapannya meliputi pengukuran distribusi gempa bumi, pemantauan perubahan tutupan hutan, dan analisis mendalam terhadap kajian budaya serta sentimen yang berkembang di masyarakat.
Prof. Aliridho menjelaskan bahwa dalam mengembangkan algoritma klasterisasi, ada dua aspek penting yang harus diperhatikan secara bersamaan: ketepatan dalam pengelompokan data dan efisiensi dalam proses komputasinya.
“Pengembangan algoritma klasterisasi perlu memperhatikan ketepatan pengelompokan sekaligus efisiensi proses komputasi. Melalui pendekatan optimasi dan kemampuan mengenali jumlah kelompok secara otomatis, pengolahan data dapat diterapkan untuk mendukung analisis pada skala dan karakteristik persoalan yang beragam,” tutur Prof. Aliridho Barakbah, menjelaskan prinsip dasar penelitiannya.
Sementara itu, Prof. Dr. Bima Sena Bayu Dewantara mengemukakan presentasi yang menyoroti perkembangan bidang robotika. Beliau menekankan pentingnya integrasi antara sensor, kecerdasan buatan, dan sistem pengambilan keputusan dalam memajukan teknologi ini.
Cakupan penelitiannya sangat luas, meliputi pengembangan sistem pengenalan wajah, teknologi deteksi dan pelacakan manusia, sistem navigasi untuk robot, serta berbagai aplikasi pintar yang dirancang untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Melalui serangkaian pengembangan yang dilakukannya, Prof. Bima Sena berupaya mengarahkan teknologi robot agar memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap lingkungan sekitarnya. Tujuannya adalah agar robot dapat menjalankan fungsinya secara lebih mandiri dan efektif.
“Penerapan kecerdasan buatan dalam robotika dapat mengembangkan integrasi sistem pendukung, pengendalian, dan aplikasi pintar. Pendekatan ini memungkinkan para pengembang menerapkan teknologi robot untuk berbagai kebutuhan, mulai dari navigasi kendaraan otonom hingga sistem pendeteksi kelelahan pengemudi,” ujarnya, menjelaskan potensi luas dari inovasi robotika.
Pengukuhan ketiga profesor ini secara nyata memperkuat pengembangan keilmuan di PENS. Fokusnya terutama pada bidang pemrosesan informasi suara, analisis berbasis data, dan sistem robotika.
Dengan adanya kepakaran yang semakin solid ini, PENS kini memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi yang lebih luas dalam mendorong penelitian, inovasi, dan rekayasa teknologi guna memenuhi berbagai kebutuhan. Pengukuhan ini juga sekaligus menegaskan kembali peran penting perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat nyata dan signifikan bagi kemajuan masyarakat.












