KlikMojok – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) baru-baru ini berpartisipasi dalam sebuah kegiatan edukatif yang memadukan kreativitas dan kritik sosial. Pada Kamis pagi, 5 November 2026, mereka mengikuti perkuliahan Pendidikan Seni Rupa di Laboratorium Terpadu yang berlokasi di Jl. Sumatera No. 101, Gresik Kota Baru. Dalam sesi ini, para mahasiswa UMG menciptakan karya seni mozaik yang mengangkat isu-isu krusial seperti kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta praktik antikorupsi. Karya-karya tersebut secara visual menggambarkan ilustrasi hutan yang terbakar, kepulan asap tebal, dan hewan-hewan yang kehilangan habitatnya, sementara isu korupsi digambarkan melalui ilustrasi tumpukan uang dan penyalahgunaan jabatan.
Kegiatan seni mozaik yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ini secara khusus mengangkat tema mendalam mengenai kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta semangat antikorupsi.
Aksi kreatif ini dilaksanakan di ruang kelas Laboratorium Terpadu PGSD Universitas Muhammadiyah Gresik, tepatnya pada hari Kamis, 5 November 2026.
Inisiatif seni tersebut bukan sekadar kegiatan akademik biasa, melainkan sebuah bentuk kritik sosial yang kuat terhadap berbagai persoalan lingkungan hidup dan praktik korupsi yang merajalela. Dengan memanfaatkan medium seni, para mahasiswa berhasil menyuarakan keprihatinan mendalam mereka terkait kerusakan lingkungan yang terus terjadi dan penyalahgunaan kekuasaan yang berdampak luas.
Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Seni Rupa dan Karya aktif terlibat dalam pembuatan beragam karya mozaik. Dalam setiap karyanya, mereka secara konsisten mengusung tema Karhutla dan antikorupsi sebagai pesan utama yang ingin disampaikan kepada publik.
Secara detail, karya-karya mozaik yang dihasilkan menampilkan penggambaran visual mengenai hutan yang dilalap api, kepulan asap tebal yang menyesakkan, serta potret hewan-hewan yang kehilangan tempat tinggalnya akibat Karhutla. Di sisi lain, isu korupsi diilustrasikan secara simbolis melalui tumpukan uang dan representasi penyalahgunaan wewenang atau jabatan.
Kegiatan berharga ini dibimbing langsung oleh Fajar Agus Hari Firmansyah, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah. Fajar Agus Hari Firmansyah menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk mendorong mahasiswa agar tidak hanya memahami teori seni rupa, tetapi juga mampu mengaplikasikannya sebagai sarana untuk menyampaikan kritik secara efektif melalui media seni.
“Seni adalah cara elegan untuk menyampaikan kritik. Mahasiswa bisa menyuarakan keprihatinan tanpa harus kehilangan estetika,” tegas Fajar Agus Hari Firmansyah, menggarisbawahi kekuatan seni sebagai medium ekspresi.
Lebih jauh, para mahasiswa juga turut menjelaskan secara gamblang keterkaitan erat antara persoalan Karhutla dan praktik korupsi. Mereka menyoroti bahwa kedua isu ini merupakan masalah serius yang memiliki dampak signifikan terhadap kelestarian lingkungan serta kualitas kehidupan masyarakat luas.
Mereka menggarisbawahi bagaimana dana yang seharusnya dialokasikan untuk upaya pencegahan kebakaran hutan justru berpotensi besar untuk disalahgunakan. Padahal, ketersediaan dana tersebut sangat vital bagi pemerintah dalam menyediakan fasilitas pemadam kebakaran yang memadai dan memberikan bantuan esensial kepada masyarakat yang terdampak.
Konsekuensinya, masyarakat seringkali harus menghadapi dampak buruk dari kebakaran hutan dengan fasilitas dan sumber daya yang sangat terbatas. Oleh karena itu, melalui setiap karya mozaik yang mereka ciptakan, para mahasiswa bertekad untuk mengingatkan khalayak luas mengenai bahaya dan dampak merugikan dari praktik korupsi.
Korupsi, menurut mereka, tidak hanya sekadar merugikan keuangan negara, melainkan juga secara fundamental mengancam kelestarian lingkungan alam. Lebih jauh lagi, praktik korupsi ini bahkan berdampak langsung pada kelangsungan hidup manusia dan keberlangsungan ekosistem hewan.
Seluruh rangkaian kegiatan seni mozaik ini diselenggarakan di ruang kelas Laboratorium Terpadu PGSD Universitas Muhammadiyah Gresik.
Ruangan tersebut memang sering digunakan oleh mahasiswa untuk berbagai aktivitas perkuliahan dan pengembangan diri. Selain fokus pada proses pembuatan karya, para mahasiswa juga berencana untuk memamerkan hasil seni mozaik mereka di berbagai area sekitar kampus, dengan tujuan memperluas jangkauan pesan yang disampaikan.
Aksi seni ini berlangsung efektif selama dua jam, dimulai dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, para mahasiswa secara aktif menyampaikan pesan-pesan penting terkait pelestarian lingkungan dan pentingnya budaya antikorupsi kepada seluruh civitas akademika kampus.
Menjelang akhir kegiatan, para mahasiswa secara kolektif menyampaikan pesan bersama yang menekankan urgensi untuk melindungi hutan. Mereka juga secara tegas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghindari praktik pembakaran lahan secara sembarangan dan secara aktif menolak segala bentuk praktik korupsi.
“Hutan yang terbakar dapat menghancurkan alam, sedangkan korupsi dapat menghancurkan masa depan bangsa,” seru salah seorang mahasiswa, menegaskan dampak destruktif dari kedua masalah tersebut.
Melalui aksi seni mozaik yang inspiratif ini, para mahasiswa berharap agar kepedulian terhadap isu lingkungan dan semangat integritas bangsa dapat terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai bagian dari rutinitas aktivitas akademik semata.
Sebaliknya, ada harapan besar agar mahasiswa terus memanfaatkan kreativitas dan karya seni mereka sebagai medium yang efektif untuk menyuarakan kritik sosial. Selain itu, mereka juga diharapkan mampu secara konsisten mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan secara proaktif membangun budaya antikorupsi demi masa depan yang lebih baik.












