Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Melampaui Panggung Ginofest: Menagih Keberlanjutan Inovasi Gresik bagi Masyarakat

badge-check

Melampaui Panggung Ginofest: Menagih Keberlanjutan Inovasi Gresik bagi Masyarakat Perbesar

KlikMojok – Di Atrium Icon Mall, Gresik, riuh rendah antusiasme memenuhi setiap sudut. Berbagai gagasan dan karya terpampang, seolah menjadi etalase masa depan yang dijanjikan. Gresik Inovasi Festival (Ginofest) 2026, yang berlangsung pada 6-7 November 2026, tak hanya menjadi ajang pameran, melainkan juga cerminan semangat berkarya di Kabupaten Gresik. Sebanyak 205 inovasi Gresik dipamerkan, menunjukkan lonjakan kreativitas yang signifikan. Namun, di balik angka-angka yang memukau itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: akankah deretan inovasi ini benar-benar mewujud menjadi solusi nyata yang berkelanjutan bagi masyarakat?

Angka 205 inovasi yang ditampilkan pada Ginofest tahun ini menandai pertumbuhan yang menggembirakan. Jika pada 2024 jumlah inovasi tercatat sebanyak 88 karya, angka itu melonjak menjadi 116 pada 2025, sebelum mencapai puncaknya di 205 karya pada 2026. Ini bukan sekadar statistik, melainkan indikasi bahwa benih-benih pemikiran kritis dan kreasi teknologi mulai tumbuh subur di berbagai lapisan masyarakat Gresik. Festival yang mengusung tema “Budaya Menginspirasi, Ciptakan Inovasi, Gresik Siap Bertransformasi” ini menjadi panggung bagi 26 stan pameran yang melibatkan beragam elemen, mulai dari pelajar SD hingga SMA/SMK, perwakilan perguruan tinggi, berbagai komunitas, hingga perangkat daerah.

Dari total 205 inovasi tersebut, rinciannya menunjukkan keberagaman fokus: 73 inovasi berbasis website, 57 bergerak di bidang agribisnis, 27 mengangkat aspek sosial budaya, sementara 48 lainnya berasal dari perangkat daerah. Potret ini menggambarkan spektrum luas permasalahan dan potensi yang coba dijawab melalui sentuhan inovasi. Namun, kemeriahan pameran dan jumlah karya yang fantastis tak lantas menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Esensi sejati sebuah inovasi terletak pada kemampuannya memberikan dampak transformatif yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dalam kemudahan pelayanan publik, penguatan ekonomi lokal, maupun penyelesaian isu lingkungan dan sosial yang mendesak.

Keresahan inilah yang turut disuarakan oleh M. Kholiq (46), seorang warga Kecamatan Kebomas, Gresik, saat mengunjungi festival tersebut. Baginya, inovasi harus memiliki napas panjang, melampaui batas waktu pameran. “Bagus kalau semakin banyak anak muda, sekolah, dan masyarakat yang menghasilkan inovasi. Tetapi jangan hanya dipamerkan dua hari. Kalau memang bermanfaat, seharusnya bisa diterapkan dan dirasakan masyarakat. Jangan sampai setelah festival selesai, karyanya ikut berhenti,” ujarnya, Sabtu (7/11/2026). Kholiq menambahkan bahwa inovasi yang berakar pada kebutuhan riil masyarakat justru memiliki nilai lebih, bahkan melebihi teknologi paling canggih sekalipun.

Pj Sekda Pemkab Gresik, Edi Hadisiswoyo, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan inovasi. “Inovasi harus memiliki hasil yang terukur dan mampu memberikan nilai tambah bagi daerah,” tuturnya, menekankan pentingnya luaran yang konkret dan berkontribusi pada kemajuan daerah. Senada dengan itu, Rosan Dastimi, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur, menyoroti peran vital ruang-ruang seperti Ginofest dalam membangun ekosistem inovasi yang kuat. Ia juga menekankan perlunya memperluas partisipasi generasi muda agar budaya berpikir kritis dan berkreasi semakin berkembang.

“Data perkembangan inovasi daerah menunjukkan potensi yang semakin besar. Persoalannya kini bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan karya baru, melainkan bagaimana mengubah gagasan tersebut menjadi solusi yang bisa digunakan secara berkelanjutan,” pungkas Rosan. Pernyataannya menggarisbawahi pergeseran paradigma: dari sekadar penciptaan menuju implementasi berkelanjutan. Ginofest 2026 mungkin telah usai, namun tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Memastikan 205 inovasi Gresik ini tidak hanya menjadi pajangan sesaat, melainkan terus hidup dan memberi manfaat, adalah pekerjaan rumah bersama yang menuntut kolaborasi dan komitmen jangka panjang dari semua pihak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ketika Kemarau Melanda, Harapan Mengalir dari Tangki: Kisah Bantuan Air Bersih di Pasuruan

7 Nov 2026 - 21:04 WIB

Ketika Kemarau Melanda, Harapan Mengalir dari Tangki: Kisah Bantuan Air Bersih di Pasuruan

Wujudkan Wakaf Produktif, PCM Sumberrejo Bangun Kebun Wisata Pepaya

7 Nov 2026 - 21:03 WIB

Wujudkan Wakaf Produktif, PCM Sumberrejo Bangun Kebun Wisata Pepaya

Lazismu Bojonegoro Atasi Krisis Air dan Dukung Pendidikan dengan Bantuan Sumur Bor di Masjid Al-Muttaqin

7 Nov 2026 - 21:03 WIB

Lazismu Bojonegoro Atasi Krisis Air dan Dukung Pendidikan dengan Bantuan Sumur Bor di Masjid Al-Muttaqin

Menganyam Kembali Asa di Kartoharjo: Gotong Royong Warga, TNI, dan Polri Pasca Angin Kencang Magetan

7 Nov 2026 - 18:46 WIB

Menganyam Kembali Asa di Kartoharjo: Gotong Royong Warga, TNI, dan Polri Pasca Angin Kencang Magetan

Karya Seni Mozaik Mahasiswa UMG: Wadah Kritik Sosial Isu Karhutla dan Antikorupsi

7 Nov 2026 - 18:45 WIB

Karya Seni Mozaik Mahasiswa UMG: Wadah Kritik Sosial Isu Karhutla dan Antikorupsi
Trending di Pendidikan