Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Lebih dari Sekadar Tawa: Ludruk Cilik SD Mugres Lestarikan Seni Tradisional dan Kembangkan Potensi Siswa di FFU X 2026

badge-check

Lebih dari Sekadar Tawa: Ludruk Cilik SD Mugres Lestarikan Seni Tradisional dan Kembangkan Potensi Siswa di FFU X 2026 Perbesar

KlikMojok – Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, suasana pembukaan Festival Faqih Usman (FFU) X di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik menjadi lebih semarak berkat penampilan istimewa dari Ludruk Cilik Mentari Budaya SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A.

Penampilan memukau dari Ludruk Cilik Mentari Budaya SD Mugres Kampus A tersebut sukses mengundang gelak tawa dan riuh tepuk tangan dari para penonton. Mereka tampil sebagai bagian dari pembukaan Festival Faqih Usman (FFU) X 2026 yang berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Tiga orang murid kelas VI dari SD Mugres Kampus A membawakan sebuah cerita jenaka yang mengangkat tingkah polah anak-anak saat menjelang perlombaan. Keberhasilan mereka dalam menghidupkan suasana di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik sangat diapresiasi.

Adapun ketiga pemain ludruk cilik yang tampil memukau tersebut adalah Adzani Difatra Raharjo, Redicha Salsabila Irwanto, dan M. Prama Ega Kurniawan.

Para siswa ini mewakili SD Mugres Kampus A dalam acara pembukaan festival yang prestisius tersebut, diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik.

Acara ini turut disaksikan oleh berbagai tamu undangan serta seluruh peserta FFU X yang berasal dari beragam sekolah Muhammadiyah di Gresik, mencakup jenjang pendidikan mulai dari SD hingga SMA sederajat.

Penampilan Ludruk Cilik Mentari Budaya memang menjadi salah satu sajian pembuka yang paling berhasil menarik perhatian. Ketiga pemain tersebut dengan apik mengangkat cerita ringan yang berpusar pada kelucuan-kelucuan yang sering terjadi pada anak-anak saat bersiap mengikuti perlombaan.

Dialog antara para tokoh dalam pementasan itu menyajikan situasi yang sangat akrab dengan keseharian para murid. Mereka berhasil mengemasnya dengan jawaban-jawaban tak terduga yang secara spontan mengundang gelak tawa penonton.

Salah satu kelakar yang paling mencuri perhatian muncul dalam percakapan yang menyinggung tentang tambal ban yang beroperasi 24 jam. Alih-alih menganggap layanan yang tersedia sepanjang hari itu sebagai sebuah kemudahan, salah satu tokoh justru melontarkan komentar jenaka, “Tambal ban 24 jam, kesuwen, selak mlebu sekolah.”

Ungkapan dalam bahasa Jawa tersebut memiliki arti kurang lebih “terlalu lama, keburu masuk sekolah”. Jawaban polos itu berhasil menghadirkan humor sederhana yang sangat relevan dari sudut pandang anak-anak yang seringkali terburu-buru saat berangkat ke sekolah.

Titik kelucuan utama muncul karena jawaban yang dilontarkan tidak sesuai dengan perkiraan atau logika umum pendengar, namun pada saat yang sama, tetap terasa sangat dekat dengan pengalaman dan realitas keseharian.

Kelakar lainnya yang tak kalah mengundang tawa berkaitan dengan sejarah Muhammadiyah. Salah satu pemain melontarkan pertanyaan, “K.H. Ahmad Dahlan saat meresmikan berdirinya Muhammadiyah pakai baju apa?”

Pertanyaan tersebut seolah-olah mengarahkan penonton untuk memikirkan jawaban yang bersifat historis atau terkait dengan jenis pakaian khusus yang dikenakan oleh tokoh pendiri Muhammadiyah itu. Namun, pemain lain dengan cerdik justru menjawab, “Pakai baju yang menutup aurat.”

Jawaban yang sederhana namun tak terduga itu kembali berhasil mengundang tawa riuh dari para penonton. Permainan kata serta arah pertanyaan yang mengecoh menjadi salah satu kekuatan utama dalam penampilan Ludruk Cilik tersebut.

Materi humor yang disajikan tidak jauh dari lingkup dunia pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Hal ini memastikan bahwa lelucon-lelucon tersebut mudah dipahami dan dinikmati oleh penonton dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Menjelang akhir penampilan, ketiga murid Ludruk Cilik tersebut menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta FFU X 2026. Penonton menyambut penutup pertunjukan dengan tepuk tangan meriah, sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kreativitas mereka dalam membawakan seni ludruk di panggung pembukaan festival yang bergengsi itu.

Penampilan yang begitu menghibur ini tentu saja tidak terlepas dari persiapan matang yang telah dilakukan oleh para pemain. Di bawah bimbingan dan pembinaan Abizar Purnama, ketiga murid tersebut telah menjalani latihan sebanyak lima kali, dimulai sejak hari Senin sebelum mereka tampil pada hari Sabtu.

Dalam kurun waktu yang relatif singkat tersebut, mereka fokus berlatih untuk memahami alur cerita, menghafal setiap dialog, membangun kekompakan antarpemain, serta mengatur tempo dan cara penyampaian humor agar dapat diterima dengan baik oleh penonton.

Dalam seni ludruk, kemampuan menghafal dialog saja dinilai belum cukup. Para pemain juga dituntut untuk memiliki pemahaman mendalam tentang kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan suatu kalimat, bagaimana cara menggunakan ekspresi wajah yang sesuai, serta kapan harus memberikan jeda agar bagian yang lucu dapat terasa lebih kuat dan efektif.

Interaksi yang kuat dan dinamis antarpemain juga turut menjadi faktor penentu keberhasilan cerita yang dibawakan, terutama pada bagian dialog yang berisi pertanyaan dan jawaban yang mampu mengejutkan penonton.

Adzani Difatra Raharjo, salah satu pemain Ludruk Cilik Mentari Budaya, mengungkapkan rasa senangnya atas kesempatan untuk tampil dalam pembukaan festival ini. Baginya, pengalaman bermain ludruk memberikan nuansa yang sangat berbeda dibandingkan dengan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.

Ia menjelaskan bahwa melalui ludruk, dirinya harus belajar untuk berani berbicara di depan banyak orang, mengingat dan menghafal dialog yang panjang, serta bekerja sama secara solid dengan teman-temannya agar setiap detail cerita dapat tersampaikan dengan baik dan lancar.

Pada awalnya, Adzani mengaku harus fokus menghafal dialog dan berlatih keras agar bisa tampil kompak dengan rekan-rekannya. Ia merasa sangat senang dan puas ketika melihat penonton tertawa lepas saat mendengar bagian-bagian lucu dari pementasan mereka.

Pengalaman berharga ini menjadi kesempatan emas bagi Adzani dan rekan-rekan timnya untuk belajar cara mengatasi rasa gugup saat berada di panggung. Mereka juga berlatih secara intensif untuk mengatur intonasi suara, berekspresi secara tepat, serta menjaga kepercayaan diri yang tinggi ketika berhadapan langsung dengan ribuan pasang mata penonton.

Terdapat satu hal yang berbeda dalam penampilan Ludruk Cilik Mentari Budaya kali ini. Jika biasanya mereka tampil secara lengkap dengan iringan tim karawitan, pada momen pembukaan FFU X 2026 ini, mereka untuk pertama kalinya harus tampil tanpa iringan tim tersebut.

Perbedaan ini tentu saja menjadi sebuah pengalaman baru dan tantangan tersendiri bagi para pemain. Tanpa adanya iringan karawitan, perhatian penonton menjadi lebih terpusat sepenuhnya pada dialog yang mereka sampaikan, ekspresi wajah, serta interaksi yang terbangun antartokoh.

Oleh karena itu, para pemain Ludruk Cilik harus sepenuhnya mengandalkan kekuatan penyampaian cerita mereka untuk membangun suasana yang hidup sekaligus menjaga perhatian penonton agar tetap terpaku pada pementasan.

Meskipun menggunakan format yang berbeda dari penampilan biasanya, mereka tetap berupaya keras untuk menyajikan ludruk dengan ciri khasnya yang kental, yaitu dialog yang menghibur, cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, serta humor-humor cerdas yang muncul dari situasi sehari-hari.

Pengalaman ini secara jelas memperlihatkan bahwa kesenian tradisional memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui berbagai bentuk penyajian yang inovatif dan adaptif.

Ludruk, sebagai salah satu seni tradisional, tetap dapat menjadi tontonan yang sangat menarik dan relevan, asalkan para pemain mampu menyesuaikan materi serta cara penyampaiannya dengan karakteristik penonton masa kini. Penting untuk dicatat, penyesuaian ini harus dilakukan tanpa pernah meninggalkan karakter humor dan budaya lokal yang menjadi ciri khas utama dari seni ludruk itu sendiri.

Christalina Riya Ristanti, S.Pd., selaku Kepala Urusan Kesiswaan SD Mugres Kampus A, menyampaikan pandangannya bahwa kesempatan untuk tampil dalam kegiatan berskala besar seperti Festival Faqih Usman ini sangat penting untuk mendukung pengembangan potensi yang dimiliki oleh para murid.

Ia menambahkan bahwa sekolah tidak hanya berfokus pada dorongan untuk mencapai prestasi akademik semata, melainkan juga berkomitmen untuk memberikan ruang yang luas bagi murid-muridnya agar mereka dapat mengenali, mengeksplorasi, dan mengembangkan minat serta bakat mereka di berbagai bidang.

Menurut Rista, seni tradisional seperti ludruk mengandung nilai-nilai pendidikan yang sangat berharga dan dapat diperoleh murid melalui seluruh proses latihan hingga penampilan. Melalui ludruk, mereka belajar tentang pentingnya bekerja sama dalam tim, disiplin dalam mengikuti jadwal latihan, bertanggung jawab terhadap peran masing-masing, serta melatih keberanian untuk tampil di hadapan publik.

“Sekolah perlu memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, termasuk dalam bidang seni tradisional. Melalui ludruk, anak-anak tidak hanya belajar tampil dan menghibur, tetapi juga melatih keberanian, kreativitas, kedisiplinan, serta kerja sama,” ujar Rista, menekankan pentingnya peran sekolah dalam pembentukan karakter siswa.

Ia sangat berharap bahwa pengalaman berharga ini dapat menjadi motivasi kuat bagi para murid untuk terus-menerus mengembangkan kemampuan dan bakat mereka di masa mendatang.

Lebih lanjut, kesempatan untuk tampil di panggung besar juga membantu murid-murid belajar cara menghadapi beragam reaksi penonton, menerima apresiasi dengan lapang dada, dan melakukan evaluasi diri terhadap penampilan mereka sebagai bekal berharga untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya.

Penampilan Ludruk Cilik Mentari Budaya dalam pembukaan FFU X 2026 ini secara nyata membuktikan bahwa seni tradisional dapat hadir dan dinikmati secara menyenangkan di lingkungan pendidikan. Dukungan yang terus-menerus terhadap kesenian tradisional juga merupakan upaya penting untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Dengan secara aktif melibatkan anak-anak dalam seni ludruk, SD Mugres telah memberikan kesempatan berharga bagi mereka untuk mengenal lebih dekat kesenian yang telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, sekaligus turut serta dalam menjaga kelestariannya agar tetap hidup dan relevan di masa depan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Di Tengah Duka Karhutla Bromo: Kapolres Pasuruan Hadirkan Empati di Pelukan Keluarga Korban

17 Okt 2026 - 12:38 WIB

Di Tengah Duka Karhutla Bromo: Kapolres Pasuruan Hadirkan Empati di Pelukan Keluarga Korban

Sinergi Pemerintah dan Organisasi Perempuan: Bupati Ponorogo Tawarkan Kolaborasi dengan Nasyiatul Aisyiyah

17 Okt 2026 - 12:36 WIB

Sinergi Pemerintah dan Organisasi Perempuan: Bupati Ponorogo Tawarkan Kolaborasi dengan Nasyiatul Aisyiyah

Merajut Harmoni dalam Ketenangan: Sinergi Polres Ponorogo dan Pondok Gontor untuk Kamtibmas Berkelanjutan

17 Okt 2026 - 09:44 WIB

Merajut Harmoni dalam Ketenangan: Sinergi Polres Ponorogo dan Pondok Gontor untuk Kamtibmas Berkelanjutan

Api Abadi di Jantung Bromo: Pergulatan Petugas Melawan Amukan Karhutla di Probolinggo

17 Okt 2026 - 09:43 WIB

Api Abadi di Jantung Bromo: Pergulatan Petugas Melawan Amukan Karhutla di Probolinggo

Ketua PDM Gresik Tekankan Pengembangan Potensi dan Jaringan di Festival Faqih Usman X Muhammadiyah

17 Okt 2026 - 09:42 WIB

Ketua PDM Gresik Tekankan Pengembangan Potensi dan Jaringan di Festival Faqih Usman X Muhammadiyah
Trending di Pendidikan