KlikMojok – Motivator dan penulis, Ustaz Suhadi Fadjaray, baru-baru ini mengingatkan para guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (SMK Mutu) Kabupaten Malang untuk menjaga harmoni keluarga di tengah tuntutan profesi. Dalam sebuah Pengajian Ahad Pagi yang diselenggarakan pada Ahad, 4 Oktober 2026, di Titanium Auditorium Hall, Suhadi Fadjaray menekankan pentingnya tidak menghabiskan seluruh energi kesabaran di sekolah hingga melampiaskan emosi pada keluarga di rumah. Ia secara tegas menyampaikan, “Jangan sampai kita menjadi ‘malaikat’ di sekolah, tetapi ‘singa’ di rumah.”
Pengajian tersebut, yang mengusung tema “Harmoni Cinta Kinerja dan Keluarga Perindu Surga”, merupakan inisiatif Tim Ismuba SMK Mutu sebagai bagian dari program pembinaan rohani. Dalam acara ini, Suhadi Fadjaray tampil sebagai pembicara utama, membawa pesan-pesan inspiratif.
Mengawali sesinya, penulis buku “Parenthinking 4.B Amazing Character Building” itu mengutip Surah Al-Ghasyiyah ayat 3–4. Ayat-ayat tersebut menggambarkan kondisi orang-orang yang telah bekerja keras dan merasa kepayahan, namun pada akhirnya justru memasuki api yang sangat panas.
Menurut Suhadi, kutipan ayat suci ini berfungsi sebagai pengingat penting bagi para pendidik. Tujuannya adalah memastikan bahwa seluruh kerja keras yang dicurahkan dalam mentransfer ilmu pengetahuan tidak kehilangan esensi dan nilai spiritualnya.
Ia juga menambahkan, “Kita berlindung kepada Allah agar proses mentransfer ilmu yang kita lakukan selama ini di sekolah maupun madrasah tidak berujung pada kebangkrutan spiritual.”
Suhadi Fadjaray menjelaskan bahwa kerja keras yang dilakukan harus senantiasa diiringi dengan keikhlasan, niat yang tulus dan benar, serta kepatuhan yang teguh terhadap nilai-nilai moral.
Selanjutnya, Suhadi mengalihkan perhatian pada pembahasan mengenai pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga. Ia mengemukakan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan krusial sebagai madrasatul ula, atau madrasah pertama bagi anak-anak, sementara peran ayah adalah memegang kepemimpinan utama dalam struktur keluarga.
Ia lantas mengingatkan bahwa upaya menjadi orang tua yang dapat memberikan teladan positif bagi anak-anak bukanlah suatu hal yang mudah untuk dicapai.
Selama pemaparannya, Suhadi turut menyinggung hasil dari Harvard Grant Study, sebuah studi longitudinal yang menyoroti betapa pentingnya kebiasaan dan kualitas relasi dalam membentuk kehidupan seseorang. Ia menghubungkan temuan studi ini dengan kebiasaan anak-anak yang terbiasa membantu pekerjaan rumah tangga sejak usia dini.
Oleh karena itu, menurut Suhadi, kerja sama yang solid antara ayah dan ibu sangat diperlukan dalam upaya membangun fondasi keluarga yang kuat.
Ia memaparkan dengan jelas, “Anak yang bermasalah tumbuh dari keluarga yang bermasalah. Delapan puluh persen anak itu meniru dari apa yang dikerjakan orang tua, selebihnya 20 persen mereka mendengar.”
Suhadi juga menekankan pentingnya bahwa setiap nasihat yang diberikan kepada anak-anak harus selalu disertai dengan contoh nyata dan tindakan yang konkret.
“Jika ingin anak kita patuh dan sesuai dengan apa yang kita harapkan, berikan contoh yang baik sehingga mereka bisa melihat secara langsung,” ujarnya.
Lebih lanjut, Suhadi menyoroti kondisi khusus orang tua yang juga berprofesi sebagai pekerja, termasuk para guru. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan seorang guru sangat menguras energi psikologis, mengingat mereka harus berinteraksi dan menghadapi beragam karakter murid sepanjang hari.
Oleh sebab itu, Suhadi mengingatkan pentingnya untuk tidak melampiaskan emosi yang mungkin tertahan atau terakumulasi selama jam kerja kepada anggota keluarga di rumah.
Menurutnya, situasi paradoks di mana seseorang menjadi sosok “malaikat” di lingkungan sekolah namun berubah menjadi “singa” di rumah adalah kondisi yang harus dihindari sebisa mungkin.
Untuk mengatasi hal ini, ia menyarankan agar setiap individu memiliki buffer time atau waktu jeda sekitar 10 hingga 15 menit setelah pulang kerja. Waktu transisi ini bisa dimanfaatkan untuk aktivitas relaksasi seperti mandi, menunaikan salat, beristirahat sejenak, atau bahkan sekadar minum bersama pasangan sebelum kembali terlibat dalam urusan domestik rumah tangga.
Bagi Suhadi, periode transisi ini sangat krusial agar seseorang tidak serta-merta membawa seluruh beban dan tekanan yang dialami di tempat kerja langsung ke dalam interaksi dan komunikasi dengan anggota keluarga.
Selain fokus pada peran vital seorang ibu, Suhadi juga secara khusus menekankan betapa pentingnya kehadiran seorang ayah dalam keluarga.
Ia menjelaskan bahwa tugas seorang ayah tidak terbatas hanya pada mencari nafkah. Lebih dari itu, ayah juga dituntut untuk hadir secara emosional dalam setiap aspek kehidupan anak-anak dan seluruh anggota keluarga.
“Tidak mudah menjadi ayah. Silakan hormati gurumu, ustazmu di pondok karena mereka adalah murabbi-mu, tetapi ayah tetap murabbi utama di keluarga,” tegasnya.
Suhadi menggarisbawahi bahwa setiap anak sangat membutuhkan akses terhadap kasih sayang dan perhatian dari ayahnya. Oleh karena itu, seorang ayah wajib menyediakan waktu, memberikan perhatian penuh, serta terlibat aktif dalam setiap tahap proses tumbuh kembang anak.
Menjelang akhir paparannya, Suhadi Fadjaray merangkum tiga poin penting yang menurutnya harus diperhatikan secara seksama demi menjaga keharmonisan dalam sebuah keluarga.
Poin pertama adalah menyinkronkan energi yang dikeluarkan antara lingkungan rumah dan sekolah. Profesi sebagai guru, menurutnya, sangat menguras energi psikologis. Oleh karena itu, rumah seharusnya berfungsi sebagai tempat utama untuk memulihkan kembali tenaga dan menstabilkan emosi. Ia menghubungkan konsep ini dengan Surah Ar-Rum ayat 21, yang berbicara tentang ketenteraman dan kedamaian dalam ikatan keluarga.
Kedua, adalah pentingnya saling menjaga koridor syariat, terutama di tengah arus deras era digital. Suhadi menekankan bahwa suami dan istri harus senantiasa menjaga kehormatan diri dan pasangan, membatasi pergaulan yang tidak sesuai, serta memastikan bahwa nafkah yang diperoleh berasal dari sumber yang halal. Untuk poin ini, ia merujuk pada Surah At-Tahrim ayat 6.
Ketiga, membentengi keluarga dari potensi kelalaian dalam beribadah dan dari berbagai macam distraksi yang ditawarkan oleh zaman modern. Pada bagian ini, Suhadi Fadjaray merujuk pada Surah Taha ayat 132.
Suhadi berpendapat bahwa persoalan terkait karakter anak tidak akan cukup terselesaikan hanya dengan memberikan banyak nasihat atau sanksi. Sebaliknya, orang tua memiliki peran fundamental untuk lebih dahulu menghadirkan keteladanan yang baik.
“Keluarga sakinah adalah impian semua orang, keluarga yang penuh kasih sayang. Namun, tidaklah mudah. Butuh bersama-sama. Tanpa integrasi dan sinergi, tidak akan terwujud karena sejatinya kebahagiaan itu diperjuangkan bersama-sama dan dinikmati bersama-sama,” ungkapnya.
Menjelang penutupan kajian, Suhadi kembali mengingatkan para guru dan karyawan untuk senantiasa memperlakukan anak-anak sebagai amanah yang dipercayakan oleh Allah, yang wajib dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya.
Ia menutup pesannya dengan kalimat inspiratif, “Pandang anak sebagai ‘berlian’, maka di hari tua mereka akan memperlakukan kita sebagai ‘berlian’, bukan beban.”












