KlikMojok – Di bawah langit Kediri yang mendung, sebuah ambulans melaju perlahan, membelah keheningan Dusun Nanas, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Di dalamnya, terbaring jasad Tri Sutrisno (30), korban tragedi KMP Virgo Transport, yang akhirnya kembali ke pangkuan keluarga pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 10.30 WIB. Kedatangan Tri menyusul duka yang sama, setelah beberapa hari sebelumnya, jenazah Aditya Firmansyah, warga Dusun Nanas yang juga menjadi korban KMP Virgo Transport, telah lebih dulu dimakamkan. Kepulangan Tri ini menandai berakhirnya penantian panjang yang diwarnai kecemasan tak berujung bagi keluarganya.
Bagi keluarga Tri, kepastian identitas korban menjadi titik akhir dari kegelisahan yang menguras emosi. Nuyen Fauzi, sepupu Tri, menuturkan bahwa kabar yang dinanti-nanti itu datang dari tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri di Banjarmasin pada Senin (28/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. “Kemarin sore sekitar jam 16.00 kami dari keluarga mendapat kabar dari pihak DVI Polri Banjarmasin bahwa jenazah atas nama Tri Sutrisno, kakak kami, sudah ditemukan,” kata Fauzi, mengenang momen yang campur aduk antara kelegaan dan kesedihan.
Sebelumnya, keluarga tak punya gambaran pasti mengenai kondisi Tri pasca peristiwa nahas yang menimpa KMP Virgo Transport. Ketidakpastian itu melahirkan kecemasan luar biasa. Maka, meski harus menerima kenyataan pahit kehilangan, kabar teridentifikasinya jenazah memberikan sebuah kepastian yang melegakan. “Keluarga sangat-sangat cemas. Sebelumnya kami bingung keadaan beliau seperti apa. Akhirnya dengan kondisi seperti ini sudah ditemukan, kami sekeluarga sudah lega walaupun sebenarnya keadaan seperti ini tidak diinginkan,” ujar Fauzi, suaranya sarat emosi.
Kabar identifikasi Tri juga sampai kepada Kepala Dusun Nanas, Sukarji, sekitar pukul 16.30 WIB dari pihak Jasa Raharja. Tanpa menunda, informasi tersebut segera ia teruskan kepada keluarga. Untuk memastikan kebenarannya, pihak keluarga pun melakukan konfirmasi ulang melalui kerabat yang berada di Banjarmasin. “Jam 16.30 WIB saya mendapat informasi dari Jasa Raharja, langsung komunikasi sama saya. Langsung saya sampaikan pada keluarga,” jelas Sukarji. Sejumlah dokumen administrasi penting, mulai dari identitas orang tua hingga dokumen rekening, telah disiapkan pemerintah desa bersama keluarga untuk kelancaran proses.
Di mata keluarga, Tri Sutrisno bukan sekadar seorang pekerja ekspedisi. Ia adalah sosok yang dikenang karena kebaikan dan selera humornya, serta hubungannya yang erat dengan para kerabat. Fauzi menggambarkan kedekatannya dengan Tri yang sudah seperti saudara kandung. “Baik, kemudian humoris. Kami dari sepupu pun cukup dekat sebenarnya dengan beliau, seperti saudara kandung,” tuturnya. Tri adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, yang mengabdikan dirinya di bidang ekspedisi dengan rute perjalanan rutin Surabaya-Banjarmasin. Jadwal kepulangannya ke rumah memang tak selalu tetap, menyesuaikan ketersediaan muatan, namun biasanya ia bisa pulang sekitar satu bulan sekali. “Biasanya sebulan sekali pasti pulang,” kata Fauzi, mengenang rutinitas itu. Pertemuan terakhir Fauzi dengan Tri terjadi sekitar dua bulan sebelum tragedi, setelah itu Tri belum sempat kembali ke rumah karena tuntutan pekerjaannya.
Di tengah duka yang mendalam atas kehilangan anggota keluarga, Fauzi menyuarakan harapan agar aspek keselamatan dalam perjalanan transportasi menjadi perhatian utama semua pihak terkait. Ia berharap prosedur keselamatan dapat dijalankan secara maksimal, demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. “Yang jelas kita berharap keamanan, keselamatan penumpang itu nomor satu,” tegasnya. Keluarga memang tidak mengetahui secara pasti bagaimana insiden yang menimpa Tri terjadi, sehingga Fauzi berharap evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan dapat dilakukan oleh pihak berwenang.
Kini, keluarga Tri berupaya ikhlas menerima kepergiannya. Mereka berharap, seluruh amal ibadah almarhum diterima di sisi-Nya, dan segala kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja selama hidupnya mendapatkan ampunan. “Semoga amal ibadah beliau diterima dan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja semoga dimaafkan,” ujar Fauzi, menutup perbincangan dengan doa yang tulus. Kepulangan Tri adalah pengingat pahit akan kerapuhan hidup, sekaligus seruan tak terucap bagi keselamatan yang harus selalu menjadi prioritas utama.












