Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pendidikan

Senyum Nisa dan Sepeda Biru: Kejutan Tak Terlupakan di Jembatan Suroboyo Bersama Aksara Unair 2026

badge-check

Senyum Nisa dan Sepeda Biru: Kejutan Tak Terlupakan di Jembatan Suroboyo Bersama Aksara Unair 2026 Perbesar

KlikMojok – Program “Fit and Fun Aksara 2026” sukses menghadirkan suasana berbeda di Jembatan Suroboyo, Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Surabaya, pada Ahad pagi, 27 September 2026. Acara ini merupakan bagian dari inisiatif pengabdian masyarakat Aksara 2026 yang diselenggarakan oleh para mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) di tengah rutinitas Car Free Day (CFD) yang biasa.

Sejak fajar menyingsing, semburat jingga perlahan menyentuh permukaan Selat Madura, menciptakan pemandangan indah di sekitar Jembatan Suroboyo. Tiang-tiang kokoh jembatan itu berdiri tegak di tengah riuh rendah langkah warga yang memanfaatkan jalanan bebas kendaraan. Pagi itu, area sekitar jembatan terasa sejuk dan bebas dari kepulan asap kendaraan, memberikan ruang bagi warga untuk berolahraga, berjalan kaki, dan menikmati suasana akhir pekan yang cerah.

Namun, Ahad pagi tersebut terasa istimewa dengan kehadiran rangkaian kegiatan “Fit and Fun Aksara 2026”. Puluhan warga, mulai dari Ketua RT, Ibu RW, hingga anak-anak pesisir, antusias mengikuti senam bersama di area khusus yang telah steril dari pengguna kendaraan bermotor. Muhammad Wahyu Ramadhani, Dirjen Sosial Masyarakat BEM Unair, turut bergabung dengan warga, menambah semangat kebersamaan.

Begitu musik mulai mengalun, suasana di Jembatan Suroboyo semakin hangat. Tawa riang dan gerak tubuh yang energik berpadu harmonis dengan semilir angin laut yang berembus pelan. Sahrul Efendi, Menteri Pengabdian Masyarakat BEM Unair, sesekali menyemangati para peserta. “Ayo, Ibu-Ibu! Tangannya diangkat lebih tinggi, biar keringatnya keluar semua,” serunya, disambut tawa warga yang mengubah pagi yang biasanya tenang menjadi lebih hidup dan penuh keceriaan.

Kegiatan ini tidak hanya menyediakan aktivitas olahraga bagi warga Sukolilo Baru, tetapi juga menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat pesisir. Salah seorang warga bernama Lulah, yang hadir bersama putrinya, Nisa, tampak sangat menikmati senam tersebut. Nisa, anak perempuan berusia tujuh tahun, terlihat bersemangat mengikuti keramaian yang ada.

Menurut Lulah, inisiatif mahasiswa Unair ini telah menghadirkan warna baru dalam rutinitas Car Free Day di Jembatan Suroboyo. Ia mengamati bagaimana warga yang awalnya hanya berjalan kaki kini tertarik untuk berkumpul dan berpartisipasi. “Acaranya seru sekali. Biasanya kalau Ahad di Jembatan Suroboyo ada CFD biasa,” tutur Lulah, menambahkan bahwa begitu ada Aksara Unair, suasananya menjadi baru dan segar.

Selain senam, panitia juga mengumumkan pemenang lomba anak-anak Sukolilo Baru yang telah diselenggarakan beberapa hari sebelumnya dengan berbagai kategori. Nisa, putri Lulah, diketahui ikut serta dalam lomba mewarnai yang bertemakan pesisir. Sejak awal, perhatian Nisa tertuju pada sebuah kotak besar yang terbungkus kertas kado merah, membayangkan isinya adalah seperangkat alat lukis yang bisa ia gunakan untuk menggambar laut biru Sukolilo Baru.

Satu per satu pemenang lomba dipanggil menuju panggung kecil, diiringi tepuk tangan meriah dari warga yang hadir. Namun, hingga pengumuman lomba berakhir, nama Nisa belum juga terdengar. Wajahnya perlahan murung, menyadari bahwa ia belum memperoleh hadiah yang diimpikannya. Melihat putrinya kecewa, Lulah segera merangkul Nisa dengan lembut. “Tidak apa-apa, Nak. Mungkin hari ini belum rezeki Nisa,” ujarnya, sembari menjanjikan es krim setelah mereka pulang dari CFD. Nisa mengangguk, meskipun pandangannya masih terpaku pada kotak merah misterius tersebut.

Saat itulah rangkaian kegiatan memasuki bagian yang paling dinanti-nantikan oleh semua peserta: pengundian doorprize utama. Panitia bersiap mengundi hadiah kejutan untuk peserta yang hadir pagi itu. Suasana di jembatan mendadak hening ketika Muhammad Wahyu Ramadhani berdiri di depan mikrofon, membawa wadah berisi kupon undian.

“Ini adalah momen yang kita tunggu-tunggu,” ujar Wahyu kepada warga, menjelaskan bahwa hadiah utama doorprize pagi itu adalah sebuah kotak misteri yang sangat besar. Dengan hati-hati, ia mengaduk gulungan kupon sebelum mengambil satu lembar secara perlahan. Angin laut berembus pelan, seolah ikut menanti nomor undian disebutkan. “Nomor undian yang beruntung adalah… kosong, empat, dua!” teriak Wahyu.

Namun, tidak seorang pun langsung maju ke depan. Warga saling memeriksa kupon masing-masing dengan wajah penuh tanda tanya. Lulah kemudian meraba kantong celananya, baru teringat bahwa kupon miliknya ternyata berada dalam tas suaminya, yang saat itu sedang membeli air minum di ujung jembatan. Kesempatan Nisa untuk mendapatkan hadiah seolah kembali menjauh.

Akan tetapi, kejutan justru datang beberapa detik kemudian. Seorang mahasiswa panitia berlari dari belakang kerumunan sambil membawa sebuah kupon yang ia temukan di sekitar matras senam. “Tunggu, Kak Wahyu! Ini ada kupon warga yang tadi terjatuh,” serunya. Wahyu segera mencocokkan nomor kupon tersebut dengan nomor undian yang telah disebutkan. Hasilnya membuat suasana berubah dalam sekejap.

“Luar biasa! Ternyata nomornya tepat sama!” seru Wahyu dengan gembira. “Pemilik kupon ini atas nama Adik Nisa dari RT 003!” Nisa tersentak mendengar namanya, sementara Lulah terbelalak sebelum tersenyum penuh haru. Sorak-sorai warga langsung memenuhi area Jembatan Suroboyo, dan Nisa berlari menuju panggung dengan langkah kecil yang penuh kegembiraan.

Panitia kemudian menyerahkan kotak merah yang sejak awal menarik perhatian Nisa. Dengan jemari gemetar, Nisa membukanya di tengah kerumunan. Isi kotak tersebut ternyata bukan seperangkat alat lukis seperti yang ia bayangkan, melainkan sebuah sepeda lipat berwarna biru langit. Panitia juga melengkapinya dengan buku gambar besar dan sekotak krayon, menjadikan hadiah itu kejutan yang melampaui bayangan Nisa sebelumnya.

Matahari mulai meninggi ketika Nisa menuntun sepeda barunya menyusuri area CFD, senyumnya menjadi penutup manis bagi pagi yang penuh kejutan tersebut. Kegiatan “Fit and Fun Aksara 2026” akhirnya meninggalkan cerita sederhana tentang harapan yang sempat terasa hilang, namun kembali melalui kejutan yang lebih indah. Di atas Jembatan Suroboyo, pagi itu bukan hanya menghadirkan kebugaran, melainkan juga mempertemukan warga, mahasiswa, dan kebahagiaan dalam satu ruang yang penuh makna.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kepulangan Sunyi Tri Sutrisno: Jejak Duka dan Harapan Keselamatan Pasca Tragedi KMP Virgo Transport di Kediri

29 Sep 2026 - 21:04 WIB

Kepulangan Sunyi Tri Sutrisno: Jejak Duka dan Harapan Keselamatan Pasca Tragedi KMP Virgo Transport di Kediri

Masa Depan yang Terombang-ambing Ombak: Kisah Pendidikan Empat Putri Tihwin Pasca Tragedi Masalembo

29 Sep 2026 - 21:03 WIB

Masa Depan yang Terombang-ambing Ombak: Kisah Pendidikan Empat Putri Tihwin Pasca Tragedi Masalembo

Menyulam Kesiapsiagaan di Rimba Mojokerto: Mengapa ‘Jungle Rescue’ BPBD Krusial bagi Keselamatan Wisatawan

29 Sep 2026 - 18:46 WIB

Menyulam Kesiapsiagaan di Rimba Mojokerto: Mengapa ‘Jungle Rescue’ BPBD Krusial bagi Keselamatan Wisatawan

Gelombang Kesadaran di Paciran: Merajut Tanggung Jawab demi Pelayaran yang Beradab

29 Sep 2026 - 18:45 WIB

Gelombang Kesadaran di Paciran: Merajut Tanggung Jawab demi Pelayaran yang Beradab

Indonesia Jadi Tuan Rumah IMSO 23: Ajang Adu Nalar dan Pertukaran Budaya bagi Ratusan Siswa Dunia

29 Sep 2026 - 18:44 WIB

Indonesia Jadi Tuan Rumah IMSO 23: Ajang Adu Nalar dan Pertukaran Budaya bagi Ratusan Siswa Dunia
Trending di Pendidikan