KlikMojok – Di tengah rimbunnya hijaunya Perkebunan Jengkol, Plosoklaten, Kediri, sebuah cerita tentang kehilangan mendalam kini mulai merebak, bukan sekadar benda, melainkan sepotong jejak peradaban yang berumur ratusan tahun. Sebuah arca yang diidentifikasi sebagai Patung Durga, dilaporkan hilang secara misterius dari lokasi keberadaannya pada Sabtu, 19 September 2026, memicu keprihatinan serius di kalangan pelestari sejarah dan budaya.
Kejadian ini pertama kali dilaporkan oleh Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK) kepada Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK3), Imam Mubarok. Oki, salah seorang anggota PASAK, adalah orang pertama yang menyadari hilangnya arca tersebut. Ia menyampaikan laporannya pada Sabtu sore, setelah melakukan kunjungan rutin ke kawasan Jengkol yang kaya akan tinggalan sejarah.
Oki memiliki dokumentasi Patung Durga yang diambilnya pada 16 Desember 2025, saat arca tersebut masih kokoh berada di tempatnya. Namun, ketika ia kembali mendatangi lokasi yang sama pada Sabtu, 19 September 2026, pemandangan yang ia dapati sungguh mengejutkan. Arca itu telah tiada.
“Pada 16 Desember 2025 saya masih memotret Patung Durga itu di lokasi. Hari ini, pukul 16.46 WIB, ketika saya kembali ke sana, patung tersebut sudah hilang dari tempatnya,” kata Oki dalam laporan yang disampaikannya kepada Ketua DK3, Gus Barok.
Arca ini dikenal memiliki posisi tribhaṅga, sebuah sikap tubuh dengan lekukan menyerupai huruf S yang sangat khas dalam tradisi seni arca Hindu-Jawa. Karakteristik ini menunjukkan nilai artistik dan historisnya yang tinggi. Meskipun demikian, identifikasi, periodisasi, status hukum, serta nilai arkeologis objek tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh instansi dan tenaga ahli berwenang.
Menanggapi laporan yang mendesak ini, Imam Mubarok yang akrab disapa Gus Barok, segera mengambil langkah cepat dengan melakukan konfirmasi langsung kepada petugas keamanan di kawasan Perkebunan Jengkol. Titus, salah satu petugas keamanan di lokasi, membenarkan bahwa arca tersebut memang sudah tidak berada di tempatnya. Keterangan serupa juga disampaikan oleh Asep, petugas keamanan lainnya. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Jumani, petugas kebersihan di kawasan tersebut, arca itu diketahui telah hilang pada Sabtu pagi dan diduga telah dicabut dari tempatnya.
“Informasi yang kami terima, pagi tadi patung itu sudah tidak ada. Dari kondisi tempatnya, patung tersebut disebut telah dicabut,” ujar Asep sebagaimana diteruskan kepada DK3, menggambarkan bagaimana arca itu mungkin dipindahkan secara paksa.
Setelah memperoleh konfirmasi awal dari lapangan, Imam Mubarok selaku Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri tidak menunda lagi dan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Prayitno Adi, S.Sos., M.M. Mustika menyampaikan bahwa laporan hilangnya arca ini akan segera ditindaklanjuti, termasuk dengan membuat laporan resmi kepada pihak kepolisian.
Tak hanya itu, Ketua DK3 juga segera mengonfirmasi kejadian ini kepada Kapolres Kediri AKBP Dr. Muh. Wahyudin Latif, S.H., S.I.K., M.Si. Kapolres menekankan pentingnya penanganan cepat dan meminta agar kejadian itu segera dilaporkan secara resmi kepada kepolisian. Laporan dapat disampaikan melalui Polsek maupun Polres Kediri sehingga proses penyelidikan dapat segera dilakukan. “Segera membuat laporan, bisa di Polsek maupun Polres. Ini menjadi atensi prioritas,” tegas AKBP Muh. Wahyudin Latif, menggarisbawahi urgensi kasus ini.
Imam Mubarok menyatakan bahwa hilangnya objek yang diduga memiliki nilai sejarah dan arkeologis ini harus ditangani dengan cepat dan komprehensif. Selain upaya pencarian terhadap arca, menurutnya, penanganan juga perlu memastikan status objek, pendokumentasian lokasi, serta pengamanan tinggalan sejarah lain yang masih berada di kawasan Jengkol. “Yang paling mendesak sekarang adalah memastikan lokasi tidak berubah, mengumpulkan dokumentasi dan keterangan saksi, serta melakukan penelusuran secepat mungkin. Kalau benar objek ini merupakan tinggalan arkeologis, kehilangan ini bukan sekadar hilangnya sebuah benda, tetapi hilangnya bagian dari jejak sejarah Kediri,” kata Gus Barok, dengan nada prihatin, menyoroti dampak besar dari kehilangan ini terhadap pemahaman sejarah dan pendidikan budaya di Kediri.
Hingga Sabtu malam, tabir misteri masih menyelimuti peristiwa ini. Belum diketahui siapa pelaku pencurian arca tersebut, kapan tepatnya arca dipindahkan, maupun ke mana objek itu dibawa. Kepastian mengenai dugaan tindak pidana dan status arkeologis arca menunggu pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut dari instansi berwenang dan pihak kepolisian. Hilangnya Patung Durga ini menjadi pengingat pahit akan kerapuhan warisan budaya di tengah ancaman penjarahan dan kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga jejak-jejak peradaban masa lalu bagi pendidikan dan identitas sebuah bangsa.












