Menu

Mode Gelap
Tahun Kedua, SDIT Nurul Fikri Tulungagung Kembali Lahirkan Pramuka Garuda 81 Tahun Merdeka, Sudahkah Kita Memahami Makna Kemerdekaan? Perdana Siswi Jadi Paskibra, Upacara HUT Pramuka di SIT Insan Kamil Makin Berkesan Teguhkan Ruhiyah, Recharge Semangat Guru SIT se-Jember melalui BPI Akbar Tak Sekadar Ziarah, Cara KBIT BIC Kenalkan Sejarah dan Kepahlawanan kepada Anak Lebih dari Sekadar Seragam: Makna Sejati Pramuka

Berita Terkini

Teguhkan Ruhiyah, Recharge Semangat Guru SIT se-Jember melalui BPI Akbar

badge-check


					Teguhkan Ruhiyah, Recharge Semangat Guru SIT se-Jember melalui BPI Akbar Perbesar

JEMBER — Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh seorang guru sebelum masuk ke kelas. Materi pembelajaran, metode mengajar, administrasi, hingga berbagai kebutuhan siswa menjadi bagian dari keseharian seorang pendidik.

Namun, di balik semua itu ada satu hal yang tidak kalah penting untuk terus dijaga, yaitu kondisi diri seorang guru.

Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam Zoominar Bina Pribadi Islam (BPI) Akbar yang diikuti oleh seluruh guru dan karyawan Sekolah Islam Terpadu (SIT) se-Jember, Jumat, 14 Agustus 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom.

Mengusung tema “Teguhkan Ruhiyah, Raih Kejayaan Dakwah, dengan Menapaki Jejak Mulia Rasulullah SAW”, kegiatan ini menjadi ruang bagi para guru untuk sejenak mengambil jeda dari rutinitas, mendapatkan penguatan, sekaligus kembali mengingat peran yang sedang dijalankan sebagai pendidik.

Kegiatan menghadirkan Ust. Edris Effendi, S.T., M.PSDM sebagai Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, sebagai pemateri.

Bukan Hanya tentang Mengajar

Dalam penyampaiannya, Ust. Edris mengajak para guru melihat kembali makna menjadi seorang pendidik.
Guru tentu membutuhkan kemampuan dan keterampilan dalam mengajar. Namun, menjadi pendidik tidak berhenti pada aspek keilmuan dan keterampilan saja. Ada sisi spiritual, emosional, kepribadian, serta moral dan sosial yang juga menjadi bagian dari sosok seorang guru.

Karena itu, keteladanan menjadi salah satu bagian penting dalam proses pendidikan.

Siswa tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan guru di dalam kelas. Mereka juga belajar dari bagaimana guru berbicara, bersikap, memperlakukan orang lain, menghadapi masalah, bahkan ketika guru sedang berada dalam situasi yang tidak mudah.

Dalam materi yang disampaikan, keteladanan pendidik dikaitkan dengan sosok Rasulullah SAW yang menjadi teladan dalam kehidupan. Pendidikan melalui keteladanan menjadi sesuatu yang dekat dengan keseharian guru.

Apa yang dilakukan guru secara langsung dapat menjadi contoh bagi siswa.
Hal-hal sederhana seperti bersikap lembut, memberikan kasih sayang, menjaga perkataan, dan memperlakukan siswa dengan baik menjadi bagian dari proses mendidik.

Menjaga Ruhiyah di Tengah Rutinitas

Menjadi guru juga berarti berhadapan dengan berbagai dinamika. Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Ada yang mudah diarahkan, ada yang membutuhkan perhatian lebih, dan ada pula yang memerlukan pendekatan secara perlahan.

Dalam kondisi seperti itu, kesabaran menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.
Karena itulah, kekuatan ruhiyah menjadi salah satu bekal yang perlu dijaga oleh seorang pendidik.

Ruhiyah dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang jauh atau rumit. Ia justru dekat dengan keseharian seorang guru. Bagaimana seorang guru menjaga hubungan dengan Allah, menjaga ibadah, memperbaiki niat, memperbanyak doa, dan berusaha tetap memiliki waktu untuk mendekat kepada Allah di tengah kesibukan.Sebab guru juga manusia biasa.

Ada kalanya merasa lelah, jenuh, atau menghadapi hari-hari yang tidak berjalan sesuai harapan. Di saat seperti itu, guru membutuhkan tempat untuk kembali menguatkan diri.
Kedekatan kepada Allah menjadi salah satu sumber kekuatan tersebut.

Materi juga mengajak para pendidik untuk memperhatikan amal yaumi dan menjaga amalan secara istiqamah. Bukan semata-mata tentang melakukan banyak hal sekaligus, tetapi bagaimana kebaikan-kebaikan tersebut dapat dijaga secara konsisten dalam keseharian.
Hal-hal yang terlihat sederhana justru bisa menjadi bagian dari proses menjaga kondisi ruhiyah seorang guru.

Ruhiyah dan Cara Menghadapi Siswa

Kondisi ruhiyah seorang guru pada akhirnya juga dapat berpengaruh terhadap bagaimana ia menjalankan tugasnya.

Guru yang sedang berada dalam kondisi yang baik tentu diharapkan lebih mampu menghadirkan kesabaran, kepekaan, dan sikap yang baik ketika berhadapan dengan siswa.
Sebaliknya, ketika kondisi diri sedang tidak baik, berbagai persoalan kecil pun terkadang bisa terasa lebih berat.

Karena itu, guru perlu belajar mengenali dan menjaga kondisi dirinya sendiri.
Dalam materi juga dibahas bagaimana menghadapi masalah siswa dengan lebih bijaksana. Pendekatan kepada siswa tidak hanya soal memberikan aturan atau menegur ketika terjadi kesalahan. Guru juga perlu memahami kondisi siswa dan berusaha melihat persoalan dengan lebih utuh.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam memperlakukan umat dengan kelembutan dan kasih sayang menjadi salah satu rujukan dalam pembahasan tersebut.
Bagi seorang guru, kelembutan bukan berarti kehilangan ketegasan. Keduanya dapat berjalan bersama. Guru tetap memiliki aturan dan batasan yang perlu dijaga, tetapi dalam menyampaikannya tetap mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan siswa.

Guru Juga Perlu Diisi Kembali

Di tengah rutinitas pendidikan yang cukup padat, guru juga membutuhkan ruang untuk mengisi kembali dirinya.
BPI Akbar menjadi salah satu ruang tersebut.

Melalui kegiatan ini, para guru tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga diajak melakukan refleksi. Salah satunya melalui pertanyaan sederhana tentang kebiasaan ibadah dan aktivitas ruhiyah yang sudah dilakukan selama ini.

Refleksi semacam ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali diri masing-masing.

Sudahkah waktu untuk mendekat kepada Allah tetap terjaga di tengah kesibukan? Sudahkah doa menjadi bagian dari ikhtiar ketika mendampingi siswa? Sudahkah guru memberikan keteladanan sebagaimana yang diharapkan dari seorang pendidik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus langsung dijawab dengan sempurna.

Justru dari situlah proses perbaikan bisa dimulai.

Spiritual sebagai Pangkal

Salah satu pesan penting dalam materi adalah bahwa kondisi spiritual menjadi salah satu pangkal yang dapat memengaruhi berbagai sisi kehidupan seorang pendidik.
Ketika ruhiyah terjaga, diharapkan muncul kesabaran dalam menghadapi berbagai keadaan, kepekaan dalam melihat kebutuhan siswa, perilaku yang lebih baik, serta daya juang yang tetap terpelihara.

Hal tersebut pada akhirnya juga dapat mendukung seorang guru dalam menjalankan tugasnya dengan lebih baik.

Guru tidak dituntut untuk selalu berada dalam kondisi sempurna. Yang lebih penting adalah terus memiliki kemauan untuk memperbaiki diri dan kembali ketika merasa mulai jauh atau kehilangan semangat.

Di situlah proses menjaga ruhiyah menjadi penting.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

SDIT Ar Ruhul Jadid Wakili Kecamatan Jombang di Pesta Siaga 2026

13 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Lagu MBG Viral, Golkar: Rakyat Senang itu Yang Penting

29 Mei 2026 - 13:15 WIB

Prabowo Beli Sapi Kurban dengan APBN, Gerindra: Sah dan Tidak Melanggar Hukum

27 Mei 2026 - 15:43 WIB

Mengenang Maria Bernadeth, Istri Pendiri Kompas Gramedia yang Berpulang

27 Mei 2026 - 10:14 WIB

Puncak Haji di Padang Arafah: 1,6 Juta Jemaah Berkumpul dalam Kekhusyukan

26 Mei 2026 - 21:37 WIB

Trending di Berita Terkini