Pasuruan— Apa yang bisa dipelajari anak usia dini dari sebuah Taman Makam Pahlawan?
Bagi 60 siswa KBIT Bina Insan Cendekia (BIC) Kota Pasuruan, jawabannya bukan sekadar mengenal makam para pejuang. Mereka belajar tentang cinta tanah air, menghargai jasa pahlawan, hingga memahami arti kemerdekaan yang mereka rasakan saat ini.

Pembelajaran itu dilakukan melalui kegiatan ziarah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Pasuruan pada Selasa-Rabu, 11-12 Agustus 2026. Kegiatan digelar dalam rangka memperingati bulan kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menguatkan pembelajaran Aku Cinta Indonesia.

Kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran kontekstual. Anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita tentang pahlawan di dalam kelas, tetapi diajak datang langsung ke tempat para pejuang dimakamkan.
Sebelum berangkat, guru terlebih dahulu mengenalkan sosok dan perjuangan sejumlah pahlawan Indonesia. Salah satunya Untung Suropati, tokoh perjuangan yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah Pasuruan.
Pengenalan tokoh dilakukan melalui kegiatan bercerita dengan bahasa sederhana. Dengan cara tersebut, anak-anak diajak mengenal sejarah sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Bukan hanya soal sejarah, guru juga mengenalkan adab ketika berkunjung ke makam. Anak-anak diajak untuk bersikap sopan, menjaga ketenangan, tidak bermain-main, serta menghormati tempat dan orang-orang yang telah berjasa bagi bangsa.
Setelah mendapatkan pembekalan, siswa bersama guru melaksanakan ziarah di TMP Kota Pasuruan. Mereka berdoa untuk para pahlawan dan melakukan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan atas jasa serta perjuangan para pejuang kemerdekaan.
Kepala KBIT Bina Insan Cendekia, Indarti Widiya Laksana, S.Pd.AUD, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara sekolah menanamkan nilai kepahlawanan dan rasa syukur sejak usia dini.
“Kita berharap anak-anak belajar bersyukur atas karunia kemerdekaan yang telah Allah berikan selama 81 tahun ini. Selain itu, mereka juga tumbuh dengan sikap menghargai jasa dan perjuangan para pahlawan,” ujar Indarti.
Menurutnya, pembelajaran tentang cinta tanah air tidak harus selalu dilakukan melalui materi di dalam kelas. Anak-anak juga perlu mendapatkan pengalaman langsung agar nilai yang dipelajari lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Bagi anak-anak KBIT BIC, kunjungan ke TMP menjadi pengalaman sederhana yang mempertemukan mereka dengan sejarah di lingkungan tempat tinggalnya.
Dari sana, mereka belajar bahwa kemerdekaan bukan sesuatu yang hadir begitu saja. Ada perjuangan panjang yang dilakukan para pendahulu dan layak untuk dikenang serta dihargai.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berharap nilai kepahlawanan, rasa syukur, dan cinta tanah air dapat tumbuh sejak dini dan menjadi bagian dari karakter anak dalam kehidupan sehari-hari.












