MAGETAN – Kobaran api terlihat di halaman MIT Nurul Amal Parang. Namun, api tersebut bukan ancaman. Melainkan bagian dari praktik pembelajaran mitigasi bencana yang diikuti para siswa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi Mitigasi dan Adaptasi Kebencanaan yang digelar MIT Nurul Amal Parang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan.

Para siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai berbagai jenis bencana. Mereka juga diajak mengenali potensi bahaya dan mempraktikkan langkah yang tepat saat menghadapi kondisi darurat.

Salah satu praktik yang menarik perhatian siswa adalah simulasi penanganan kebakaran. Dengan pendampingan petugas BPBD, siswa dikenalkan pada cara merespons situasi kebakaran dengan tetap mengutamakan keselamatan.
Kepala MIT Nurul Amal Parang Sulis Nuryani, S.Pd., mengatakan pendidikan kebencanaan perlu dikenalkan sejak usia sekolah. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami konsep mitigasi secara teori, tetapi juga memiliki kesiapan ketika menghadapi kondisi darurat.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar tentang bencana secara teori, tetapi juga memiliki kesiapsiagaan ketika menghadapi kondisi darurat. Melalui kerja sama dengan BPBD Kabupaten Magetan, anak-anak mendapatkan pengalaman langsung dari pihak yang kompeten di bidang kebencanaan,” ujarnya.
Menurut Sulis, pembelajaran mitigasi bencana juga berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Siswa dilatih untuk tetap tenang, mengenali risiko, menjaga keselamatan diri, sekaligus memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berharap siswa memiliki pengetahuan dan pengalaman dasar untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana di lingkungan sekitar.
Kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Magetan juga menjadi upaya sekolah membangun budaya kesiapsiagaan sejak dini. Sebab, menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan mengetahui risikonya, tetapi juga perlu memahami tindakan yang harus dilakukan.
Bagi MIT Nurul Amal Parang, kesiapsiagaan bukan sesuatu yang baru dipelajari ketika bencana terjadi. Pengetahuan dan keterampilan menghadapi situasi darurat perlu dilatih sejak dini agar siswa mampu bersikap tepat ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang siap, tanggap, dan peduli terhadap keselamatan diri maupun lingkungan.












