Menjadi petugas haji bukan sekadar mendampingi jemaah ke Tanah Suci. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menekankan, tugas ini menuntut kesiapan fisik, kemampuan komunikasi, hingga pemahaman fikih haji. Karena itu, rekrutmen petugas haji untuk musim 2026 akan dilakukan lebih ketat.
Rekrutmen dijadwalkan mulai November 2025. Mereka yang lolos seleksi akan masuk pelatihan intensif selama tiga hingga empat minggu di embarkasi haji. “Banyak keluhan dari jemaah terkait petugas yang kurang optimal menjalankan tugasnya. Maka, mulai tahun depan kita perketat,” kata Jubir Kemenhaj, Dahnil, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/9).

Pelatihan mencakup tiga aspek utama: ketahanan fisik, fikih dasar haji, dan bahasa Arab dasar. Dahnil menekankan pentingnya ketiganya agar petugas siap menghadapi dinamika di lapangan. “Minimal mereka kuat berjalan, mengangkat, paham fikih, dan bisa menjawab pertanyaan dasar dengan bahasa Arab,” ujarnya.
Jumlah kuota jemaah haji Indonesia pada 1447 Hijriah/2026 tetap sama, yakni sekitar 220 ribu orang. Dari jumlah itu, 92 persen diperuntukkan bagi jemaah reguler dan sisanya haji khusus. Layanan jemaah akan ditangani dua perusahaan penyedia layanan, Rakeen Mashariq Al Mutamayizah Company For Pilgrim Service dan Albait Guest.
Seorang mutawwif, Iqdam Aun Rafiq, turut mengingatkan calon petugas agar memperkuat wawasan ibadah haji, menguasai bahasa internasional, menjaga kekompakan, serta menjalin komunikasi baik dengan ketua rombongan (karom), ketua regu (karu), maupun pembimbing KBIHU. “Kerjasama tim adalah kunci sukses dalam mendampingi jemaah,” tulisnya dalam unggahan di media sosial.








