Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Vibes

Indomie Ditarik di Taiwan: Etilen Oksida Itu Apa Sih?

badge-check


					Indomie Ditarik di Taiwan: Etilen Oksida Itu Apa Sih? Perbesar

Pasti pada tau kan, jagat maya lagi heboh banget nih soal kabar Indomie varian rasa Soto Banjar Limau Kuit yang ditarik dari peredaran di Taiwan gara-gara dituduh mengandung etilena oksida (EtO)? Nah, akhirnya BPOM buka suara juga! Mereka bilang udah terima info resmi dari pemerintah Taiwan terkait produk keluaran PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (Indofood) ini.

Dari keterangan resmi BPOM di websitenya, mereka menjelaskan kalau Indofood selaku produsen udah kasih klarifikasi. Katanya sih, produk mi instan yang bikin geger di Taiwan itu bukan produk yang diekspor secara resmi ke sana. Indofood menduga, produk tersebut masuk ke Taiwan lewat trader atau pedagang yang bukan importir resmi, jadi ini tanpa sepengetahuan mereka.

Indofood sendiri, menurut BPOM, lagi gencar menelusuri bahan baku yang dipakai buat Indomie Soto Banjar Limau Kuit ini. Hasilnya nanti bakal langsung dilaporkan ke BPOM. Eh, tapi tim Tempo sempat coba konfirmasi ke Fransiscus Welirang, Direktur Indofood Sukses Makmur, lho. Sayangnya, sampai berita ini rilis, belum ada respons dari beliau.

Terus, kenapa sih Taiwan kok ‘rewel’ banget soal EtO ini? Ternyata, standar mereka memang beda banget. Taiwan nggak memperbolehkan sedikit pun etilena oksida ada di produk pangan. Beda sama beberapa negara lain kayak Amerika Serikat, Uni Eropa, dan bahkan Indonesia yang punya batasan khusus. Negara-negara ini misahin standar antara EtO dan 2-kloroetanol (2-CE) sebagai senyawa turunannya, bukan EtO total.

Fyi aja nih, Codex Alimentarius Commission, organisasi internasional di bawah WHO dan FAO, juga belum mengatur batas maksimal residu EtO sampai sekarang. Jadi, belum ada standar baku global. Nah, karena itu, BPOM menegaskan kalau Indomie varian Soto Banjar Limau Kuit ini udah punya izin edar BPOM di Indonesia. Artinya, aman dong buat kita konsumsi di sini!

Apa Itu Etilena Oksida? Biar Nggak Salah Paham

Biar makin jelas, yuk kita kepoin Etilena Oksida (EtO) ini sebenarnya apaan sih? Menurut Iskandar Azmy Harahap, peneliti muda dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), EtO itu dipakai buat mencegah bakteri salmonella (biang kerok diare) tumbuh di makanan selama penyimpanan dan pengiriman. Nah, setelah disterilkan pakai EtO, produknya harus ‘diangin-anginin’ alias aerasi selama 24 jam biar residunya hilang total.

Tapi nih, kata Azmy, kalau sirkulasi udara pas penyimpanan nggak bagus, bisa jadi ada sisa EtO yang ketinggalan. Nah, residu ini bisa jadi pemicu terbentuknya senyawa beracun lain yang namanya 2-CE. FYI, 2-CE ini muncul dari reaksi antara EtO dan klorin alami yang ada di bahan makanan.

Jadi, Azmy bilang, kalau ada sisa EtO atau 2-CE di bumbu mi instan, kemungkinan besar itu dari bahan baku kayak minyak nabati atau rempah-rempah yang udah terkontaminasi duluan pas proses produksi atau penyimpanan. Yang pasti, EtO dan 2-CE ini nggak muncul secara alami di makanan atau minuman kita.

Nah, yang bikin EtO ini jadi sorotan, Azmy juga bilang kalau pemakaian EtO itu bahaya banget buat manusia dan lingkungan. Soalnya, senyawa ini gampang kebakar, bersifat mutagenik (bisa bikin mutasi genetik), dan yang paling bikin khawatir: karsinogenik alias pemicu kanker!

Meski bahaya EtO dan turunannya (2-CE) ini udah cukup jelas, tapi para ilmuwan ternyata masih belum sepakat soal batas maksimal dan penggunaannya. Kenapa? Karena data tentang 2-CE itu belum lengkap, guys. WHO sendiri merekomendasikan agar batasan EtO dijaga seminimal mungkin.

Walaupun 2-CE juga punya potensi efek mutagenik, tapi belum ada bukti kuat yang bilang kalau dia lebih bahaya dari EtO. Berhubung data potensi risiko keracunannya masih minim, ya, 2-CE ini harus dianggap sama bahayanya dengan EtO secara toksikologi.

Tapi ada kabar baiknya nih! Azmy menyebutkan kalau jurnal Food and Chemical Toxicology punya kesimpulan lain. Setelah meneliti bukti karsinogenisitas dan data relevan, mereka bilang kalau nggak ada bukti yang menunjukkan bahwa 2-CE itu bisa menyebabkan kanker.

Ditambah lagi, belum ada bukti genotoksisitas (kemampuan merusak materi genetik yang bikin mutasi DNA) buat 2-CE dan senyawa sejenisnya. Beda banget sama EtO yang justru bisa merusak DNA secara langsung. Jadi, 2-CE mungkin nggak se-seram EtO yang asli.

Pilihan Editor: Alasan Indomie Ditarik di Taiwan, Tapi Aman di Indonesia

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ingin Turun Berat Badan? Ini 5 Olahraga yang Paling Realistis untuk Perempuan

31 Desember 2025 - 15:57 WIB

Keluarga Korban Kembalikan Santunan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, Hanya Ingin Rida Kiai-Guru

2 Oktober 2025 - 10:17 WIB

Santunan Duka Al Khoziny

Fakta di Balik Perceraian Pratama Arhan dan Azizah Salsha

1 Oktober 2025 - 04:01 WIB

Mendag Revisi Aturan Larangan Campur Gula Rafinasi

29 September 2025 - 19:50 WIB

Ini Evaluasi Pemerintah terhadap Kasus Keracunan Makanan MBG

29 September 2025 - 01:10 WIB

Trending di Vibes