Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Tulisan

Sidoarjo: Kota Penyangga yang Terlalu Lelah untuk Dibanggakan

badge-check


					Sidoarjo: Kota Penyangga yang Terlalu Lelah untuk Dibanggakan Perbesar

Dibilang tidak cinta kampung halaman itu seperti dosa sosial. Nada suaranya bisa berubah dari sindiran halus sampai penghakiman massal. Tapi jujur saja, bagaimana caranya pura-pura bangga kalau hidup sehari-hari di Sidoarjo justru lebih sering bikin lelah daripada lega?

Kabupaten yang sering disebut sebagai “gerbang Surabaya” ini rasanya memang lebih cocok disebut tempat singgah. Bukan karena orang-orangnya tidak ramah, tapi karena tata hidupnya seolah tidak pernah benar-benar dirancang untuk ditinggali dengan nyaman. Terutama kalau kamu hidup di sekitar Gedangan, Waru, atau Candi. Di kawasan-kawasan itu, dada sesak bukan metafora, tapi efek samping harian dari macet, bising, dan kekacauan yang dianggap biasa.

Macetnya serius, solusinya cuma klakson

Macet di Sidoarjo bukan peristiwa insidental. Ia adalah rutinitas. Mau berangkat pagi, siang, atau malam, jalanan tetap padat. Dari arah Surabaya ke Sidoarjo atau sebaliknya, semuanya seperti antre tanpa tujuan jelas.

Yang mengherankan, kondisi ini seolah diterima sebagai takdir. Trotoar tidak ramah pejalan kaki, zebra cross lebih mirip hiasan, dan lampu lalu lintas kadang terasa seperti saran, bukan aturan. Di titik tertentu, klakson menggantikan fungsi rambu. Lawan arah jadi strategi bertahan hidup, bukan pelanggaran.

Warga lokal sudah kebal. Bukan karena sabar, tapi karena pasrah.

Tata kota yang tumbuh tanpa arah

Harus diakui, Sidoarjo berkembang. Mall bertambah, perumahan menjamur, kafe estetik bermunculan. Tapi pertumbuhannya seperti tanaman liar: hidup, tapi tidak dirawat.

Jalan kecil makin sempit karena parkir sembarangan. Kawasan hunian makin jauh dari pusat aktivitas. Ruang terbuka hijau terdengar seperti konsep bagus di presentasi, tapi sulit ditemukan di kehidupan nyata. Bahkan kalau ada taman, sering kali terasa setengah jadi: ada tamannya, tapi tidak ada tempat duduk; ada jalan, tapi drainasenya membuat genangan.

Pemerintah daerah tampak rajin membangun, tapi sering lupa satu hal penting: keterhubungan. Bangunan berdiri, tapi aksesnya tertinggal. Kota tumbuh, tapi warganya terseok.

Gotong royong tinggal cerita lama

Yang paling mengiris sebenarnya bukan macet atau tata kota, melainkan perubahan sosial yang pelan tapi terasa. Dulu, kerja bakti ramai. Ronda malam hidup. Tetangga saling kenal, saling peduli.

Sekarang, banyak warga tinggal di perumahan tertutup. Sapa tetangga jadi formalitas. Undangan pengajian disebar lewat grup WhatsApp, lalu tenggelam di antara notifikasi lain. Gotong royong bergeser menjadi iuran. Kepedulian sosial makin tipis, bukan karena orang jahat, tapi karena kota ini tidak lagi memberi ruang untuk itu tumbuh.

Memang, ini penyakit banyak kota satelit. Tapi tetap saja, rasanya getir ketika mengalaminya sendiri.

Ingin dipuji, tapi malas berdandan

Kalau boleh dianalogikan, Sidoarjo seperti datang ke pesta pakai sandal jepit, tapi berharap dipotret paling depan. Ingin disebut kota penyangga Surabaya, tapi infrastrukturnya tertatih. Ingin punya identitas, tapi yang dijual justru label-label lama yang ironis: kota udang atau lumpur Lapindo, yang lebih dekat ke tragedi daripada prestasi.

Kadang saya bingung harus bangga pada bagian yang mana.

Kritik ini bukan kebencian

Menulis ini bukan karena benci. Justru sebaliknya. Kritik lahir dari harapan. Dari keinginan untuk suatu hari bisa berkata, “Ini kotaku, dan aku bangga.”

Banyak warga Sidoarjo ingin membanggakan daerahnya. Tapi kebanggaan tidak bisa dipaksakan. Ia lahir dari kualitas hidup, dari kota yang ramah pada warganya, dari tata ruang yang masuk akal, dan dari kebijakan yang berpihak pada manusia, bukan sekadar bangunan.

Jadi, kalau ada yang bertanya kenapa saya belum bangga pada Sidoarjo, jawabannya sederhana: karena saya masih menunggu. Menunggu kota ini benar-benar berbenah, bukan hanya berdandan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Di Era Konten, Humas Bukan Sekadar Tukang Posting

12 Februari 2026 - 15:40 WIB

Pilkada: Langsung vs Perwakilan

14 Januari 2026 - 10:40 WIB

Regenerasi Kepemimpinan Sekolah sebagai Keniscayaan

14 Januari 2026 - 10:34 WIB

Urgensi Periodisasi Kepala Sekolah

14 Januari 2026 - 10:19 WIB

Ketika Kebaikan Dikhianati: Kisah Ibnu Humair dan Ular Licik

29 Desember 2025 - 17:18 WIB

Trending di Tulisan