Ada sebuah pepatah Afrika yang sangat mendalam: “It takes a village to raise a child.” Dalam dunia pendidikan hari ini, “desa” itu adalah kolaborasi antara orang tua, masyarakat, dan—yang berdiri di garis depan—para guru. Di balik seragam dan ruang kelas yang tampak sederhana, tersimpan ribuan jam kerja, kesabaran yang luar biasa, serta doa-doa diam seorang guru agar para siswanya tumbuh menjadi generasi terbaik.

Namun, di tengah derasnya arus sosial dan perubahan zaman, apresiasi terhadap profesi guru seringkali terlupakan, bahkan tersisih oleh ketidaktahuan dan kesalahpahaman. Hari ini, saya ingin mengajak kita semua merenung: Menghargai guru bukan hanya etika—ini adalah syarat mutlak agar anak-anak kita berhasil.

Lebih dari Sekadar Mengajar
Banyak yang mengira guru hanya bekerja dari jam 7 pagi hingga 2 siang. Padahal kenyataannya jauh lebih berat dari itu.
1. Beban Administratif dan Akademik
Di balik kelas yang tampak tenang, guru menyiapkan materi, mengevaluasi pembelajaran, mengisi laporan-laporan yang tak pernah habis, dan terus memperbarui kompetensinya.
2. Peran Ganda
Guru adalah pendidik, penasihat, pendengar keluh kesah, bahkan menjadi “orang tua kedua” bagi siswa di sekolah.
3. Beban Emosional
Setiap hari guru berhadapan dengan puluhan karakter berbeda. Menjaga senyum dan kesabaran di tengah tekanan adalah perjuangan batin yang tidak terlihat.
Karena itu benar sekali ungkapan ini:
“Guru adalah jembatan. Mereka mengorbankan diri mereka untuk menjadi jalan bagi murid-muridnya menuju masa depan yang cerah.”
Sinergi Orang Tua dan Guru: Kunci Keberhasilan Anak
Tidak ada anak yang sukses tanpa dukungan dari dua tempat: rumah dan sekolah. Ketika orang tua menghargai guru, dampaknya langsung terasa oleh anak:
1. Konsistensi Nilai
Jika di sekolah diajarkan disiplin dan di rumah dikuatkan kembali, karakter anak tumbuh kokoh.
2. Rasa Aman dan Percaya
Anak yang melihat orang tuanya menghormati gurunya akan lebih mudah menerima arahan dan pembelajaran.
3. Motivasi Belajar
Guru yang dihargai akan mengajar dengan hati yang lebih ringan dan semangat yang berlipat. Energi itu menular kepada siswa.
Namun, belakangan kita sering mendengar perselisihan antara orang tua dan guru karena ketidakterimaan anak ditegur. Ini adalah fenomena yang memprihatinkan. Teguran guru bukan bentuk kebencian, tetapi tanda kepedulian agar anak tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan bermoral.
Jika setiap teguran dianggap sebagai masalah besar, apa jadinya masa depan generasi kita? Apakah kita ingin membentuk anak yang anti-kritik dan rapuh terhadap tantangan?
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
1. Tabayyun (Klarifikasi)
Ketika anak bercerita, dengarkan—tapi jangan langsung menghakimi. Mintalah penjelasan dari guru atau sekolah. Banyak masalah selesai hanya dengan komunikasi yang baik.
2. Dukung Otoritas Sekolah
Jika ada kritik, sampaikanlah dengan santun dan melalui jalur yang tepat. Sekolah dan guru adalah mitra, bukan lawan.
3. Ucapkan Terima Kasih
Sederhana, tetapi sangat berarti. “Terima kasih sudah membimbing anak saya” adalah penyemangat luar biasa bagi seorang guru.
Refleksi Saya sebagai Guru dan Kepala Sekolah
Sebagai Kepala Sekolah Inspirasi SMP PGRI 6 Surabaya, Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara, sekaligus mahasiswa S2 RPL Manajemen Pendidikan UNESA, saya melihat langsung betapa beratnya perjuangan para guru. Saya juga merasakan sendiri tanggung jawab besar yang ada di pundak kita semua: menjadikan pendidikan sebagai jalan perubahan.
Tanggung jawab ini bukan hanya milik guru.
- Masyarakat harus menghentikan stigma negatif tentang guru dan mulai mengembalikan kehormatan profesi ini.
- Pemerintah harus memastikan kesejahteraan dan perlindungan bagi guru. Guru yang aman dan nyaman akan melahirkan pembelajaran yang berkualitas.
Penutup
Kesuksesan anak bukan milik satu pihak.
Itu trofi bersama—orang tua, sekolah, masyarakat, dan negara.
Menghargai guru bukan berarti menganggap mereka sempurna. Guru juga manusia. Tetapi menghargai guru berarti mengakui bahwa tanpa mereka, masa depan generasi kita terancam kosong.
Mari bergandengan tangan.
Karena di balik setiap anak yang hebat, selalu ada orang tua yang suportif dan guru yang dihargai.
BANU ATMOKO
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya , Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara













