Ada pemandangan yang tak biasa di SMP PGRI 6 Surabaya saat peringatan Hari Guru Nasional 2025. Di tengah suasana yang biasanya penuh bunga, kado, dan ucapan terima kasih untuk para pendidik, sekolah ini justru membalikkan tradisi. Bukan guru yang menerima hadiah, melainkan murid.
Di lapangan sekolah, seorang siswa dipanggil maju. Bukan karena melakukan kesalahan, tetapi untuk menerima bentuk kasih sayang dari guru-gurunya. Namanya Achmad Sulton Mubarok, siswa kelas 9, yang selama ini tetap datang ke sekolah meski sepatu yang dipakainya sudah rusak dan berlubang.

Para guru, yang setiap hari memperhatikan keseharian siswa, tidak tega melihat semangat Sulton yang tak pernah surut meski alas kakinya tak layak. Hingga akhirnya, di momen Hari Guru Nasional, mereka sepakat memberikan “hadiah balik”—sepasang sepatu baru.
“Guru Itu Orang Tua di Sekolah”
Kepala SMP PGRI 6 Surabaya, Banu Atmoko—yang juga Ketua MKKS SMP Swasta Surabaya Utara dan mahasiswa S2 RPL UNESA—menjelaskan bahwa aksi ini muncul dari rasa kepedulian tulus para guru.
“Biasanya Hari Guru itu guru yang menerima hadiah. Tapi kami ingin merayakannya dengan cara berbeda. Guru adalah orang tua di sekolah, dan orang tua ingin anaknya datang belajar dengan percaya diri,” ujar Banu.
Ia menegaskan, pemberian sepatu ini bukan sebatas bantuan barang, tetapi pesan bahwa siswa tidak pernah berjalan sendirian. Ada guru yang memperhatikan, mendampingi, dan merawat.
Air Mata yang Tak Tertahan
Momen paling haru terjadi saat para guru memakaikan sepatu baru itu langsung ke kaki Sulton. Suasana mendadak hening. Beberapa siswa terlihat menyeka air mata, begitu pula sebagian guru.
Sulton sendiri tak kuasa menahan rasa harunya. Ia mengaku selama ini tak enak meminta sepatu baru kepada orang tuanya. Sepatunya yang berlubang membuatnya minder, terutama saat musim hujan.
“Senang sekali… tidak menyangka dapat sepatu baru pas Hari Guru. Biasanya kami yang kasih hadiah ke guru, ini malah Pak Guru dan Bu Guru yang sayang sama saya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Pelajaran yang Tak Ada di Buku
Aksi sederhana ini menjadi wujud nyata pendidikan karakter. Para guru SMP PGRI 6 Surabaya tidak hanya mengajar teori, tetapi menunjukkan praktik kasih sayang dan empati secara langsung. Nilai Ing Ngarso Sung Tulodo—di depan memberi teladan—hidup lewat tindakan nyata.
Di hari yang didedikasikan untuk guru, mereka justru menghadiahkan teladan terbaik kepada murid: bahwa kepedulian adalah bahasa kasih sayang yang paling mudah diterima oleh hati.
Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan guru dan murid, serta mendorong siswa untuk lebih percaya diri dan semangat menuntut ilmu.
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Guru Hebat, Indonesia Kuat.













