Isu pemakzulan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, oleh Rais Aam tengah menjadi sorotan publik. Namun di balik dinamika politik organisasi yang mencuat ke permukaan, tersimpan cerita lain tentang kerja-kerja perbaikan internal NU yang selama ini jarang terdengar. Salah satunya datang dari kesaksian Ufi Ulfiah, tokoh Lakpesdam PBNU, yang menceritakan langsung bagaimana Gus Yahya membuka kondisi organisasi apa adanya dan memberi mandat besar untuk reformasi tata kelola.
Dalam narasinya, Ufi mengingat kembali satu pertemuan yang mengubah banyak hal. “Suatu hari saya dipanggil. Gus Yahya menceritakan kondisi tata kelola di PBNU, terutama terkait unit usaha. Ceritanya banyak yang aneh-aneh,” ujarnya.

Yang membuatnya terkejut bukanlah kondisi unit usaha itu sendiri, tetapi bagaimana Gus Yahya menyampaikannya — tanpa polesan, tanpa upaya menutupi. “Mulai tahun ini, saya ingin pelan-pelan perbaikan dilakukan. Dua tahun lalu saya harus konsolidasi organisasi dulu,” kata Gus Yahya saat itu.
Mandat Besar: Reformasi Badan Usaha NU
Ufi meminta waktu satu pekan untuk berkonsultasi dengan pengurus Lakpesdam. Kesimpulannya tegas: akar masalahnya adalah ketiadaan aturan yang jelas. Lakpesdam mengusulkan penyusunan regulasi baru, dengan catatan diberi kebebasan bekerja sama dengan pihak manapun yang kompeten.
Gus Yahya menyetujuinya tanpa syarat.
Saat Lakpesdam kembali dengan hasil kajian awal, Gus Yahya langsung mengunci prinsipnya:
“Buat aturannya. Saya tetapkan. Tidak bisa NU dibiarkan begini. Tugas saya memperbaiki.”
Mandat pun diberikan: menyusun draft Peraturan Perkumpulan (Perkum) tentang Badan Usaha Milik NU.
Dua bulan, draft itu kelar. Berkali-kali dibahas langsung dengan Gus Yahya.
Salah satu arahan paling kuat:
Badan usaha NU harus menjadi milik jamaah, bukan hanya milik organisasi. Karena itu harus berbasis koperasi — entitas yang dimiliki anggota, bukan individu.
Lakpesdam mengingatkan, model ini akan menabrak praktik lama yang tidak sehat.
Gus Yahya hanya menjawab:
“Bu Ufi, saya jaminannya untuk kerja-kerja Lakpesdam.”
Saat itu, Ufi mengaku lega. “Saya bungah, karena ini jaminan politik bagi Lakpesdam.”
Draft Perkum disiapkan untuk dibawa ke Konbes tahun berikutnya.
Membangun Financial Governance NU: Dua Minggu Selesai
Gus Yahya tak berhenti pada regulasi usaha. Ia memberi mandat lain: menciptakan sistem financial governance untuk seluruh lingkungan NU.
“Dua minggu kami selesaikan,” tutur Ufi. Setelah dipresentasikan, Gus Yahya langsung memikirkan cara agar aturan itu dibawa sampai ke Muktamar untuk menjadi warisan jangka panjang.
Dalam 15 tahun Ufi di Lakpesdam, baru kali ini ia mendapat perintah reformasi tata kelola dari level tertinggi PBNU untuk internal NU sendiri.
Perubahan Nyata: Beasiswa, NUS, hingga Sinergi Lembaga
Lakpesdam mulai melaksanakan agenda koherensi lintas lembaga. Sistem beasiswa yang sebelumnya tercecer mulai disatukan menjadi satu pintu, tanpa mematikan model lama. Vokasi untuk warga NU mulai berjalan, dan sistem penempatan kerja (jobs placement) ikut dirancang.
Ufi menyebut, semua yang terlibat di NUS pasti merasakan perubahan:
“Perbaikan tata kelola itu nyata.”
Peran Gus Ulil: “Jangan Terpengaruh Politik”
Dalam kerja harian, Gus Yahya menunjuk Gus Ulil Abshar Abdalla sebagai pengawal proses reformasi. Ufi menyebut keputusan ini tepat, karena integritas Gus Ulil teruji.
Ia mengingat satu momen penting setelah pandemi, ketika ada tawaran dana miliaran dari perusahaan tataboga yang punya catatan melukai Palestina. Gus Ulil menolak bulat-bulat.
“Kalau kita terima, sama saja menggadaikan martabat,” ujar Gus Ulil seperti dikutip Ufi.
Sejak itu, Ufi meminta Gus Ulil terus mendampingi Lakpesdam — dan Gus Yahya menyetujuinya.
Konsistensi Menghindari Politik 5 Tahunan PBNU
Ufi juga menyinggung bagaimana Lakpesdam bisa bekerja sama dengan berbagai pihak tanpa terseret politik, termasuk dengan Kementerian Desa saat menterinya dari PKB. “Tanpa hambatan apa pun,” ujarnya.
Bahkan untuk milestone ekonomi syariah, Gus Yahya menunjuk figur utama: Kiai Ma’ruf Amin. Lakpesdam pun berkali-kali bertemu untuk mendapat arahan.
Ufi menyebut, setiap kemajuan selalu dilaporkan kepada Gus Yahya.
“Gus Yahya selalu terkagum-kagum dengan keistimewaan Kiai Ma’ruf,” katanya.
“Kita Pelan-Pelan Saja”: Reformasi dengan Kesabaran
Dalam banyak kesempatan, Gus Yahya selalu menekankan pentingnya proses yang gradual.
“Sebagian orang tidak tahu, sebagian tidak concern. Jadi Lakpesdam harus sabar,” pesannya.
Meski perlahan, perubahan berjalan. Ufi menegaskan, semuanya hanya mungkin karena dukungan politik Gus Yahya.
Di Tengah Gejolak, Kiprah Ini Kini Disorot Ulang
Kini, ketika isu pemakzulan terhadap Gus Yahya mencuat, kesaksian Ufi menjadi potret lain dari sosok Ketua Umum PBNU itu: seorang pemimpin yang memberikan ruang reformasi, membuka masalah secara lugas, dan memberikan dukungan penuh pada tata kelola yang lebih sehat.
Bagi sebagian orang, cerita ini mungkin menjadi catatan penting di tengah kisruh yang melanda.
Bahwa di balik dinamika politik, terdapat kerja-kerja senyap yang telah berusaha membenahi fondasi NU secara struktural.













