Menu

Mode Gelap
Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik

Liputan

Ultra-Cycling di Indonesia: Kok Bisa Jadi Tren? Cari Tahu!

badge-check


					Ultra-Cycling di Indonesia: Kok Bisa Jadi Tren? Cari Tahu! Perbesar


Pernah kepikiran, ada nggak ya orang yang nekat gowes sepeda non-stop sampai 1.000 kilometer? Kalau kamu jawab nggak mungkin, wah, siap-siap kaget deh! Ternyata di Indonesia, minat buat ikutan ultra-cycling atau gowes jarak jauh—bahkan yang lebih dari 1.000 km secara berkesinambungan—lagi tinggi-tingginya, lho.

Indonesia sekarang punya banyak banget event balap sepeda ultra-cycling yang bikin geleng-geleng. Salah satu yang paling fenomenal itu Bentang Jawa. Ini adalah perjalanan epik sejauh 1.500 km melintasi Pulau Jawa dengan total elevasi yang nggak main-main, mencapai 17.000 meter! Yang bikin makin keren, ini balapan mandiri alias tanpa dukungan kru, bahkan nggak ada hadiahnya, tapi rutin banget dilaksanakan. Edisi terakhirnya sukses digelar Agustus lalu, bikin para peserta mandi keringat dan kurang tidur!

Bayangin aja, 181 peserta berhasil lolos seleksi dari total 400 pendaftar buat ikutan Bentang Jawa ini. Para peserta umumnya bisa nyelesaiin tantangan ini dalam waktu lima hari, dengan tidur yang seadanya banget. Suka duka mereka selama mengayuh pedal jadi cerita seru yang diangkat di laporan edisi mingguan Tempo pekan ini, dengan judul: Mereka yang Tersihir Nikmat dan Siksa Ultra-Cycling.

Selain Bentang Jawa yang bikin penasaran, ada juga banyak lomba ultra-cycling lain yang nggak kalah menantang di Indonesia. Sebut saja Lintang Flores yang menempuh 1.000 km dan Bali Ultra Cycling sepanjang 800 km. Buat kamu yang tertarik, Bali Ultra edisi terbaru bakal digelar Oktober mendatang, lho! Dijamin bakal jadi petualangan yang nggak terlupakan.

Fenomena ultra-cycling saat ini udah nggak sekadar jadi hobi biasa lagi. Tapi udah bertransformasi jadi gaya hidup yang menggabungkan petualangan seru, menjaga kebugaran, sekaligus eksplorasi budaya lokal yang bikin nagih. Yuk, kita bedah lebih dalam sejarah dan semua info menarik seputar olahraga gowes jarak jauh ini!

Apa Itu Ultra-Cycling?
Ultra-cycling itu ibarat level tertinggi dari bersepeda jarak jauh, melampaui batas-batas konvensional yang kita tahu. Ini bukan cuma sekadar gowes santai di hari Minggu atau balapan sprint yang ngebut doang, tapi lebih ke uji ketahanan fisik dan mental manusia. Para peserta ditantang menempuh jarak minimal 200 kilometer, biasanya dengan mengayuh pedal selama lebih dari enam jam tanpa henti!

Menurut World Ultra Cycling Association (WUCA), aktivitas ini bisa dilakukan secara self-supported—di mana peserta bener-bener mandiri membawa semua perlengkapan, makanan, dan navigasi sendiri—atau dengan dukungan kru. Nah, Bentang Jawa dan kebanyakan balapan ultra-cycling di Indonesia itu mensyaratkan peserta untuk nggak didukung kru. Jadi, para peserta bener-bener harus berjuang sendirian melawan kelelahan ekstrem, cuaca yang nggak terduga, dan medan yang ganas. Seringkali, mereka cuma tidur minim banget buat melanjutkan perjalanan.

Jejak Sejarah Ultra-Cycling
Sejarah ultra-cycling ternyata udah ada dari zaman baheula, lho, bisa ditelusuri sampai akhir abad ke-19! Dulu, ada balapan enam hari di velodrome yang jadi fenomena populer banget di Eropa dan Amerika. Kala itu, para pesepeda berlomba menempuh jarak terjauh dalam enam hari penuh, dengan istirahat yang super singkat. Ini jadi ujian daya tahan brutal buat zamannya.

Ultra-cycling sebagai olahraga modern baru muncul setelah Paris-Brest-Paris (PBP), yang pertama kali digelar pada 1891. Lomba sepanjang 1.200 km ini awalnya kompetitif, tapi kemudian berevolusi jadi randonnée, yaitu perjalanan non-kompetitif yang lebih menekankan semangat petualangan dan penyelesaian diri.

Di era modern, Race Across America (RAAM) yang dimulai tahun 1976 jadi tonggak penting lainnya. Ajang ini bener-bener mengubah ultra-cycling jadi tantangan lintas benua yang menarik peserta dari seluruh dunia. Sejak itu, organisasi kayak World Ultra Cycling Association (WUCA) berdiri buat mengatur dan mengakui rekor-rekor luar biasa di disiplin ini.

Sekarang, ultra-cycling lagi mendunia banget! Dulu mungkin dianggap hobi eksklusif segelintir orang, tapi sekarang udah berkembang jadi arus utama. Ini didorong sama kemajuan teknologi sepeda gravel dan e-bike ringan, serta minat global pada gaya hidup berkelanjutan dan petualangan autentik. Event-event besar seperti Silk Road Mountain Race di Kirgistan atau Trans Am Bike Race di Amerika Serikat aja bisa menarik ribuan pendaftar dari seluruh dunia setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, tren ultra-cycling juga terus menanjak, lho. Lomba-lomba yang digelar nggak pernah sepi dari peserta. Dukungan dari komunitas kayak Randonesia (Audax Randonneurs Indonesia) juga ikut mempercepat perkembangannya.

Mengapa Ultra-Cycling Kian Populer?
Ultra-cycling itu medan penuh tantangan yang bisa bikin siapa pun “ambyar” kalau nggak siap. Di Indonesia, tantangannya justru lebih berat lagi. Selain faktor fisik dan jarak ribuan kilometer dengan elevasi yang ekstrem, ada juga faktor cuaca tropis yang lembab dan bikin cepat capek. Dengan medan yang beragam, dari pegunungan yang terjal sampai pantai yang panas, lomba ini bakal nguras energi sampai titik nadir. Belum lagi tekanan mental, kurang tidur, tekanan navigasi mandiri, dan isolasi selama berhari-hari bisa memicu breakdown emosional.

Risiko kesehatan ultra-cycling juga nyata banget: dehidrasi, cedera otot, bahkan masalah jantung bisa mengintai, apalagi buat pemula. Tapi, justru di situlah letak daya tariknya! Para atlet dan petualang sejati tergiur karena ultra-cycling menawarkan kesempatan emas buat menemukan batas diri mereka yang sesungguhnya.

Para peserta juga tertarik buat menjelajahi wilayah asing yang belum pernah mereka datangi, membangun persahabatan sejati di jalan, dan mengubah hasrat serta hobi mereka jadi legacy atau pencapaian yang layak dikenang. Bagi para penghobi ultra-cycling, penderitaan di sepanjang jalan itu adalah harga yang pantas dibayar demi merasakan kebebasan dan pencapaian abadi yang nggak bisa dibeli.

Pilihan Editor:

  • Mengapa Lari Lintas Alam Kian Populer
  • Cara Aman untuk Berolahraga Lari dengan Membawa Kereta Bayi

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan