Kamis, 4 September 2025, jadi hari yang cukup bikin geger jagat maya dan nyata. Mengenakan rompi tahanan Kejaksaan Agung, Nadiem Makarim, eks Mendikbudristek yang sebelumnya dikenal sebagai punggawa Gojek, tampak keluar dari gedung Pidana Khusus Kejaksaan Agung. Bukan untuk wawancara inspiratif, melainkan karena resmi ditetapkan sebagai tersangka kelima dalam skandal korupsi pengadaan Chromebook di lingkungan Kemendikbudristek. Sebuah plot twist yang mungkin nggak pernah terlintas di benak banyak orang.
Di tengah kepungan awak media yang memberondongnya dengan pertanyaan, langkah Nadiem menuju mobil tahanan sedikit terhenti. Ayah empat anak ini menyempatkan diri untuk menyampaikan bela sungkawa yang tulus. Bukan untuk kolega pejabat atau rekan bisnis, melainkan kepada Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang nasibnya berakhir tragis. Sebuah momen kontras yang menyita perhatian publik.

Affan Kurniawan, driver ojol yang menjadi simbol perjuangan mencari nafkah, meninggal dunia pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. Ia tewas dilindas mobil rantis Brimob Polda Metro Jaya di Pejompongan, Jakarta Pusat. Saat itu, Affan sedang berusaha menembus kerumunan demonstran di DPR RI untuk mengantar pesanan makanan. Tragisnya, video yang viral di media sosial menunjukkan ia sempat terjatuh dan hendak mengambil ponselnya sebelum akhirnya terlindas rantis tersebut. Kematian Affan ini sontak memicu gelombang demonstrasi besar-besaran yang menuntut keadilan dari kepolisian, dan Nadiem menyampaikan, “Bela sungkawa saya kepada Affan dan ojol-ojol,” pada hari penangkapan dirinya.
Tentu saja, ucapan bela sungkawa Nadiem punya bobot emosional tersendiri. Pasalnya, Nadiem adalah otak di balik berdirinya Gojek pada tahun 2010, perusahaan raksasa yang menaungi ribuan, bahkan jutaan, driver ojek online seperti Affan. Gojek sendiri, sejak 2021, telah merger dengan Tokopedia dan bertransformasi menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia. Sebuah ironi yang pahit, ketika pendiri perusahaan raksasa ini kini terseret kasus hukum, sementara salah satu “anak didiknya” gugur dalam tugas.
Kembali ke pusat badai. Status tersangka Nadiem Makarim dalam kasus pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek ini bukan cuma soal duit negara, tapi juga aroma konspirasi yang bikin penasaran. Kejaksaan Agung kini tengah mengendus-endus kemungkinan adanya benang merah antara investasi Google ke Gojek pada 2020 dengan keputusan Kemendikbudristek memilih Chromebook—yang notabene produk Google—sebagai perangkat utama program digitalisasi saat Nadiem menjabat menteri. Apakah ada “salam tempel” terselubung? Itu yang sedang dicari tahu.
“Penyidik pada hari ini kembali menetapkan satu orang tersangka dengan inisial NAM selaku Mendikbudristek periode 2019-2024,” tegas Direktur Penyidikan Jampidsus Kejaksaan Agung, Nurcahyo Jungkung Madyo, dalam konferensi pers di gedung Pidsus Kejagung. Jaksa punya tudingan serius: Nadiem disinyalir membuat kesepakatan terselubung dengan pihak Google agar produk Chromebook mereka jadi primadona. Setelah “deal” itu tercapai, Nadiem disebut-sebut bersekongkol dengan empat tersangka lain untuk memuluskan jalan Chromebook sebagai pilihan tunggal dalam proyek pengadaan di Kemendikbudristek.
Penelusuran ini bukan tanpa dasar. Penyidik serius menggali detail investasi Google ke PT GoTo Gojek Tokopedia di tahun 2020, mengingat Gojek adalah *baby* Nadiem yang kemudian merger dengan Tokopedia pada 2021. Pertanyaan besarnya: apakah ada keterkaitan erat antara suntikan dana Google tersebut dengan kemudahan jalan Chromebook untuk “memenangkan hati” Kemendikbudristek? Benang kusut ini sedang diurai.
Proyek digitalisasi ini, dari 2019 hingga 2022, punya anggaran yang nggak main-main: mencapai Rp 9,3 triliun! Meski nggak semua dananya buat beli Chromebook, jumlahnya tetap fantastis. Sumber dananya pun berasal dari dua kantong besar negara, yaitu Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBN. Dari total dana jumbo itu, 1,2 juta unit laptop Chromebook berhasil didatangkan. Sebuah angka yang, jika ada korupsi, tentu saja kerugian negara bisa sangat besar.
Ringkasan
Nadiem Makarim, mantan Mendikbudristek dan pendiri Gojek, ditetapkan sebagai tersangka kelima dalam kasus korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek. Saat keluar dari gedung Kejaksaan Agung dengan rompi tahanan, Nadiem menyampaikan belasungkawa kepada Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang meninggal dunia akibat kecelakaan saat bertugas.
Kejaksaan Agung tengah menyelidiki dugaan keterkaitan antara investasi Google ke Gojek pada tahun 2020 dengan keputusan Kemendikbudristek memilih Chromebook (produk Google) sebagai perangkat utama dalam program digitalisasi. Proyek digitalisasi ini memiliki anggaran Rp 9,3 triliun dari tahun 2019 hingga 2022, dan penyidik menduga adanya kesepakatan terselubung antara Nadiem dan Google.








