Menu

Mode Gelap
JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik Persaingan Makin Ketat, SD Swasta Sidoarjo Siapkan Strategi Penerimaan Murid Baru Tebar Kurma dan Imsakiyah, Yayasan Bina Insan Muslim Gaungkan Syiar Ramadan

POV

Media Online Kita Ramai, Tapi Kenapa Rasanya Sepi Makna?

badge-check


					Media Online Kita Ramai, Tapi Kenapa Rasanya Sepi Makna? Perbesar

Tulisan ini datang dari seorang pensiunan wartawan Wicaksono. Bukan pensiunan resmi dengan seremoni dan piagam, tapi pensiunan yang pergi pelan-pelan. Masih membaca berita setiap pagi, masih percaya jurnalisme itu penting, tapi sudah tidak mudah terkejut melihat keadaannya hari ini.

Indonesia sering dibanggakan memiliki lebih dari 45 ribu media online. Angka itu terdengar hebat, seolah menandakan demokrasi yang subur. Namun jika dilihat lebih jujur, jumlah itu justru mirip deretan warung kopi di satu gang sempit: menunya sama, rasanya mirip, dan tutup bergantian.

Sebagian besar media online kecil dijalankan oleh tim yang sangat minim. Bahkan sering kali hanya satu orang. Pagi menjadi wartawan, siang editor, sore mengurus SEO, malam unggah ke media sosial. Targetnya? Bisa 30 berita per hari. Kurang dari itu dianggap tidak produktif. Tidak sanggup? Silakan tutup dengan tenang.

Di titik inilah teknologi, khususnya AI, datang sebagai penyelamat instan. Dengan AI, puluhan berita sehari terasa mungkin. Rilis masuk, dirapikan, judul dimodifikasi agar ramah mesin pencari, lalu tayang. Cepat dan efisien. Tapi juga seragam, dingin, dan terasa jauh dari lapangan.

Masalahnya bukan pada AI. Masalahnya adalah sistem lama yang sejak awal mengagungkan kecepatan dan kuantitas, bukan makna. AI hanya mempercepat penyakit yang sudah lama ada.

Krisis Identitas Media Kecil

Masalah utama media online kecil hari ini bukan kekurangan orang, tapi ketiadaan jati diri. Hampir semua mengangkat isu yang sama, dengan sudut pandang serupa, bahkan struktur kalimat yang nyaris identik. Jika satu media salah, kesalahan itu ikut menyebar. Jika satu judul menyesatkan, banyak yang meniru.

Akibatnya, publik cepat bosan. Tidak ada alasan untuk kembali membaca media yang sama. Tidak ada suara khas. Tidak ada rasa bahwa media ini benar-benar memahami pembacanya.

Dulu, ruang redaksi ribut soal sudut pandang. Sekarang, yang diperdebatkan adalah kata kunci dan trafik. Kebanggaan bergeser: bukan lagi soal dampak berita, tapi soal jumlah klik dan pemasukan.

Media dan Ketergantungan pada Kekuasaan

Masuk ke persoalan paling sensitif: uang.

Mayoritas media online kecil tidak hidup dari pembaca, melainkan dari kerja sama dengan pemerintah dan pejabat. Advertorial, publikasi kegiatan, dan anggaran musiman menjadi penopang utama. Media sering lahir beriringan dengan momentum politik. Pilkada datang, media muncul. Pejabat terpilih, media hidup. Masa jabatan berakhir, media ikut sekarat.

Tidak sedikit pengelola media yang juga bagian dari tim sukses. Media dijadikan alat menciptakan suasana: aman, positif, tidak berisik. Kritik tetap ada, tapi diarahkan. Tajam ke lawan, tumpul ke kawan. Berani ke pusat, senyap di halaman rumah sendiri.

Secara hukum mungkin sah. Secara moral, ini wilayah abu-abu yang lama-lama menggelap.

Redaksi berubah menjadi ruang negosiasi. Judul ditimbang bukan berdasarkan kepentingan publik, tapi potensi gangguan relasi. Publik sebenarnya paham. Mereka tahu mengapa satu media rajin memuat kunjungan pejabat, tapi tak pernah menyinggung proyek mangkrak di tempat yang sama.

AI kembali mempermudah semua itu. Pidato pejabat diringkas, dipoles, tayang. Tanpa pertanyaan kritis. Tanpa risiko. Aman bagi pemberi anggaran, bukan bagi pembaca.

Model Rapuh dan Kepercayaan yang Terkikis

Media yang bergantung pada anggaran pemerintah tidak punya fondasi jangka panjang. Ketika kekuasaan berganti, kerja sama berhenti. Tidak ada pembaca loyal yang merasa kehilangan. Tidak ada komunitas yang membela.

Ironisnya, semakin banyak media, kepercayaan publik justru menipis. Bukan karena publik anti media, tapi karena lelah membaca hal yang sama dengan tujuan yang makin terbaca.

Dulu, wartawan takut ditelepon pejabat karena berita kritis. Sekarang, banyak yang justru menunggu telepon untuk ditawari paket kerja sama.

Bukan berarti semua media kecil seperti ini. Tapi yang mencoba bertahan secara jujur jumlahnya jauh lebih sedikit.

Masih Adakah Jalan Keluar?

Mengeluh saja tidak cukup. Ada beberapa jalan yang, meski tidak mudah, masih mungkin ditempuh.

Pertama, berdamai dengan skala. Media kecil tidak harus menjadi media nasional. Justru kekuatannya ada pada lokalitas dan spesialisasi.

Kedua, kurangi jumlah, perkuat niat. Tiga sampai lima berita yang dipikirkan dengan sungguh-sungguh lebih bernilai daripada puluhan berita yang hanya lewat di linimasa. AI seharusnya membantu riset, bukan menggantikan rasa ingin tahu.

Ketiga, bangun suara manusia. Pembaca mencari kejujuran, konteks, dan keberpihakan pada publik. Bukan tulisan sempurna, tapi tulisan yang terasa hidup.

Keempat, cari sumber pemasukan alternatif, sekecil apa pun. Langganan sederhana, komunitas pembaca, acara lokal, kolaborasi. Sulit, tapi lebih sehat daripada ketergantungan total.

Kelima, jujur soal posisi. Transparansi lebih terhormat daripada berpura-pura independen.

Jurnalisme sebagai Makna, Bukan Sekadar Bertahan

Menjadi jurnalis hari ini sering kali bukan lagi soal idealisme, tapi soal bertahan hidup. Bukan karena generasi muda salah, melainkan karena ekosistemnya tidak ramah pada idealisme.

Ketika honor dibayar per berita, target lebih kejam dari tenggat moral, dan idealisme tidak bisa membayar kebutuhan hidup, jurnalisme pun berubah menjadi keterampilan bertahan hidup.

Sebagai pensiunan wartawan, harapan itu masih ada. Tidak besar, tidak muluk. Cukup agar media tetap jujur, dan layak dibaca.

Sebab jika media hanya menjadi papan pengumuman, publik akan berhenti membaca. Dan saat itu terjadi, tidak ada AI, SEO, atau kerja sama yang bisa menyelamatkan.

Yang pelan-pelan mati bukan hanya media kecil, tapi makna jurnalisme itu sendiri.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bukan Sekadar Bayar Pajak: Cara Baru Sidoarjo Menyadarkan Warganya di Era Digital

13 November 2025 - 20:18 WIB

Bukan Sekedar Bayar Pajak: Misi Sidoarjo Sadarkan Warganya Melalui Digitalisasi

Benarkah Soeharto Layak Disebut Pahlawan? Membaca Ulang Filosofi Mikul Dhuwur Mendhem Jero

11 November 2025 - 08:24 WIB

Gelar Pahlawan untuk Presiden Soeharto

GEO vs SEO: Ketika Mesin Tak Lagi Mencari, Tapi Menjawab

10 November 2025 - 17:52 WIB

GEO lahir, SEO mati?

10 November 2025 - 17:46 WIB

Trending di POV