KLIKMOJOK –Tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (29/9/2025), bukan hanya mengguncang Indonesia. Sejumlah media internasional ikut menyoroti musibah yang menelan korban jiwa dan membuat puluhan santri masih terjebak di bawah reruntuhan. Hingga Rabu (1/10), tercatat tiga orang tewas, lebih dari 100 luka-luka, dan 91 santri masih belum ditemukan.
Ratusan petugas gabungan terus bekerja di lapangan dengan penuh risiko, mengingat kondisi bangunan yang rapuh dan bisa runtuh sewaktu-waktu. Media besar seperti The Guardian, Associated Press (AP News), dan Sky News menurunkan laporan langsung, menggambarkan kepanikan di lokasi serta perjuangan tim penyelamat yang berpacu dengan waktu.

The Guardian: 91 Santri Hilang
The Guardian menulis laporan berjudul “Indonesia school collapse: 91 missing and three dead as rescuers search rubble for second day.” Media asal Inggris itu menyoroti fakta bahwa puluhan santri masih tertimbun ketika musibah terjadi di waktu salat Asar.
Hingga Selasa malam, tiga jenazah ditemukan, sementara 99 santri dan pekerja berhasil selamat. Kepala tim penyelamat, Nanang Sigit, menyebut kamera pencari mendeteksi enam korban yang masih hidup. “Ketika melihat cahaya kamera, mereka menggerakkan kaki,” ujarnya.
The Guardian juga mengisahkan kepiluan keluarga korban. Seorang paman, Holy Abdullah Arif (49), berteriak memanggil keponakannya, Rosi. Namun, jawaban yang terdengar dari bawah reruntuhan bukan suara keponakannya, melainkan jeritan korban lain: “Ya Tuhan, tidak, tolong saya!”
Keluarga para santri pun berkerumun di depan papan tulis berisi daftar korban selamat. Mereka menatap penuh harap, mencari nama anak-anaknya. The Guardian mencatat alat berat disiapkan, namun penggunaannya dibatasi karena dikhawatirkan memperparah keruntuhan.
BNPB melalui juru bicara Abdul Muhari menegaskan penyebab robohnya bangunan adalah kegagalan pilar pondasi menopang beban lantai tambahan. Ia menekankan pentingnya standar keamanan konstruksi yang lebih ketat di pesantren maupun bangunan publik lainnya.
AP News: 300 Petugas Berjuang di Lapangan
Kantor berita Amerika Serikat, Associated Press, menurunkan laporan berjudul “At least 91 students remain buried in rubble 2 days after school collapse in Indonesia.” Artikel ini menyebut sebagian besar korban adalah santri putra berusia 12–18 tahun yang tengah berjemaah di aula, sedangkan santri putri di sisi lain gedung berhasil menyelamatkan diri.
AP News menyoroti 300 lebih petugas yang bekerja tanpa henti sejak Selasa malam. Mereka memilih tidak menggunakan alat berat karena khawatir memicu runtuhan tambahan. “Sedikitnya enam anak masih hidup di bawah reruntuhan,” tulis AP News. Tim penyelamat bahkan menyuplai oksigen, makanan, dan air melalui celah sempit untuk membantu korban bertahan.
Media ini juga menggarisbawahi bahwa pesantren berusia seabad tersebut sedang menjalani pembangunan tanpa izin. Dua lantai tambahan membuat pondasi lama tak sanggup menopang beban. Pengecoran pada malam sebelum runtuh disebut sebagai pemicu ambruknya bangunan.
Sky News: Tangisan Keluarga Korban
Sementara itu, Sky News menurunkan laporan berjudul “Three dead and dozens feared still trapped after school building collapses.” Media asal Inggris ini menggambarkan suasana mencekam di lokasi. Polisi, tentara, dan relawan bahu-membahu menarik delapan korban selamat, meski operasi sempat dihentikan sejenak karena bangunan kembali bergetar.
“Orang-orang panik berlarian menjauhi lokasi ketika petugas memperingatkan bahaya runtuh susulan,” tulis Sky News. Belasan ambulans yang sudah siaga juga sempat dievakuasi menjauh.
Sky News juga menyoroti sisi human interest. Seorang ibu histeris ketika melihat nama anaknya tercatat di daftar korban hilang. Seorang ayah pun menangis, memohon kepada tim penyelamat, “Tolong, Pak, temukan anak saya segera.”
Juru bicara polisi, Jules Abraham Abast, kembali menegaskan penyebab musibah ini: pondasi lama tidak mampu menahan beban tambahan dua lantai yang sedang dibangun tanpa izin.








