MOJOKERTO – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerap disebut sebagai tulang punggung perekonomian. Namun di balik pujian tersebut, pelaku UMKM masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari ketatnya persaingan pasar, perubahan selera konsumen, hingga pergeseran pola belanja ke ranah digital.
Kondisi tersebut ditemui secara langsung oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Mojokerto, Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini menggandeng UMKM Keripik Gedhang Cap Kembank milik Siti sebagai mitra pendampingan.

Usaha keripik pisang yang telah lama dijalankan tersebut dikenal memiliki kualitas rasa yang baik dan pelanggan setia. Meski demikian, peluang pengembangan usaha dinilai masih terbuka lebar apabila disertai dengan inovasi produk dan strategi pemasaran yang lebih relevan dengan tren konsumen saat ini.
Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa memilih fokus program kerja pada inovasi produk. Inovasi tidak hanya dimaknai sebagai menciptakan produk baru, tetapi juga mengembangkan variasi olahan berbahan dasar pisang untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas.
Dari bahan dasar pisang, mahasiswa bersama mitra mengembangkan tiga inovasi produk, yakni Gedhang Lumer, Gedhang Puding, dan Gedhang Brownies. Gedhang Lumer merupakan olahan adonan pisang yang dicampur tepung, diisi cokelat, dilapisi tepung panir, lalu digoreng hingga menghasilkan tekstur renyah di luar dan lumer di dalam. Gedhang Puding disajikan sebagai dessert berbasis puding dengan tambahan pisang dan egg drops sebagai topping, dilengkapi siraman fla vanila dan olahan keju. Sementara Gedhang Brownies merupakan brownies pisang dengan potongan pisang di bagian tengah yang memberikan sensasi rasa berbeda.
Dalam proses pembuatan inovasi tersebut, Siti dilibatkan secara langsung di setiap tahapan. Antusiasme mitra terlihat selama kegiatan berlangsung, sekaligus menunjukkan semangat pelaku UMKM untuk terus berkembang ketika mendapatkan pendampingan dan kepercayaan mencoba hal baru.
Selain inovasi produk, mahasiswa juga memberikan pendampingan pemasaran digital melalui media sosial Instagram dan TikTok. Pendampingan meliputi pengenalan fungsi media sosial sebagai sarana promosi, pembuatan konten foto dan video produk, serta pemahaman dasar mengenai pentingnya konsistensi dan daya tarik visual untuk menarik minat konsumen. Media sosial dipilih karena mudah diakses dan memiliki jangkauan pasar yang luas.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa menilai tantangan utama UMKM bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada keterbatasan pemahaman strategi komunikasi dan pemasaran digital. Padahal, dengan konten sederhana namun tepat sasaran, produk UMKM memiliki peluang besar dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan pengabdian ini menjadi ruang pembelajaran bersama. Bagi pelaku UMKM, kegiatan ini membuka wawasan tentang inovasi produk dan pemasaran digital. Sementara bagi mahasiswa, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa solusi bagi UMKM tidak selalu kompleks, melainkan membutuhkan pendekatan yang kontekstual dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku UMKM seperti ini diharapkan terus berlanjut sebagai upaya meningkatkan daya saing UMKM, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta menciptakan ekosistem usaha yang lebih inklusif di tengah dinamika pasar yang terus berubah.













