Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Liputan

Suku Bunga AS Dipangkas: Rupiah Auto Senyum?

badge-check


					Suku Bunga AS Dipangkas: Rupiah Auto Senyum? Perbesar

Gila! The Federal Reserve (The Fed) akhirnya bikin gebrakan pertama tahun ini. Mereka memangkas suku bunga acuannya, dan sinyalnya sih, bakal ada penurunan lagi nih. Kenapa? Karena pasar tenaga kerja di sana lagi loyo. Kabar baiknya, ini bisa jadi napas segar buat mata uang negara berkembang.

Resminya, Federal Open Market Committee (FOMC) motong federal funds rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps), jadi di angka 4 hingga 4,25 persen. Ini udah sesuai ekspektasi banget sama apa yang Wall Street harapkan. Prediksinya, para pimpinan The Fed mayoritas percaya bakal ada setidaknya dua kali penurunan suku bunga tambahan, masing-masing 25 bps, sebelum tahun ini berakhir. Auto bikin penasaran nih!

Keputusan The Fed yang lebih dovish ini nunjukkin kalau mereka lebih khawatir sama kondisi pasar tenaga kerja yang lagi lemas dibanding potensi inflasi yang bisa aja naik gara-gara tarif impor Presiden AS Donald Trump. Prioritasnya beda sekarang, fokusnya geser.

Gubernur The Fed, Jerome Powell, sampai bilang pas rapat hari Rabu (17/9) waktu setempat, mengutip Financial Times, “Pasar tenaga kerja telah melemah. Kemungkinan terjadinya lonjakan inflasi yang berkepanjangan kini lebih kecil.” Kata dia, langkah ini adalah bagian dari “manajemen risiko” mereka. Santuy tapi serius banget alasannya.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, ikutan komentar. Menurut dia, pemangkasan FFR ini yang pertama di tahun ini, dan The Fed udah ngasih kode bakal ada dua penurunan lagi sebelum tahun ini kelar. “Mencerminkan kekhawatiran yang meningkat terhadap kondisi ketenagakerjaan di AS,” kata Asmo kepada Jawa Pos, Kamis (18/9). Fix, masalah utama ada di ketenagakerjaan AS.

Bank sentral AS ini juga ngelihat kalau aktivitas ekonomi mulai moderat, pertumbuhan lapangan kerja melambat, dan inflasi malah balik naik. Belum lagi ketidakpastian terhadap prospek ekonomi yang masih tinggi, apalagi risiko penurunan di sektor ketenagakerjaan makin gede. Bikin pusing deh.

Walau gitu, The Fed juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi AS buat 2025 jadi 1,6 persen (dari sebelumnya 1,4 persen di Juni lalu). Tapi, untuk 2026, suku bunga acuan diperkirakan turun lebih dalam dari proyeksi sebelumnya. Anehnya, inflasi justru diproyeksikan lebih tinggi. Agak membingungkan ya?

“Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya soft landing dengan pertumbuhan yang berkelanjutan dan tren inflasi yang menurun,” jelas Asmoro, yang juga alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 1995 itu. Jadi, meski ada tantangan, ada harapan buat “pendaratan mulus” ekonominya.

Kekhawatiran soal inflasi gara-gara kebijakan dagang udah agak mereda. Sekarang, perhatiannya geser ke perlambatan ekonomi dan potensi kenaikan pengangguran. Gubernur The Fed Jerome Powell pun menegaskan kalau keputusan kebijakan moneter bakal tetep bergantung sama data-data terbaru yang masuk. Jadi, kita tunggu aja data selanjutnya muncul.

Gimana reaksi pasar? Indeks dolar AS (USD) terhadap mata uang negara maju (DXY) tetep stabil di level 96,8. Kenapa? Karena pasar emang udah antisipasi pemangkasan FFR sama The Fed. Sementara itu, bursa saham AS geraknya campuran, Dow Jones naik 0,5 persen, tapi S&P 500 malah turun tipis 0,1 persen. Beda-beda tipis ya, reaksinya.

Asmo juga jelasin, pemangkasan suku bunga The Fed ini diharapkan bisa kasih dukungan jangka pendek buat mata uang negara berkembang. Nah, buat Indonesia sendiri, nilai tukar rupiah kita diperkirakan bakal bergerak di kisaran Rp 16.400-Rp 16.500 per USD. Mayan lah ya, semoga stabil!

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah juga berpotensi turun ke kisaran 6,25-6,35 persen, ngikutin tren turunnya imbal hasil obligasi AS. Jadi, ada efek domino yang positif buat pasar obligasi kita juga. Semoga makin tenang ya!

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan