
RAPAT Umum Pemegang Saham Luar Biasa atau RUPSLB menyetujui menghapus kegiatan usaha industri alat kaki untuk kebutuhan sehari-hari PT Sepatu Bata Tbk (BATA). Keputusan itu tertuang dalam hasil rapat pemegang saham yang mengubah Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan pada Kamis, 25 September 2025.

Direktur dan Corporate Secretary BATA Hatta Tutuko mengatakan keputusan ini disetujui 1.066.244.300 atau merupakan 100 persen dari jumlah seluruh suara pemegang saham. “Menyetujui perubahan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan untuk menghapus kegiatan usaha industri alat kaki untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Selasa, 30 September 2025.
Selain itu, Hatta mengatakan pemegang saham menyetujui untuk menyusun kembali seluruh ketentuan dalam Anggaran Dasar Perseroan. Di sisi lain, pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri Rajeev Gopalakrishnan selaku Presiden Komisaris pada 25 Juni 2025.
Pemegang saham juga mengangkat Amitav Nandy sebagai Presiden Direktur dan Shaibal Sinha sebagai Presiden Komisaris BATA.
Dari keputusan ini, berikut susunan lengkap pengurus PT Sepatu Bata Tbk.:
DIREKSI
Presiden Direktur: Amitav Nandy
Direktur: Ian Duncan Mcnab Cowe
Direktur: Hatta Tutuko
Direktur: Ahmad Danial
Direktur: Prima Andhika Irawati
DEWAN KOMISARIS
Presiden Komisaris: Shaibal Sinha
Komisaris Independen: Agus Nurudin
Sepanjang semester I 2025, BATA membukukan rugi sebesar Rp 40,5 miliar. Jumlah itu susut dari rugi Rp 127 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, BATA mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 159,4 miliar. Jumlah itu turun dari pendapatan Rp 260,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penjualan BATA seluruhnya ditopang dari pihak ketiga di pasar domestik.
Liabilitas BATA per 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp 434,5 miliar dan ekuitas sebesar minus Rp 56,5 miliar. BATA mencatatkan total aset sebesar Rp 377,9 miliar. Jumlah aset ini turun dari Rp 405 pada akhir Desember 2024.
Pada Oktober 2024, perusahaan sepatu legendaris ini terpaksa menjual sejumlah aset karena mengalami kerugian dan penurunan penjualan. Sekretaris Perusahaan Sepatu Bata, Hatta Tutuko menyampaikan bahwa pada laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2024, Perseroan mengalami penurunan aset sebesar 21,7 persen dari 31 Desember 2023.
Per akhir Oktober lalu, Sepatu Bata memiliki aset senilai Rp 458 miliar, menyusut dari Rp 585 miliar pada akhir tahun lalu. “Penurunan aset disebabkan penjualan aset tetap berupa gedung kantor,” ujar Hatta dalam keterangan resminya, Kamis, 31 Oktober 2024.
Selain akibat penjualan gedung kantor, terjadi penurunan hak guna sewa karena penutupan toko yang merugi. Serta, terjadi penurunan persediaan karena penjualan dengan promosi atas barang persediaan yang tidak laku.
Manajemen BATA sebelumnya juga mengakui bahwa selama empat tahun belakangan perusahaan telah berupaya keras mengatasi tantangan dan kerugian dalam industri. Dampak buruk pandemi dan perubahan cepat perilaku konsumen menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi ini. Produk yang diproduksi di pabrik terus menurun. Kondisi tersebut masih terus berlanjut hingga sekarang.
Pilihan Editor: Mengapa Industri Manufaktur Indonesia Paling Merosot di ASEAN








