Manajer Manchester United, Ruben Amorim, lagi jadi buah bibir. Bukan karena transfer pemain, tapi karena ketegasannya soal taktik. Dia bilang, meskipun tekanan datang dari mana-mana, sistem main timnya gak bakal dia ubah.
Saking tegasnya, Amorim bahkan nyeletuk di konferensi pers: “Bahkan Paus pun enggak akan bisa bikin saya mengubah sistem di United!”

Omongan ini nunjukin kalau Amorim tuh firm banget sama filosofi main yang dia bawa dari awal. Sejak ngambil alih kursi pelatih di bulan November, Amorim emang udah pakem banget sama formasi andalannya, 3-4-3, atau variasi dari taktik itu.
Bagi dia, formasi ini bukan cuma pilihan taktik biasa, tapi udah jadi identitasnya sebagai pelatih. Kalau dia gampang goyah dan ubah sistem cuma gara-gara desakan dari luar, dia khawatir pemain bakal ilfeel dan kurang percaya sama dia.
Amorim bener-bener gak main-main: “Bahkan Paus pun enggak akan mengubah pemikiran saya soal ini. Ini tanggung jawab saya. Ini hidup saya!”
Dia juga mikir dari sudut pandang pemain: “Kalau saya jadi pemain terus lihat pelatih saya di bawah tekanan besar dari mana-mana dan dia disuruh ubah sistem, lalu dia nurut, pemain-pemain itu pasti bakal lihat saya beda,” jelasnya.
Intinya, Amorim gak bakal mengubah sistemnya secara total, tapi dia janji bakal ada ‘evolusi’. “Kita cuma perlu melakukan semua langkah yang baik dulu,” tegas Amorim, seperti yang dilansir The Guardian.
Wajar kalau Amorim dapat tekanan, soalnya awal musim ini Manchester United emang lagi kurang greget. Mereka belum nemu konsistensi di beberapa laga pembuka Premier League. Parahnya lagi, Setan Merah udah tersingkir duluan dari Carabao Cup, dikalahin tim divisi lebih rendah, Grimsby. Makanya, banyak yang nyinyir soal formasi Amorim yang dianggap kaku.
Para pengamat bola juga pada bilang kalau sistem ini sering bikin lini depan, khususnya penyerang Benjamin Sesko, jadi kesepian dan kurang dapat suplai bola. Tapi, meskipun Amorim ogah ubah total, dia tetep buka pintu buat ‘penyempurnaan’ alias evolusi taktik.
Jadi, sistem mainnya bakal terus berevolusi sesuai kebutuhan tim, tapi bukan diganti dari nol. Amorim menegaskan, tanggung jawabnya sebagai pelatih itu ya menjaga konsistensi dan ngasih arah main yang jelas buat para pemainnya.
Dia juga ngasih contoh soal peluang yang kebuang: “Kalau kalian ingat lawan Arsenal di pembuka musim, kami banyak banget buang-buang peluang. Lawan Burnley juga gitu. Fulham di awal, banyak banget yang meleset,” kata pelatih asal Portugal itu.
Amorim juga mengakui, “Lawan City, Sesko memang kelihatan sendirian banget di kotak penalti, aku setuju. Kami sering sampai di sepertiga akhir lapangan, tapi pas lihat ke kotak penalti, cuma ada Ben sendirian. Ya jelas, mana bisa cetak gol kalau kayak gitu. Tapi, secara keseluruhan, aku rasa tim ini udah beda di departemen itu dibanding musim lalu,” tambahnya.
Dari semua pernyataan Amorim, kelihatan banget kalau dia punya mental baja dalam menghadapi tekanan publik dan media. Dia milih buat pegang teguh prinsip dan keyakinan yang udah jadi dasar metode kepelatihannya. Meski begitu, dia tetep buka ruang buat penyesuaian kecil biar tim bisa makin ngegas dan berkembang lebih baik di kompetisi.








