Menu

Mode Gelap
Dorong Literasi Digital, MKKS SMP Swasta Surabaya Utara Gelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan Peringatan Hari Kartini di SMP PGRI 6 Surabaya, Angkat Semangat Perempuan Berdaya Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Recharge Energi di Pacet, Bahas Pendidikan Sambil Santai JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya

Liputan

Rektor Unisba Buka Suara: Polisi Tidak Masuk Kampus!

badge-check


					Rektor Unisba Buka Suara: Polisi Tidak Masuk Kampus! Perbesar

Dunia maya sempat dibikin geger dengan insiden di Unisba. Apalagi kalau bukan soal tudingan polisi masuk area kampus dan ‘ngamuk’ di sana. Tapi, Rektor Universitas Islam Bandung atau Unisba, A. Harits Nu’man, buru-buru klarifikasi. Menurutnya, enggak ada tuh aparat yang nyelonong masuk kampus saat kerusuhan pada Senin malam, 1 September 2025 itu. “Kami enggak ngelihat polisi berpakaian preman masuk ke dalam kampus. Itu murni demonstran yang di-sweeping masuk ke area kampus,” tegasnya pada Selasa, 2 September 2025, di gedung Rektorat Unisba.

FYI aja nih, Harits ngaku kalau dia mantau semua kejadian dari gedung rektorat yang ada di seberang kampus, tepatnya di Jalan Tamansari nomor 1 Bandung. Jadi, dia menyaksikan langsung dramanya dari jauh. Kondisi Unisba sendiri saat itu lagi libur akhir semester, jadi memang enggak ada aktivitas perkuliahan. Tapi, kampus tetap sigap. Mereka bikin posko layanan kesehatan dan evakuasi korban sejak Jumat minggu lalu. “Siapa pun yang terluka pas demo, kami punya kewajiban untuk bantu. Makanya posko evakuasi ini dibuka,” ujarnya.

Kata Harits, demonstrasi yang digelar di depan gedung DPRD Jawa Barat di Jalan Diponegoro Bandung itu sebenarnya udah kelar jam 5 sore WIB pada Senin, 1 September 2025. Nah, sekitar jam 17.20 WIB, korban-korban demo mulai berdatangan ke kampus Unisba buat dapet perawatan. Posko kesehatan ini tutup jam 9 malam WIB. “Ada yang sesak napas dan lemas, udah kami bantu tangani sampai dijemput keluarganya,” jelas Harits.

Eits, dramanya enggak berhenti sampai situ. Setelah posko tutup, sekitar jam 21.30 WIB sampai dinihari, kerusuhan justru pecah di depan kampus. Menurut Harits, setelah massa demo bubar, ada gerombolan yang masih nongkrong dan ngeblokir jalan. Mulai dari sekitar Taman Radio, Purnawarman, Hariangbanga (Ranggagading), sampai Jalan Tamansari di antara kampus Unisba dan Universitas Pasundan (Unpas) yang lokasinya sebelahan. “Gerombolan itulah yang jadi pemicu utama, yang di medsos dibilang aparat polisi menyerang kampus Unisba,” bebernya.

Akhirnya, polisi melakukan sweeping buat bubarin massa. Alhasil, massa malah lari tunggang langgang ke dalam kampus Unisba. “Mereka loncat pagar dan ngebuka paksa gerbang utama Unisba,” kata Harits. Dia juga enggak menampik kalau sebagian dari massa itu ada mahasiswa Unisba yang kebetulan baru pulang setelah posko kesehatan kampus tutup. “Tidak menutup kemungkinan ada mahasiswa Unisba di antaranya,” imbuhnya.

Soal tembakan gas air mata, Rektor memaknai itu sebagai upaya untuk ngurai massa yang bergerombol. Kemudian, Rektorat Unisba langsung gerak cepat, mereka melakukan sweeping di dalam kampus mulai pukul 01.00-04.00 WIB Selasa dinihari, 2 September 2025. “Ada orang luar di dalam kampus itu, ya kita suruh pulang,” katanya.

Insiden ini udah dilaporkan Unisba ke Gubernur Jawa Barat, Wali Kota Bandung, sampai Menteri Pendidikan Tinggi. Namun, di sisi lain, President Mahasiswa Unisba, Kamal Rahmatullah, punya versi yang beda. Menurut Kamal, mahasiswa Unisba ngalamin serangan brutal dari aparat gabungan TNI dan Polri. Kata dia, insiden ini bahkan sampai masuk ke area kampus, padahal secara hukum, area kampus itu seharusnya steril dari intervensi aparat bersenjata.

Tapi, pas ditanya wartawan apakah aparat beneran nembakin gas air mata sampai masuk banget ke dalam kampus, Kamal ngasih klarifikasi penting. “Kalau sampai masuk banget ke dalam kampus itu enggak, ada cuma sampai depan gerbang,” tegasnya. Jadi, intinya beda tipis tapi krusial banget buat narasi yang beredar.

Ringkasan

Rektor Unisba, A. Harits Nu’man, mengklarifikasi tudingan bahwa polisi masuk dan “ngamuk” di kampus saat kerusuhan 1 September 2025. Ia menyatakan tidak melihat aparat berpakaian preman memasuki area kampus, melainkan demonstran yang di-sweeping masuk. Rektor memantau kejadian dari gedung rektorat dan kampus dalam keadaan libur semester, namun tetap membuka posko layanan kesehatan dan evakuasi korban demonstrasi.

Demonstrasi di depan gedung DPRD Jawa Barat telah selesai sore hari, namun kerusuhan pecah di depan kampus Unisba pada malam hari. Polisi melakukan sweeping untuk membubarkan massa yang memblokir jalan, menyebabkan massa lari ke dalam kampus Unisba. Rektorat Unisba melakukan sweeping di dalam kampus dini hari dan melaporkan insiden ini ke berbagai pihak terkait, meskipun President Mahasiswa Unisba memiliki versi yang berbeda.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan