Menu

Mode Gelap
JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik Persaingan Makin Ketat, SD Swasta Sidoarjo Siapkan Strategi Penerimaan Murid Baru Tebar Kurma dan Imsakiyah, Yayasan Bina Insan Muslim Gaungkan Syiar Ramadan

Liputan

Pengusaha Nggak Mau Ekspansi? Ini 5 Alasan Jujurnya!

badge-check


					Pengusaha Nggak Mau Ekspansi? Ini 5 Alasan Jujurnya! Perbesar

Shinta Kamdani, bos besar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), curhat kalau sekarang ini banyak pengusaha lagi pilih mode “tahan dulu ekspansi”. Katanya sih, biang kerok utamanya ada di sisi permintaan pasar yang lagi lesu.

“Banyak sektor penting kayak manufaktur, properti, sama retail itu permintaannya masih melempem banget,” terang Shinta ke Tempo pada Rabu, 17 September 2025.

Doi nambahin, tantangan ekspansi usaha ini makin nyata gara-gara fenomena middle-class squeeze alias kelas menengah yang makin kejepit. Padahal, daya beli mereka ini lho yang selama ini jadi motor utama buat mendongkrak permintaan domestik.

Belum lagi, kata Shinta, dunia usaha juga mikir keras soal biaya modal. Gimana nggak? Bunga kredit perbankan di Indonesia itu masih tergolong tinggi dibanding negara tetangga di ASEAN. Ini jelas bikin margin keuntungan pengusaha jadi ‘tergerus’. Bayangin aja, bunga kredit modal kerja di sini masih di angka 9-12 persen per tahun, sementara Malaysia dan Thailand jauh di bawah itu. Nggak heran pengusaha jadi auto-mikir dua kali.

Parahnya lagi, Bank Indonesia (BI) emang nyatet kalau suku bunga kredit perbankan turun tipis banget, cuma 7 basis poin. Dari 9,20 persen di awal 2025, jadi 9,13 persen di Agustus 2025. Padahal, dari Januari sampai 17 September 2025, suku bunga acuan atau BI-Rate udah dipangkas 125 basis poin! Kok bisa beda jauh gitu, ya?

Shinta menegaskan, dunia usaha emang butuh banget insentif investasi biar geraknya makin cepet. Tapi, yang nggak kalah penting itu lho, pembenahan struktural! Dia jelasin, kalo mau ngebut soal investasi, pemerintah kudu motong rantai biaya tinggi yang bikin nyesek dan nyederhanain birokrasi plus regulasi.

“Dunia usaha kita sekarang lagi dihadapkan sama high-cost yang luas dan menyeluruh. Biaya buat bisnis di sini itu jauh lebih mahal dibanding negara tetangga,” keluh Shinta. “Contohnya aja, biaya logistik, biaya energi, sampai biaya kepatuhan yang ribet dari birokrasi.” Ini PR banget, kan?

Apindo sendiri ngasih jempol buat kebijakan pemerintah yang udah naruh dana Rp 200 triliun di bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan juga ngeluarin paket ekonomi 8+4+5. Tapi nih, Shinta punya wanti-wanti: pemerintah harus mastiin kalau dana segede itu bener-bener nyampe ke dunia usaha, bukan cuma muter-muter di sektor keuangan doang. Biar efeknya berasa ke sektor riil!

Penempatan dana Rp 200 triliun di bank BUMN ini sendiri adalah strategi jitu dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Tujuannya jelas, buat ngedorong penyaluran kredit biar bisa nge-boost pertumbuhan sektor riil. Lima bank yang ketiban rezeki ini antara lain Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Eh, tapi Purbaya sempet curhat lho, kalo beberapa direktur perbankan awalnya nolak nerima dana transferan ini. Kata Purbaya, angka Rp 200 triliun itu kegedean banget kalo cuma dibagi ke lima bank. “Bank bilang cuma sanggup nyerap Rp 7 triliun. Saya bilang, ‘Enak aja, kasih ke sana semua, biar mereka mikir!’,” ujar Purbaya dengan nada tegas saat konferensi pers di Istana Kepresidenan yang dipantau daring pada Senin, 15 September 2025. Wuidih, Bapak Menkeu nggak main-main!

Nah, kalo ngomongin paket ekonomi 8+4+5, ini isinya delapan program ngebut buat pembangunan di 2025, empat program lanjutan buat 2026, dan lima program jagoan buat nyerap tenaga kerja. Stimulus-stimulusnya juga lumayan bikin lega, kayak perluasan Pajak Penghasilan 21 (PPh 21) yang ditanggung pemerintah buat pekerja di sektor pariwisata, bantuan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) buat pekerja non-upah, plus insentif PPh 21 buat industri padat karya. Komplit banget, kan?

Dari total dana Rp 200 triliun itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI langsung gercep janji bakal ngoptimalin dana Rp 55 triliun buat disalurin jadi kredit ke sektor-sektor produktif. Gas!

Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, bilang kalo tambahan likuiditas dari kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ini bakal ngasih ruang gerak yang lebih luas buat BNI. Jadi, mereka bisa makin jor-joran nyalurin kredit yang sejalan sama agenda pembangunan nasional.

“Penempatan dana ini adalah bentuk kepercayaan pemerintah ke BNI, guys. Dengan suntikan Rp 55 triliun ini, kapasitas pembiayaan kita bakal makin gede buat support sektor-sektor produktif,” kata Okki lewat keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin, 15 September 2025. Keren, kan?

Pilihan Editor: Efektifkah Mengguyur Bank Rp 200 Triliun buat Menggenjot Ekonomi

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan