
Ada update terbaru dari dunia BUMN Karya nih! Direktur Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) akhirnya buka-bukaan soal progres penggabungan alias merger BUMN Karya yang sudah lama jadi perbincangan. Ini bukan main-main, karena ada tujuh raksasa konstruksi pelat merah yang terlibat: Adhi Karya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero), PT PP (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Perseo) Tbk., PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero). Kedengaran rumit? Memang!

Entus Asnawi, sang Direktur Utama Adhi Karya, bilang kalau proses merger BUMN Karya ini masih menunggu lampu hijau dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Tapi tenang, Adhi Karya sendiri sudah ancang-ancang lho. Mereka lagi sibuk menyiapkan berbagai hal, termasuk proyeksi masa depan untuk masing-masing entitas yang bakal kena dampak merger ini. Jadi, sambil menunggu keputusan Danantara, semua pihak berusaha seoptimal mungkin.
“Saat ini memang kami sedang melakukan persiapan-persiapan berbagai hal, termasuk proyeksi-proyeksi kami ke depan untuk masing-masing entitas. Memang kami sedang menunggu keputusan dari Danantara bagaimana nantinya,” ungkap Entus dalam acara public expose virtual pada Senin, 8 September 2025. Proses ini memang agak ‘ribet’ karena beberapa BUMN Karya, seperti Adhi Karya, adalah perusahaan terbuka (Tbk).
Entus juga menyinggung poin penting: ada perusahaan Tbk dan non-Tbk yang terlibat dalam integrasi ini. Makanya, kalau yang Tbk, prosesnya bakal lebih panjang. “Karena di dalam integrasi ini ada perusahaan Tbk. yang terbuka seperti Adhi Karya dan lainnya, kemudian ada juga yang bukan Tbk,” jelasnya. Kenapa lebih lama? Karena perusahaan terbuka itu terkait dengan banyak pihak di luar internal, jadi urusannya lebih kompleks dan butuh koordinasi ekstra. Bukan cuma setuju-setujuan aja, tapi ada banyak regulasi dan pemangku kepentingan yang harus dipertimbangkan.
Di sisi lain, tidak bisa dimungkiri kalau sejumlah BUMN Karya saat ini sedang menghadapi situasi yang tidak mudah. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dari Danantara itu penting banget. Ibaratnya, ini bukan cuma pilihan, tapi sudah jadi ‘kepastian’ untuk memperbaiki kondisi perusahaan ke depannya. Baik dari segi keuangan, persaingan, sampai optimalisasi kompetensi masing-masing perusahaan. “Kebetulan juga ada situasi-situasi berat di antara kami yang ini juga harus mendapatkan dukungan-dukungan dalam bentuk kebijakan dan keputusan dari Danantara,” katanya.
“Bagaimana kami bisa memperbaiki ke depan. Misalnya dari sisi keuangan, kemudian dari sisi persaingan, kemudian dari sisi pengelolaan kompetensi-kompetensi yang tadi kami miliki, khususnya yang ada di Adhi Karya,” tambah Entus, menegaskan bahwa merger ini adalah langkah strategis untuk keberlanjutan. Ini menunjukkan bahwa restrukturisasi ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kinerja dan daya saing.
Jauh sebelum ini, Menteri BUMN Erick Thohir sudah pernah kasih sinyal. Beliau menyebutkan bahwa tujuh perusahaan pelat merah ini bakal disederhanakan menjadi badan usaha di bawah tiga induk perusahaan. Bagi Erick Thohir, integrasi ini adalah upaya kementerian untuk menyehatkan dan membangun keahlian spesifik di setiap BUMN. Ini bagian dari strategi besar untuk efisiensi dan spesialisasi, agar setiap BUMN bisa fokus dan lebih kompeten di bidangnya.
Menurut Erick Thohir, merger tujuh BUMN Karya ini adalah bagian dari restrukturisasi yang sudah lama direncanakan dan nggak akan mengganggu proyek-proyek yang sedang berjalan. Jadi, para kontraktor dan pihak terkait tidak perlu khawatir. “Ini hanya bagian kami merestrukturisasi, tidak akan mengganggu penugasan dan percepatan (proyek),” tegasnya di Kementerian BUMN, Jakarta, pertengahan November 2024 lalu, seperti dikutip Antara. Intinya, restrukturisasi BUMN Karya ini adalah langkah maju untuk masa depan yang lebih baik, tanpa mengorbankan proyek-proyek penting yang sedang dikerjakan.
Pilihan Editor: Proyeksi Ekonomi Setelah Demonstrasi








