Menu

Mode Gelap
JSIT Bojonegoro Audiensi dengan Bupati, Perkuat Sinergi Pendidikan Hari Kedua TKA, Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Tersenyum Usai Ujian Bahasa Indonesia Menaklukkan Matematika di Hari Pertama TKA, Ini Perjuangan Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Siswa SMP PGRI 6 Surabaya Asah Kreativitas Lewat Teknik Mewarnai Batik Persaingan Makin Ketat, SD Swasta Sidoarjo Siapkan Strategi Penerimaan Murid Baru Tebar Kurma dan Imsakiyah, Yayasan Bina Insan Muslim Gaungkan Syiar Ramadan

Liputan

KUR Perumahan 2024: Syarat Mudah, Rumah Impian Jadi Nyata!

badge-check


					KUR Perumahan 2024: Syarat Mudah, Rumah Impian Jadi Nyata! Perbesar

Kementerian Perumahan dan Pengembangan Kawasan (PKP) lagi bikin gebrakan nih, guys! Mereka resmi menetapkan kebijakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus Perumahan dengan total nilai yang gak main-main, Rp 130 triliun. Ini bukan sekadar angka, tapi angin segar buat sektor perumahan dan UMKM di Tanah Air.

Program subsidi kredit ini punya dua sasaran utama. Sebagian besar, sekitar Rp 117 triliun, bakal dialirkan buat UMKM pengembang perumahan. Tujuannya jelas, biar pasokan rumah makin banyak dan terjangkau. Nah, sisa Rp 13 triliun lagi disiapkan khusus untuk UMKM yang butuh rumah sebagai lokasi usaha mereka. Jadi, buat yang punya usaha tapi masih bingung cari tempat, ini bisa jadi solusi.

Sekretaris Jenderal Kementerian PKP, Didyk Choiroel, menjelaskan bahwa semua UMKM yang mau ikutan program KUR Perumahan ini punya batas maksimal modal Rp 10 miliar dan omzet gak lebih dari Rp 50 miliar. Ini memastikan bantuan tepat sasaran ke UMKM yang memang butuh dukungan.

Soal plafon kreditnya, tentu disesuaikan dengan kebutuhan. Buat UMKM di bidang real estate alias pengembang perumahan, bisa dapat plafon antara Rp 500 juta sampai Rp 5 miliar per UMKM. Sementara itu, untuk UMKM yang cuma butuh rumah sebagai lokasi usaha, plafonnya di kisaran Rp 10 juta hingga Rp 500 juta. Lumayan banget kan buat gaspol usahanya?

Didyk sendiri berharap, dengan adanya KUR Perumahan ini, pasokan perumahan di dalam negeri bisa makin banyak, lapangan kerja baru ikut terbuka, dan risiko penyaluran kredit ke program perumahan jadi lebih terkendali. “KUR Perumahan pada akhirnya dicanangkan menambah pasokan perumahan, menambah lapangan kerja, dan lebih mengendalikan risiko penyaluran kredit ke seluruh program perumahan di dalam negeri,” kata Didyk pada Senin (8/9) di Wisma Danantara Indonesia.

Nah, biar gak salah langkah, ada beberapa syarat dokumen yang wajib dipenuhi oleh setiap UMKM yang pengen dapetin KUR Perumahan ini:

  • Punya usaha yang produktif, bukan sekadar angan-angan.
  • Wajib punya Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
  • Punya Nomor Izin Berusaha (NIB), biar usahanya legal.
  • Gak ada catatan buruk atau informasi negatif dari perbankan (alias BI Checking aman).
  • Belum pernah nerima KUR jenis lainnya.
  • Dan yang penting, gak sedang nerima bantuan pemerintah lainnya.

Didyk juga menambahkan, UMKM harus bisa membuktikan kalau usaha mereka sudah berjalan minimal 6 bulan. Tapi tenang, buat UMKM yang sebelumnya sudah punya kredit komersial, tetep berhak kok buat dapetin KUR Perumahan ini. Jadi, gak usah khawatir terhambat.

Spesifik untuk UMKM pengembang perumahan, mereka bisa mengajukan KUR Perumahan maksimal sampai Rp 20 miliar dengan akad paling banyak empat kali. Sedangkan buat UMKM individu (mungkin yang masuk kategori butuh rumah sebagai lokasi usaha), plafon maksimumnya Rp 500 juta dengan maksimal satu akad saja.

Ada satu perbedaan mencolok nih sama KUR umum. Kalau KUR Perumahan, agunan alias jaminan berupa objek usaha yang dibiayai itu sifatnya wajib. Beda sama KUR umum yang gak mewajibkan agunan kalau plafonnya di bawah Rp 100 juta. Tapi, buat UMKM pengembang perumahan, mereka bisa memilih buat gak menyertakan penjaminan asalkan nilai agunannya sama dengan plafon KUR Perumahan yang didapat. Beda lagi dengan UMKM yang pakai KUR Perumahan buat lokasi usaha, mereka wajib banget menyertakan penjaminan. Jadi, perhatikan baik-baik ya peraturannya.

Enaknya lagi, pemerintah juga ngasih subsidi bunga yang lumayan ringan. Kalau KUR Perumahan yang disalurkan lebih dari Rp 100 juta, subsidi bunganya sekitar 5%. Nah, kalau plafonnya antara Rp 10 juta sampai Rp 100 juta, subsidi bunganya bahkan mencapai 10%! Ini bikin cicilan jauh lebih ringan pastinya.

Urusan tenor alias waktu pelunasan juga beda-beda. Buat pengembang perumahan, tenornya bisa sampai 4 tahun kalau dipakai sebagai modal kerja, dan sampai 5 tahun kalau buat investasi. Sementara itu, UMKM yang memanfaatkan KUR Perumahan untuk pengembangan lokasi usaha bisa dapet masa tenggang maksimum 5 tahun. Artinya, tenor mereka bisa lebih dari 5 tahun, tapi perlu diingat kalau subsidi bunga hanya berlaku selama 5 tahun ya. Pokoknya, program ini beneran didesain buat ngasih kemudahan dan dukungan maksimal ke sektor UMKM dan perumahan. Jangan sampai ketinggalan infonya!

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rural Class SMAIT Insan Cemerlang Bondowoso: Empowering Character Building

23 Januari 2026 - 21:30 WIB

34 Guru TIK Surabaya Utara Disiapkan Hadapi Era Digital, Kelas Kini Lebih Berkualitas

22 Januari 2026 - 21:15 WIB

Dorong Pendidikan Vokasi, JSIT Jatim Kunjungi BPVP Sidoarjo

22 Januari 2026 - 12:26 WIB

Silaturahmi di Tepi Laut, Kepala SMP Swasta Surabaya Utara Siap Hadapi Tantangan Pendidikan

20 Januari 2026 - 20:39 WIB

Coach Feri INALEAD Bekali Guru SIT Ponorogo tentang Kepemimpinan dan Personal Growth

19 Januari 2026 - 13:45 WIB

Trending di Liputan